Lapar yang Berlipat Ganda

Masih menyusui dan mencoba kembali berolahraga ternyata bukanlah hal yang mudah untuk saya. Para ibu yang sedang menyusui, tentu paham benar apa yang dirasakan setelah menyusui.

 

Rasa lapar mudah datang bagi ibu menyusui. Bisa dibayangkan, saya yang memang hobi nyemil dan menyusui. Kombinasi yang pas untuk mengundang para lemak datang. Meskipun rasa lapar tidak separah saat masih menyusui eksklusif.

Mendekati usia 1 tahun Cinta, saya memutuskan untuk lebih banyak bergerak. Salahsatunya berjalan-jalan sore. Meskipun hanya mengelilingi kampung. Tapi jalanan yang menanjak dan berkelok, ditambah membawa beban hidup bayi, cukup membuat nafas ngos-ngosan.

Cinta sengaja saya gendong dibelakang agar ia bisa melihat-lihat pemandangan sekitar tanpa harus menoleh. Di sepanjang jalan-jalan, tak henti-hentinya ia mengoceh. Ini saya manfaatkan untuk mengenalkan lebih banyak lagi tentang sekitar.

Begitu malam tiba, rasa lapar mulai terasa lebih berat dari biasanya. Bahkan saya bersihl menghabiskan satu kotak makanan hantaran aqiqah, separuh bungkus mie goreng, separuh terang bulan keju, dan seperempat martabak. Kalori yang sudah dibakar sore tadi terasa sia-sia. **nangis dipojokkan** .

Saya belum kapok untuk tetap bergerak lebih aktif. Tapi, saya perlu lebih keras mengingatkan diri ketika rasa lapar melanda setelah berolahraga.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar