Review Teka-Teki Rumah Aneh: Tidak Seram, tetapi Bikin Penasaran

Sebuah denah rumah yang terlihat biasa ternyata menyimpan banyak kejanggalan. Teka-Teki Rumah Aneh tidak terlalu menyeramkan, tetapi berhasil membuatku ingin terus membaca hingga halaman terakhir.

Sebuah email rekomendasi buku minggu ini tak sengaja aku buka dari Gramedia.com. Biasanya, email rekomendasi buku selalu aku abaikan karena buku-buku yang direkomendasikan tidak sesuai dengan kriteria bacaan yang aku suka.

Namun, judul buku Teka-Teki Rumah Aneh tiba-tiba menarik perhatianku.

Kok agak serem, ya!

Sampul buku Teka-Teki Rumah Aneh karya Uketsu
Lanjutkan membaca “Review Teka-Teki Rumah Aneh: Tidak Seram, tetapi Bikin Penasaran”

Review Buku Aku yang Telah Lama Hilang : Ketika Ketakutan Ternyata Hanya Ada di Dalam Kepala

Review buku Aku yang Telah Lama Hilang karya Nago Tejana. Sebuah buku psikologi yang mengajak pembaca mengenali diri sendiri, berdamai dengan ketakutan, dan memahami kesehatan mental.

Aku yang Telah Lama Hilang adalah buku karya Nago Tejana, M.Psi., Psikolog. Sebelumnya aku sempat melihat buku ini di deretan etalase Gramedia. Tertarik? Dari judulnya sih iya. Tapi kalau melihat cover depannya, justru tidak terlalu.

Kenapa? Karena covernya menampilkan seorang pria berdasi yang sedang menenteng tas kerja. Dari raut wajahnya terlihat begitu lelah.

Lanjutkan membaca “Review Buku Aku yang Telah Lama Hilang : Ketika Ketakutan Ternyata Hanya Ada di Dalam Kepala”

Review Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya : Belajar Memproses Emosi dengan Sadar

Review buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya karya dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Buku psikologi yang mengajak pembaca belajar memproses emosi dan menyadari setiap pilihan dalam hidup.

Melanjutkan buku sebelumnya yang berjudul Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, kali ini aku membaca buku kedua berjudul Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya. Gak salah baca kok, judulnya memang sepanjang itu. Jika sebelumnya aku merasa seperti bergabung di klub berduka, di buku kedua ini aku belajar untuk memproses emosi.

Di awal-awal buku, aku tertarik dengan bagian yang menjelaskan bahwa manusia punya kemampuan berdiskusi dengan dirinya sendiri. Aku menyadari bahwa selama ini aku memang sering mengajak ngobrol diri sendiri. Hanya saja, pertanyaan yang aku ajukan ke diri sendiri sering kali tidak terarah. Ha-ha.

Belajar memproses emosi lewat buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya karya dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ.
Lanjutkan membaca “Review Buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya : Belajar Memproses Emosi dengan Sadar”

Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring – dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ : Duka, Rindu, dan Kehilangan yang Tetap Tinggal

Sebuah buku tentang duka, penerimaan, dan cara hidup berdampingan dengan kehilangan.

“Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring”, judul buku ini kerap menarik perhatianku setiap kali ke Gramedia. Kok judulnya panjang banget ya? Pikirku saat itu.

Suatu hari, seorang pecinta buku membuat konten tentang buku-buku yang sudah ia baca dan konten itu lewat di explore Instagramku. Buku tersebut adalah salah satunya.

“Gak bakal nyesel deh habis baca buku ini,” komentarnya saat itu.

Lanjutkan membaca “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring – dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ : Duka, Rindu, dan Kehilangan yang Tetap Tinggal”

Review Quite Love – Yoga Arizona

Quite Love karya Yoga Arizona terasa seperti membuka halaman-halaman diary seorang suami. Setiap konflik selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.

Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan begitu saja di rak. Ada juga buku yang membuat kita berhenti sejenak, lalu memikirkan banyak hal setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Quite Love termasuk dalam kategori yang kedua.

Nama Yoga Arizona tentu bukan nama yang asing. Ia salah satu influencer yang cukup sering berseliweran di beranda Instagramku. Konten mini dramanya mungkin menjadi salah satu yang paling sering muncul. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku sudah mengikuti Yoga bahkan sejak sebelum menikah.

Quite Love adalah salah satu karya lain dari Yoga. Sebuah buku yang tampaknya memang diniatkan sejak jauh-jauh hari dan ditulis dengan sepenuh hati.

Konflik diri, rumah tangga atau apapun itu, selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Lanjutkan membaca “Review Quite Love – Yoga Arizona”

Rutinitas Pagi

Rutinitas pagi sederhana yang membantu seorang ibu menikmati waktu sendiri, menjaga energi, dan menjalani hari dengan lebih tenang.

Menjadi ibu membuatku memahami satu hal: ternyata waktu tenang itu terasa sangat mewah. Bukan karena sulit dicari, tapi karena hampir setiap waktu selalu ada yang membutuhkan perhatian kita.

Mungkin itu sebabnya banyak ibu memilih menikmati kesunyian di waktu-waktu yang tidak biasa. Ada yang begadang setelah anak-anak tidur, ada yang menikmati kopi di ruang tengah, dan ada juga yang memilih bangun jauh lebih pagi sebelum rumah mulai ramai.

Lalu apakah itu berlaku buatku? Hmm, tampaknya tidak. Sepertinya, aku termasuk tipe yang terakhir.

Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi”

Rutinitas Pagi yang Sederhana

Ada ibu-ibu yang bangun lebih pagi bukan karena tidak mengantuk, tapi karena itu satu-satunya waktu tenang yang mereka punya. Saat rumah masih sunyi. Saat belum ada yang memanggil “Buuuu…”. Saat isi kepala belum seramai biasanya.

Dan ternyata, kebiasaan itu banyak sekali dilakukan para ibu. Salah satunya tanteku. Sejak kecil aku memang tahu tante termasuk orang yang rajin. Tapi aku baru benar-benar menyadari rutinitasnya setelah aku dan keluargaku pindah ke rumah sebelah. Hampir setiap dini hari, samar-samar terdengar suara cetekan kompor dari dapurnya.

Awalnya aku penasaran. Di pagi harinya, sesaat sebelum tante berangkat kerja, aku bertanya apa yang ia lakukan sepagi itu.

 

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar memahami bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi yang Sederhana”

Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?

Dulu, aku selalu membayangkan menjadi ibu adalah hal yang menyenangkan. Sebagai perempuan yang memang menyukai anak-anak, aku senang berada di dekat mereka. Rasanya ramai, hangat, dan menyenangkan. Bahkan sejak sebelum menikah, aku sering membawa pulang keponakan atau sepupu kecil ke rumah. Istilahnya “menculik” mereka sebentar untuk menemaniku bermain.

Mereka sih happy-happy aja. Ibu dan tanteku juga tampak santai saja saat anak-anaknya aku bawa pulang.

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar menerima bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?”

Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha

“Buku ini tidak membuatku berlari lebih cepat, tapi membuatku menjalani hari dengan lebih sadar.”

Buku yang Membuatku Lebih Sadar Menjalani Hari

Ada beberapa orang di sosial media yang rasanya menyenangkan untuk diikuti. Bukan karena hidupnya terlihat sempurna, tapi karena cara mereka berbagi terasa hangat dan dekat. 

Salah satunya adalah Cut Vivia Talitha. Aku mengenalnya lewat kalimat khasnya,
“Selamat datang di luar kelas.” Dan memang, dari sana aku merasa sedang diajak belajar banyak hal di luar sekolah, di luar teori, dan di luar hal-hal yang selama ini terasa biasa saja.

Vivia cukup sering membagikan buku-buku yang ia baca. Dan entah sejak kapan, gara-gara itu juga aku mulai tertarik membaca buku selain novel. Makanya sejak akhir tahun lalu, aku mulai banyak melirik buku-buku tentang psikologi.

Buku Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping karya Cut Vivia Talitha. Tentang coping mechanism, lelah yang tidak disadari, dan belajar menjalani hari dengan lebih sadar.
Lanjutkan membaca “Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha”

Obrolan Sederhana Generasi Alpha

Ada hal-hal kecil yang baru terasa maknanya ketika kita sudah melewati beberapa fase. Dulu, terasa biasa saja. Sekarang, kok jadi punya cerita.

Membandingkan zaman dulu dan sekarang, tentu saja akan jauh berbeda. Yang sangat aku ingat adalah aku tidak pernah sekalipun membawa bekal ke sekolah. Kecuali saat jalan-jalan mendekati hari pembagian rapor.

Seingatku pun teman-temanku juga begitu. Kami lebih memilih jajan di kantin sekolah atau, kalau lagi malas, ya menahan lapar saja.

Lanjutkan membaca “Obrolan Sederhana Generasi Alpha”