Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring – dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ : Duka, Rindu, dan Kehilangan yang Tetap Tinggal

Sebuah buku tentang duka, penerimaan, dan cara hidup berdampingan dengan kehilangan.

“Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring”, judul buku ini kerap menarik perhatianku setiap kali ke Gramedia. Kok judulnya panjang banget ya? Pikirku saat itu.

Suatu hari, seorang pecinta buku membuat konten tentang buku-buku yang sudah ia baca dan konten itu lewat di explore Instagramku. Buku tersebut adalah salah satunya.

“Gak bakal nyesel deh habis baca buku ini,” komentarnya saat itu.

Lanjutkan membaca “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring – dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ : Duka, Rindu, dan Kehilangan yang Tetap Tinggal”

Review Quite Love – Yoga Arizona

Quite Love karya Yoga Arizona terasa seperti membuka halaman-halaman diary seorang suami. Setiap konflik selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.

Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan begitu saja di rak. Ada juga buku yang membuat kita berhenti sejenak, lalu memikirkan banyak hal setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Quite Love termasuk dalam kategori yang kedua.

Nama Yoga Arizona tentu bukan nama yang asing. Ia salah satu influencer yang cukup sering berseliweran di beranda Instagramku. Konten mini dramanya mungkin menjadi salah satu yang paling sering muncul. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku sudah mengikuti Yoga bahkan sejak sebelum menikah.

Quite Love adalah salah satu karya lain dari Yoga. Sebuah buku yang tampaknya memang diniatkan sejak jauh-jauh hari dan ditulis dengan sepenuh hati.

Konflik diri, rumah tangga atau apapun itu, selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Lanjutkan membaca “Review Quite Love – Yoga Arizona”

Rutinitas Pagi

Rutinitas pagi sederhana yang membantu seorang ibu menikmati waktu sendiri, menjaga energi, dan menjalani hari dengan lebih tenang.

Menjadi ibu membuatku memahami satu hal: ternyata waktu tenang itu terasa sangat mewah. Bukan karena sulit dicari, tapi karena hampir setiap waktu selalu ada yang membutuhkan perhatian kita.

Mungkin itu sebabnya banyak ibu memilih menikmati kesunyian di waktu-waktu yang tidak biasa. Ada yang begadang setelah anak-anak tidur, ada yang menikmati kopi di ruang tengah, dan ada juga yang memilih bangun jauh lebih pagi sebelum rumah mulai ramai.

Lalu apakah itu berlaku buatku? Hmm, tampaknya tidak. Sepertinya, aku termasuk tipe yang terakhir.

Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi”

Rutinitas Pagi yang Sederhana

Ada ibu-ibu yang bangun lebih pagi bukan karena tidak mengantuk, tapi karena itu satu-satunya waktu tenang yang mereka punya. Saat rumah masih sunyi. Saat belum ada yang memanggil “Buuuu…”. Saat isi kepala belum seramai biasanya.

Dan ternyata, kebiasaan itu banyak sekali dilakukan para ibu. Salah satunya tanteku. Sejak kecil aku memang tahu tante termasuk orang yang rajin. Tapi aku baru benar-benar menyadari rutinitasnya setelah aku dan keluargaku pindah ke rumah sebelah. Hampir setiap dini hari, samar-samar terdengar suara cetekan kompor dari dapurnya.

Awalnya aku penasaran. Di pagi harinya, sesaat sebelum tante berangkat kerja, aku bertanya apa yang ia lakukan sepagi itu.

 

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar memahami bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi yang Sederhana”

Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?

Dulu, aku selalu membayangkan menjadi ibu adalah hal yang menyenangkan. Sebagai perempuan yang memang menyukai anak-anak, aku senang berada di dekat mereka. Rasanya ramai, hangat, dan menyenangkan. Bahkan sejak sebelum menikah, aku sering membawa pulang keponakan atau sepupu kecil ke rumah. Istilahnya “menculik” mereka sebentar untuk menemaniku bermain.

Mereka sih happy-happy aja. Ibu dan tanteku juga tampak santai saja saat anak-anaknya aku bawa pulang.

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar menerima bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?”

Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha

“Buku ini tidak membuatku berlari lebih cepat, tapi membuatku menjalani hari dengan lebih sadar.”

Buku yang Membuatku Lebih Sadar Menjalani Hari

Ada beberapa orang di sosial media yang rasanya menyenangkan untuk diikuti. Bukan karena hidupnya terlihat sempurna, tapi karena cara mereka berbagi terasa hangat dan dekat. 

Salah satunya adalah Cut Vivia Talitha. Aku mengenalnya lewat kalimat khasnya,
“Selamat datang di luar kelas.” Dan memang, dari sana aku merasa sedang diajak belajar banyak hal di luar sekolah, di luar teori, dan di luar hal-hal yang selama ini terasa biasa saja.

Vivia cukup sering membagikan buku-buku yang ia baca. Dan entah sejak kapan, gara-gara itu juga aku mulai tertarik membaca buku selain novel. Makanya sejak akhir tahun lalu, aku mulai banyak melirik buku-buku tentang psikologi.

Buku Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping karya Cut Vivia Talitha. Tentang coping mechanism, lelah yang tidak disadari, dan belajar menjalani hari dengan lebih sadar.
Lanjutkan membaca “Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha”

Keluarga yang Lebih Seru, atau Kita yang Lebih Sering Bersama?

Bagaimana anak melihat keluarga “lebih seru” dan bagaimana kedekatan, waktu, serta pola asuh membentuk hubungan dalam keluarga.

Ada satu momen sederhana, tapi cukup membuatku berpikir lama.

“Mah, ternyata benar ya… kontennya orang yang bilang kalau keluarga mamah lebih asyik daripada keluarga papah.” Cinta bilang itu dengan nada santai. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa cukup dalam.

“Oh ya? Mamah pernah lihat sih konten itu. Memangnya benar?” tanyaku.

“Iya mah. Coba deh, kakak-kakak, abang, ibu, ayah, bunda, umi, abi… semua asyik. Bahkan mbah Budi yang jarang ketemu juga seru,” jelasnya panjang lebar.

“Hmmm… iya sih ya,” jawabku pelan.

Lanjutkan membaca “Keluarga yang Lebih Seru, atau Kita yang Lebih Sering Bersama?”

Tol IKN: Jalan Baru, Pengalaman Baru

Pengalaman pertama melewati Tol IKN saat arus mudik 2026. Perjalanan menuju PPU dengan pemandangan hutan hijau dan Jembatan Satwa yang unik.

Kadang sebuah perjalanan menjadi menarik bukan karena tujuannya, tetapi karena jalur yang kita lewati.

Beberapa hari lalu, sebuah pengumuman lewat di beranda Instagramku :

“Jalan tol IKN resmi dibuka secara fungsional terbatas untuk mendukung kelancaran arus mudik Idul Fitri 1447 H/2026.”

Tidak lama berselang, akun Instagram Kaltim Post juga memposting rute tol IKN yang bisa dilewati pengguna kendaraan roda empat.

Belum sempat aku banyak berpikir, ibuku tiba-tiba mengirim pesan.

“De, kalau ke seberang lewat tol aja.” Sepertinya ibu juga melihat postingan yang sama.

Lanjutkan membaca “Tol IKN: Jalan Baru, Pengalaman Baru”

Serial yang Selalu Kutonton Lagi (dan Lagi)

Daftar 7 serial favorit yang selalu aku tonton berulang-ulang, dari Criminal Minds hingga Station 19. Tontonan lama yang selalu kurindukan.

Ada kalanya kita tidak sedang mencari tontonan baru. Bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena ada cerita yang terasa begitu akrab. Seperti pulang ke rumah sendiri.

Prompt dari Jetpack kali ini langsung menarik perhatianku:

Apa saja film atau serial televisi yang sudah Anda tonton lebih dari 5 kali?

Pertanyaan itu membuatku tersenyum sendiri. Karena sejujurnya, aku memang termasuk orang yang suka mengulang-ulang menonton film atau serial. Ada sesuatu yang menenangkan saat kembali pada cerita yang sudah kita kenal alurnya.

Berbeda dengan mbakku yang selalu update dengan serial terbaru di Netflix. Sementara aku? Rasanya masih saja betah berlama-lama di dunia Disney+. Ha-ha.

Karena pertanyaan itu, aku mencoba mengingat-ingat lagi: serial apa saja yang sampai sekarang masih sering kuputar ulang? Dan inilah daftarnya.

1. Criminal Minds

Serial ini sudah kutonton sejak zaman SMA. Biasanya sambil menyetrika baju. Ha-ha.

Dari dulu aku selalu kagum dengan sosok Reid Spancer. Ia adalah anggota tim paling muda, tapi juga yang paling jenius. Cara berpikirnya sering melompat jauh ke depan, meskipun kadang sisi kekanak-kanakannya masih terlihat.

Yang membuat serial ini menarik adalah dinamika timnya. Mereka bukan hanya sekadar rekan kerja, tapi juga saling menjaga satu sama lain.

Di musim-musim akhir barulah terungkap bahwa Reid dan Jennifer Jareau sebenarnya saling mencintai, tetapi mereka memilih menjaga profesionalitas dan persahabatan.

Serial ini benar-benar tidak pernah membuatku bosan. Bayangkan saja, sejak lebih dari dua dekade lalu, aku masih saja suka mengulangnya dari episode pertama.

2. The Resident

Serial ini justru kutonton secara tidak sengaja.

Biasanya aplikasi streaming akan memutar serial lain yang dianggap mirip dengan tontonan sebelumnya. Begitulah akhirnya aku menemukan The Resident.

Serial ini menggambarkan dunia medis dengan sangat intens. Banyak adegan yang terjadi di IGD, tempat para dokter berjuang menyelamatkan pasien dalam kondisi darurat.

Setiap menontonnya, aku sering ngebatin sendiri: “Kenapa IGD di sini tidak seperti ini ya?” He-he.

3. Castle

Serial ini punya premis yang unik.

Richard Castle adalah seorang penulis novel kriminal yang sangat terkenal. Suatu hari ia mengalami kebuntuan ide. Untuk mencari inspirasi, ia mulai terlibat dalam penyelidikan kepolisian.

Yang menarik, beberapa kasus pembunuhan ternyata menggunakan trik yang mirip dengan cerita di buku-bukunya.

Dari situlah hubungan Castle dengan Detektif Kate Beckett dimulai—dan dinamika mereka menjadi salah satu hal paling seru di serial ini.

4. 9-1-1

Serial ini sebenarnya yang membuatku akhirnya menonton The Resident.

Jika The Resident banyak terjadi di IGD, maka 9-1-1 justru menunjukkan apa yang terjadi sebelum pasien sampai ke rumah sakit.

Di sinilah kita melihat bagaimana tim penyelamat—pemadam kebakaran, paramedis, dan operator darurat—menangani berbagai situasi yang tidak terduga.

Dan sekarang, serial ini bahkan sudah memiliki musim terbaru.

5. Ghost Whisperer

Serial ini pertama kali kutonton bersamaan dengan Criminal Minds.

Ceritanya tentang Melinda Gordon, seorang perempuan yang memiliki kemampuan melihat arwah orang-orang yang telah meninggal, tetapi masih memiliki urusan yang belum selesai di dunia.

Melinda membantu mereka menyampaikan pesan kepada orang yang masih hidup, agar mereka bisa tenang.

Meski temanya supernatural, serial ini justru terasa hangat dan penuh emosi.

6. Tracker

Serial ini termasuk yang cukup baru dalam daftar tontonan yang sering kuulang.

Tokoh utamanya, Colter Shaw, adalah seorang pelacak profesional yang membantu mencari orang hilang. Ia seperti detektif swasta dengan jaringan informasi yang sangat luas.

Yang paling menarik perhatianku justru gaya hidupnya. Colter selalu bepergian menggunakan campervan, menjelajah dari satu tempat ke tempat lain sambil menyelesaikan berbagai kasus.

7. Station 19

Serial ini sangat mirip dengan 9-1-1, karena sama-sama bercerita tentang pemadam kebakaran.

Namun Station 19 lebih menonjolkan drama personal para karakternya. Hubungan, konflik, hingga perjuangan masing-masing tokohnya terasa lebih kuat.

Salah satu tokohnya bahkan merupakan anak dari seorang letnan. Seolah-olah ia memiliki tanggung jawab tidak tertulis untuk meneruskan jejak ayahnya.

Mungkin bagi sebagian orang, menonton ulang serial yang sama terasa membosankan. Tapi bagiku justru sebaliknya.

Ada kenyamanan tersendiri saat kembali ke cerita yang sudah kita kenal. Kita tahu bagaimana alurnya, siapa yang akan muncul, bahkan dialog tertentu yang sudah hafal di luar kepala.

Seperti membuka kembali buku favorit.

Dan mungkin memang begitu cara kita menikmati cerita—bukan sekadar mencari yang baru, tapi juga kembali pada yang sudah terasa seperti rumah.

Kalau kamu sendiri, serial apa yang tidak pernah bosan kamu tonton berulang-ulang?

Selebrasi Kecil untuk Langkah Besar

Cerita tentang selebrasi kenaikan level les bahasa Inggris Cinta. Sebuah momen kecil yang menyenangkan, ketika belajar bahasa menjadi pengalaman yang dirayakan bersama orang tua.

Belajar sesuatu yang baru sering kali terasa seperti perjalanan panjang. Ada proses, latihan, dan tentu saja kesabaran. Karena itu, ketika sebuah tahap berhasil dilewati, rasanya menyenangkan sekali jika ada momen kecil untuk merayakannya.

Beberapa hari lalu, Cinta mengadakan selebrasi karena berhasil naik level di tempat les bahasa Inggrisnya. Setiap kali murid naik level, tempat les ini memang mengajak anak-anak menikmati momen tersebut dengan sebuah selebrasi kecil.

Sebelum-sebelumnya, Cinta selalu tampil dengan mempresentasikan sesuatu dengan bahasa Inggris. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Namun sudah tiga level terakhir ini, selebrasi dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Yang aku suka, orang tua selalu dilibatkan dalam kegiatannya. Jadi bukan hanya menonton performa anak-anak saja, tapi juga ikut terlibat dalam tugas akhir mereka.

Lanjutkan membaca “Selebrasi Kecil untuk Langkah Besar”