Buku yang Membuatku Lebih Sadar Menjalani Hari
Ada beberapa orang di sosial media yang rasanya menyenangkan untuk diikuti. Bukan karena hidupnya terlihat sempurna, tapi karena cara mereka berbagi terasa hangat dan dekat.
Salah satunya adalah Cut Vivia Talitha. Aku mengenalnya lewat kalimat khasnya,
“Selamat datang di luar kelas.” Dan memang, dari sana aku merasa sedang diajak belajar banyak hal di luar sekolah, di luar teori, dan di luar hal-hal yang selama ini terasa biasa saja.
Vivia cukup sering membagikan buku-buku yang ia baca. Dan entah sejak kapan, gara-gara itu juga aku mulai tertarik membaca buku selain novel. Makanya sejak akhir tahun lalu, aku mulai banyak melirik buku-buku tentang psikologi.

Buku pertama Vivia adalah Confidence in You. Lalu kali ini, ia kembali menghasilkan karya berjudul Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping.
Menurut Vivia sendiri, buku ini bukan buku motivasi. Jadi setelah membacanya, bukan berarti hidup kita akan langsung terasa lebih mudah. Buku ini justru untuk orang-orang yang masih bisa menjalani hari seperti biasa, tapi capeknya terasa. Yang dulu menyenangkan, sekarang malah menghabiskan energi.
Ada delapan bab yang perlu diselesaikan. Dan pembahasan tentang coping cukup menyita perhatianku. Ternyata coping adalah salah satu cara tubuh dan pikiran menjaga keselamatan diri. Sering kali coping terbentuk sejak kecil, saat kita belum punya banyak pilihan dan harus menyesuaikan diri dengan keadaan.
Yang menarik, coping kadang dianggap sebagai karakter diri. Padahal keduanya berbeda. Karakter memberi kekuatan. Sedangkan coping bisa menghabiskan energi diri. Dan saat digunakan terlalu lama, coping ternyata bisa berubah menjadi refleks yang dilakukan tanpa sadar.
Coping juga bisa menjadi sumber masalah kalau dilakukan terus-menerus di banyak situasi, terasa lega sekaligus lelah, dan sulit dihentikan meski kita tahu itu tidak tepat. Yang membuatku cukup tersadar, coping mechanism ternyata tidak selalu terlihat seperti kebiasaan buruk.
Jujur saja, awalnya aku sempat berpikir buku ini akan memberiku semacam “suntikan semangat” untuk menjalani hari-hari. Karena biasanya, selesai membaca buku, aku merasa seperti orang yang akan ikut perlombaan. Antusias. Semangat. Berharap menang.
Tapi ternyata, buku ini memberiku rasa yang berbeda. Aku malah menjalani hari dengan lebih sadar. Aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun. Bahwa semua yang terjadi hari ini adalah hal yang perlu disyukuri. Dan tentang masa depan, tidak ada yang benar-benar tahu.
Yang perlu aku lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin, lalu menjalani semuanya satu per satu. Kadang kita memang tidak butuh dorongan untuk berlari lebih cepat. Kadang, kita cuma perlu berhenti sebentar, memahami diri sendiri, lalu menyadari, ternyata selama ini kita lelah bukan karena kurang kuat, tapi karena terlalu lama bertahan dengan cara yang membuat diri sendiri kehabisan tenaga.