Ada saja halang rintangan untuk menyelesaikan buku ini. Tapi setelah berhasil menamatkannya, aku menemukan satu hal yang terus terbayang: sesuatu yang terjadi di masa lalu bisa memberi dampak hingga jauh ke masa depan.
Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero adalah buku yang tidak sabar ingin segera kuselesaikan. Tapi kenyataannya, ada saja halang rintangan saat membaca buku ini.
Dua buku sebelumnya aku memilih membeli ebook-nya, tapi di judul kali ini aku bertekad untuk membaca buku fisiknya. Baru membaca dua bab, aku lupa di mana bukunya aku letakkan. Biasanya kalau tidak ada di dalam tas, ya di samping tempat tidur. Aku bahkan sudah membongkar tas-tas yang kupakai.
Ada buku yang menarik perhatianku karena sudah lama masuk daftar bacaan. Ada juga buku yang akhirnya kubaca hanya karena tidak sengaja melihat cover-nya. Tragedi Wabah Kelelawar termasuk yang kedua.
Email rekomendasi dari Gramedia.com kembali membuatku penasaran. Dengan cover yang didominasi warna hitam dan sentuhan warna emas, buku ini terlihat misterius. Cukup untuk membuatku berhenti sebentar dan berpikir, “Ini cerita tentang apa, ya?”
Review Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu. Novel misteri Jepang yang mengajak pembaca menyusun petunjuk dari lima gambar sederhana.
Gara-gara sebelumnya membaca Teka-Teki Rumah Aneh dan mempostingnya di media sosial, seorang teman menyarankan agar aku melanjutkan membaca Teka-Teki Gambar Aneh.
Yah, jadi terbawa arus kan aku! Dengan tekad bulat, aku langsung membeli e-book Teka-Teki Gambar Aneh di Gramedia Digital.
Sayangnya, baru membaca sampai sekitar halaman 42, e-book yang kubaca tiba-tiba tidak bisa melanjutkan ke halaman berikutnya. Padahal e-book lain tetap berjalan mulus. Kejadian ini mengingatkanku saat pertama kali membeli Onyx Boox Go Color Gen II. Bedanya, waktu itu masalahnya bisa diatasi. Kali ini, justru e-book ini yang berhenti di halaman 42. Kalian nggak musuhan, kan? Hehe.
Sebuah denah rumah yang terlihat biasa ternyata menyimpan banyak kejanggalan. Teka-Teki Rumah Aneh tidak terlalu menyeramkan, tetapi berhasil membuatku ingin terus membaca hingga halaman terakhir.
Sebuah email rekomendasi buku minggu ini tak sengaja aku buka dari Gramedia.com. Biasanya, email rekomendasi buku selalu aku abaikan karena buku-buku yang direkomendasikan tidak sesuai dengan kriteria bacaan yang aku suka.
Namun, judul buku Teka-Teki Rumah Aneh tiba-tiba menarik perhatianku.
Review buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya karya dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ. Buku psikologi yang mengajak pembaca belajar memproses emosi dan menyadari setiap pilihan dalam hidup.
Melanjutkan buku sebelumnya yang berjudul Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring, kali ini aku membaca buku kedua berjudul Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya. Gak salah baca kok, judulnya memang sepanjang itu. Jika sebelumnya aku merasa seperti bergabung di klub berduka, di buku kedua ini aku belajar untuk memproses emosi.
Di awal-awal buku, aku tertarik dengan bagian yang menjelaskan bahwa manusia punya kemampuan berdiskusi dengan dirinya sendiri. Aku menyadari bahwa selama ini aku memang sering mengajak ngobrol diri sendiri. Hanya saja, pertanyaan yang aku ajukan ke diri sendiri sering kali tidak terarah. Ha-ha.
Sebuah buku tentang duka, penerimaan, dan cara hidup berdampingan dengan kehilangan.
“Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring”, judul buku ini kerap menarik perhatianku setiap kali ke Gramedia. Kok judulnya panjang banget ya? Pikirku saat itu.
Suatu hari, seorang pecinta buku membuat konten tentang buku-buku yang sudah ia baca dan konten itu lewat di explore Instagramku. Buku tersebut adalah salah satunya.
“Gak bakal nyesel deh habis baca buku ini,” komentarnya saat itu.
Quite Love karya Yoga Arizona terasa seperti membuka halaman-halaman diary seorang suami. Setiap konflik selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan begitu saja di rak. Ada juga buku yang membuat kita berhenti sejenak, lalu memikirkan banyak hal setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Quite Love termasuk dalam kategori yang kedua.
Nama Yoga Arizona tentu bukan nama yang asing. Ia salah satu influencer yang cukup sering berseliweran di beranda Instagramku. Konten mini dramanya mungkin menjadi salah satu yang paling sering muncul. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku sudah mengikuti Yoga bahkan sejak sebelum menikah.
Quite Love adalah salah satu karya lain dari Yoga. Sebuah buku yang tampaknya memang diniatkan sejak jauh-jauh hari dan ditulis dengan sepenuh hati.
Rutinitas pagi sederhana yang membantu seorang ibu menikmati waktu sendiri, menjaga energi, dan menjalani hari dengan lebih tenang.
Menjadi ibu membuatku memahami satu hal: ternyata waktu tenang itu terasa sangat mewah. Bukan karena sulit dicari, tapi karena hampir setiap waktu selalu ada yang membutuhkan perhatian kita.
Mungkin itu sebabnya banyak ibu memilih menikmati kesunyian di waktu-waktu yang tidak biasa. Ada yang begadang setelah anak-anak tidur, ada yang menikmati kopi di ruang tengah, dan ada juga yang memilih bangun jauh lebih pagi sebelum rumah mulai ramai.
Lalu apakah itu berlaku buatku? Hmm, tampaknya tidak. Sepertinya, aku termasuk tipe yang terakhir.
Ada ibu-ibu yang bangun lebih pagi bukan karena tidak mengantuk, tapi karena itu satu-satunya waktu tenang yang mereka punya. Saat rumah masih sunyi. Saat belum ada yang memanggil “Buuuu…”. Saat isi kepala belum seramai biasanya.
Dan ternyata, kebiasaan itu banyak sekali dilakukan para ibu. Salah satunya tanteku. Sejak kecil aku memang tahu tante termasuk orang yang rajin. Tapi aku baru benar-benar menyadari rutinitasnya setelah aku dan keluargaku pindah ke rumah sebelah. Hampir setiap dini hari, samar-samar terdengar suara cetekan kompor dari dapurnya.
Awalnya aku penasaran. Di pagi harinya, sesaat sebelum tante berangkat kerja, aku bertanya apa yang ia lakukan sepagi itu.
“Buku ini tidak membuatku berlari lebih cepat, tapi membuatku menjalani hari dengan lebih sadar.”
Buku yang Membuatku Lebih Sadar Menjalani Hari
Ada beberapa orang di sosial media yang rasanya menyenangkan untuk diikuti. Bukan karena hidupnya terlihat sempurna, tapi karena cara mereka berbagi terasa hangat dan dekat.
Salah satunya adalah Cut Vivia Talitha. Aku mengenalnya lewat kalimat khasnya, “Selamat datang di luar kelas.” Dan memang, dari sana aku merasa sedang diajak belajar banyak hal di luar sekolah, di luar teori, dan di luar hal-hal yang selama ini terasa biasa saja.
Vivia cukup sering membagikan buku-buku yang ia baca. Dan entah sejak kapan, gara-gara itu juga aku mulai tertarik membaca buku selain novel. Makanya sejak akhir tahun lalu, aku mulai banyak melirik buku-buku tentang psikologi.