Gara-gara sebelumnya membaca Teka-Teki Rumah Aneh dan mempostingnya di media sosial, seorang teman menyarankan agar aku melanjutkan membaca Teka-Teki Gambar Aneh.
Yah, jadi terbawa arus kan aku! Dengan tekad bulat, aku langsung membeli e-book Teka-Teki Gambar Aneh di Gramedia Digital.
Sayangnya, baru membaca sampai sekitar halaman 42, e-book yang kubaca tiba-tiba tidak bisa melanjutkan ke halaman berikutnya. Padahal e-book lain tetap berjalan mulus. Kejadian ini mengingatkanku saat pertama kali membeli Onyx Boox Go Color Gen II. Bedanya, waktu itu masalahnya bisa diatasi. Kali ini, justru e-book ini yang berhenti di halaman 42. Kalian nggak musuhan, kan? Hehe.

Sampul buku Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu
Aku pun menghubungi tim Gramedia Digital melalui WhatsApp untuk menyampaikan keluh kesahku. Sayangnya, sampai dua hari kemudian—bahkan hingga tulisan ini dibuat—aku belum mendapatkan pembaruan apa pun. Karena tidak ingin terus menunggu, akhirnya aku melanjutkan membaca e-book ini melalui iPad.
Tidak jauh berbeda dengan Teka-Teki Rumah Aneh, di buku kali ini pembaca kembali dibuat penasaran dan diajak ikut menduga-duga.
Cerita bermula dari seorang mahasiswa yang membaca sebuah blog. Blog itu berisi cerita keseharian pemiliknya. Sekilas tidak ada yang aneh. Namun, tiba-tiba saja pemilik blog mengumumkan bahwa ia akan berhenti memperbarui blognya.
Ada lima gambar yang dibagikan. Sekilas memang terlihat biasa saja. Bahkan sebagai pembaca, aku juga belum memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sampai perlahan, satu per satu fakta mulai terungkap.
Cerita-cerita yang dibagikan di setiap bab ternyata saling terhubung dengan masa lalu si pemilik blog. Di bagian awal aku hanya bisa bereaksi, “Hah?” Namun menjelang akhir, reaksiku berubah menjadi, “Ohhhhh…” panjang, lega, sekaligus kagum karena potongan-potongan teka-teki itu akhirnya mulai menyatu.
Tapi nih ya, sama seperti buku satunya, selalu ada beberapa hal yang terasa menggantung dan belum benar-benar terjawab. Arrggh… kesal! Tapi ya mau bagaimana lagi.
Kalau dibandingkan dengan Teka-Teki Rumah Aneh, jujur saja aku masih lebih menyukai buku pertama. Efek “wah”-nya lebih terasa dan berhasil membuatku beberapa kali benar-benar terkejut. Mungkin karena aku memang bukan tipe pembaca yang pandai menebak-nebak misteri sejak awal. Di buku ini aku bisa menduganya, meski di perjalanan alur ceritanya membuat aku banyak ber”ooohhh” ria.
Aku tetap menikmati cara Uketsu bercerita. Ia mampu mengambil sesuatu yang terlihat sangat biasa, lalu mengubahnya menjadi misteri yang membuat pembaca terus bertanya-tanya. Rasanya seperti sedang diajak bermain teka-teki bersama penulis. Saat merasa sudah menemukan jawabannya, ternyata masih ada fakta lain yang mengubah semua dugaan.
Kalau kamu berencana membaca karya Uketsu, menurutku akan lebih seru jika dimulai dari Teka-Teki Rumah Aneh, baru kemudian melanjutkan ke Teka-Teki Gambar Aneh. Bukan karena buku kedua kurang bagus, tetapi karena buku pertama berhasil memberikan pengalaman membaca yang lebih berkesan untukku.
Jadi, apakah buku ini layak direkomendasikan? Menurutku, iya. Terutama untuk kamu yang menyukai novel misteri yang mengandalkan logika, pengamatan, dan detail-detail kecil, bukan sekadar kejutan atau adegan menegangkan. Hanya saja, siap-siap menerima kenyataan bahwa mungkin masih akan ada beberapa pertanyaan yang sengaja dibiarkan menggantung. Dan sepertinya itulah ciri khas Uketsu.

Sedikit masukan untuk Gramedia Digital. Semoga kendala pada e-book ini bisa segera diperbaiki. Bukunya sendiri seru dan sayang sekali kalau pengalaman membacanya jadi terganggu hanya karena masalah teknis. Aku sendiri akhirnya bisa menamatkannya melalui iPad, tetapi tentu akan lebih menyenangkan jika bisa membaca dengan lancar di perangkat yang sejak awal kupilih.