Ada buku yang menarik perhatianku karena sudah lama masuk daftar bacaan. Ada juga buku yang akhirnya kubaca hanya karena tidak sengaja melihat cover-nya. Tragedi Wabah Kelelawar termasuk yang kedua.
Email rekomendasi dari Gramedia.com kembali membuatku penasaran. Dengan cover yang didominasi warna hitam dan sentuhan warna emas, buku ini terlihat misterius. Cukup untuk membuatku berhenti sebentar dan berpikir, “Ini cerita tentang apa, ya?”
Review Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu. Novel misteri Jepang yang mengajak pembaca menyusun petunjuk dari lima gambar sederhana.
Gara-gara sebelumnya membaca Teka-Teki Rumah Aneh dan mempostingnya di media sosial, seorang teman menyarankan agar aku melanjutkan membaca Teka-Teki Gambar Aneh.
Yah, jadi terbawa arus kan aku! Dengan tekad bulat, aku langsung membeli e-book Teka-Teki Gambar Aneh di Gramedia Digital.
Sayangnya, baru membaca sampai sekitar halaman 42, e-book yang kubaca tiba-tiba tidak bisa melanjutkan ke halaman berikutnya. Padahal e-book lain tetap berjalan mulus. Kejadian ini mengingatkanku saat pertama kali membeli Onyx Boox Go Color Gen II. Bedanya, waktu itu masalahnya bisa diatasi. Kali ini, justru e-book ini yang berhenti di halaman 42. Kalian nggak musuhan, kan? Hehe.
Review buku Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? karya Pandudunia. Cerita tentang patah hati, mengalah, dan belajar mendengarkan diri sendiri.
Kok ya aku lagi, aku lagi yang mengalah? Dan entah kenapa, akhir-akhir ini, pertanyaan itu seperti sering mampir tanpa diundang. Lalu suatu hari, di antara scroll sosial media yang rasanya gak ada habisnya, muncul sebuah buku di explore-ku.
Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? karya Pandudunia.
Hmm, buku apa ini? Sebagai emak-emak tiga puluh ke atas yang kadang suka gak sadar diri (hehe), aku langsung penasaran. Dari covernya saja, sudah terlihat sesosok yang tampak putus asa. Entah seberapa berat masalah yang ia hadapi, tapi rasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan.
Ada cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena penulisnya belum menamatkan, tapi karena kita, sebagai pembaca, selalu ingin kembali. Kembali ke dunia yang sama, tokoh yang sama, dan rasa yang entah kenapa selalu terasa dekat.
Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya yang aku nantikan tiba—kisah perjalanan Raib, Seli, dan Ali.
Membaca novel ini selalu terasa seperti pulang ke tempat yang familiar. Di satu sisi aku sangat menantikannya, tapi di sisi lain, ada rasa kesal yang ikut datang. Kesal karena penasaran.
“Diam tidak selalu berarti menyerah. Kadang, diam adalah cara paling aman untuk menyusun strategi pergi.”
Broken Strings adalah salah satu buku yang tidak pernah kurencanakan untuk kubaca di awal tahun 2026. Kalau bukan karena kekuatan media sosial, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa buku ini diterbitkan. Bahkan, kisah yang dituliskan Aurelie Moeremans ini sama sekali tidak pernah terbayang akan ada—apalagi dibagikan ke ruang publik.
Awalnya aku ragu untuk mulai membaca. Banyak komentar yang mengatakan tidak sanggup menyelesaikannya. Bahkan sejak halaman awal, penulis sudah memberi peringatan: jika merasa terpicu, pembaca disarankan berhenti dan memberi jeda. Peringatan itu justru membuatku semakin takut.