Review Quite Love – Yoga Arizona

Quite Love karya Yoga Arizona terasa seperti membuka halaman-halaman diary seorang suami. Setiap konflik selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.

Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan begitu saja di rak. Ada juga buku yang membuat kita berhenti sejenak, lalu memikirkan banyak hal setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Quite Love termasuk dalam kategori yang kedua.

Nama Yoga Arizona tentu bukan nama yang asing. Ia salah satu influencer yang cukup sering berseliweran di beranda Instagramku. Konten mini dramanya mungkin menjadi salah satu yang paling sering muncul. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku sudah mengikuti Yoga bahkan sejak sebelum menikah.

Quite Love adalah salah satu karya lain dari Yoga. Sebuah buku yang tampaknya memang diniatkan sejak jauh-jauh hari dan ditulis dengan sepenuh hati.

Konflik diri, rumah tangga atau apapun itu, selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Lanjutkan membaca “Review Quite Love – Yoga Arizona”

Rutinitas Pagi

Rutinitas pagi sederhana yang membantu seorang ibu menikmati waktu sendiri, menjaga energi, dan menjalani hari dengan lebih tenang.

Menjadi ibu membuatku memahami satu hal: ternyata waktu tenang itu terasa sangat mewah. Bukan karena sulit dicari, tapi karena hampir setiap waktu selalu ada yang membutuhkan perhatian kita.

Mungkin itu sebabnya banyak ibu memilih menikmati kesunyian di waktu-waktu yang tidak biasa. Ada yang begadang setelah anak-anak tidur, ada yang menikmati kopi di ruang tengah, dan ada juga yang memilih bangun jauh lebih pagi sebelum rumah mulai ramai.

Lalu apakah itu berlaku buatku? Hmm, tampaknya tidak. Sepertinya, aku termasuk tipe yang terakhir.

Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi”

Rutinitas Pagi yang Sederhana

Ada ibu-ibu yang bangun lebih pagi bukan karena tidak mengantuk, tapi karena itu satu-satunya waktu tenang yang mereka punya. Saat rumah masih sunyi. Saat belum ada yang memanggil “Buuuu…”. Saat isi kepala belum seramai biasanya.

Dan ternyata, kebiasaan itu banyak sekali dilakukan para ibu. Salah satunya tanteku. Sejak kecil aku memang tahu tante termasuk orang yang rajin. Tapi aku baru benar-benar menyadari rutinitasnya setelah aku dan keluargaku pindah ke rumah sebelah. Hampir setiap dini hari, samar-samar terdengar suara cetekan kompor dari dapurnya.

Awalnya aku penasaran. Di pagi harinya, sesaat sebelum tante berangkat kerja, aku bertanya apa yang ia lakukan sepagi itu.

 

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar memahami bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Rutinitas Pagi yang Sederhana”

Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?

Dulu, aku selalu membayangkan menjadi ibu adalah hal yang menyenangkan. Sebagai perempuan yang memang menyukai anak-anak, aku senang berada di dekat mereka. Rasanya ramai, hangat, dan menyenangkan. Bahkan sejak sebelum menikah, aku sering membawa pulang keponakan atau sepupu kecil ke rumah. Istilahnya “menculik” mereka sebentar untuk menemaniku bermain.

Mereka sih happy-happy aja. Ibu dan tanteku juga tampak santai saja saat anak-anaknya aku bawa pulang.

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar menerima bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.
Lanjutkan membaca “Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?”

Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha

“Buku ini tidak membuatku berlari lebih cepat, tapi membuatku menjalani hari dengan lebih sadar.”

Buku yang Membuatku Lebih Sadar Menjalani Hari

Ada beberapa orang di sosial media yang rasanya menyenangkan untuk diikuti. Bukan karena hidupnya terlihat sempurna, tapi karena cara mereka berbagi terasa hangat dan dekat. 

Salah satunya adalah Cut Vivia Talitha. Aku mengenalnya lewat kalimat khasnya,
“Selamat datang di luar kelas.” Dan memang, dari sana aku merasa sedang diajak belajar banyak hal di luar sekolah, di luar teori, dan di luar hal-hal yang selama ini terasa biasa saja.

Vivia cukup sering membagikan buku-buku yang ia baca. Dan entah sejak kapan, gara-gara itu juga aku mulai tertarik membaca buku selain novel. Makanya sejak akhir tahun lalu, aku mulai banyak melirik buku-buku tentang psikologi.

Buku Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping karya Cut Vivia Talitha. Tentang coping mechanism, lelah yang tidak disadari, dan belajar menjalani hari dengan lebih sadar.
Lanjutkan membaca “Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha”

Obrolan Sederhana Generasi Alpha

Ada hal-hal kecil yang baru terasa maknanya ketika kita sudah melewati beberapa fase. Dulu, terasa biasa saja. Sekarang, kok jadi punya cerita.

Membandingkan zaman dulu dan sekarang, tentu saja akan jauh berbeda. Yang sangat aku ingat adalah aku tidak pernah sekalipun membawa bekal ke sekolah. Kecuali saat jalan-jalan mendekati hari pembagian rapor.

Seingatku pun teman-temanku juga begitu. Kami lebih memilih jajan di kantin sekolah atau, kalau lagi malas, ya menahan lapar saja.

Lanjutkan membaca “Obrolan Sederhana Generasi Alpha”

Review Aldebaran Bagian 1 : Mempersiapkan Perjalanan Menuju Aldebaran

Ada cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena penulisnya belum menamatkan, tapi karena kita, sebagai pembaca, selalu ingin kembali. Kembali ke dunia yang sama, tokoh yang sama, dan rasa yang entah kenapa selalu terasa dekat.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya yang aku nantikan tiba—kisah perjalanan Raib, Seli, dan Ali.

Membaca novel ini selalu terasa seperti pulang ke tempat yang familiar. Di satu sisi aku sangat menantikannya, tapi di sisi lain, ada rasa kesal yang ikut datang. Kesal karena penasaran.

Kisah Raib, Seli, dan Ali dalam dunia paralel. Konflik, rahasia, dan perjalanan emosional yang membuat pembaca terus ingin kembali.
Lanjutkan membaca “Review Aldebaran Bagian 1 : Mempersiapkan Perjalanan Menuju Aldebaran”

Belajar Percaya pada Proses Anak

Refleksi seorang ibu saat belajar menahan diri dalam mendampingi anak mengerjakan tugas. Tentang percaya pada proses, memberi ruang, dan melihat anak bertumbuh dengan caranya sendiri.

Ada satu fase dalam membersamai anak yang ternyata tidak mudah: menahan diri untuk tidak terlalu ikut campur. Bukan karena kita tidak peduli, justru karena terlalu peduli, kita sering ingin semuanya berjalan sempurna.

Padahal, mungkin yang anak butuhkan bukan hasil yang sempurna, melainkan ruang untuk mencoba, gagal, dan bangga atas usahanya sendiri.

“Oii, sudah kerjain tugas TIK? Progress seni rupa gimana?” Sebuah pesan WhatsApp masuk ke smartphone-ku. Aku menarik napas sejenak.

Lanjutkan membaca “Belajar Percaya pada Proses Anak”

Keluarga yang Lebih Seru, atau Kita yang Lebih Sering Bersama?

Bagaimana anak melihat keluarga “lebih seru” dan bagaimana kedekatan, waktu, serta pola asuh membentuk hubungan dalam keluarga.

Ada satu momen sederhana, tapi cukup membuatku berpikir lama.

“Mah, ternyata benar ya… kontennya orang yang bilang kalau keluarga mamah lebih asyik daripada keluarga papah.” Cinta bilang itu dengan nada santai. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa cukup dalam.

“Oh ya? Mamah pernah lihat sih konten itu. Memangnya benar?” tanyaku.

“Iya mah. Coba deh, kakak-kakak, abang, ibu, ayah, bunda, umi, abi… semua asyik. Bahkan mbah Budi yang jarang ketemu juga seru,” jelasnya panjang lebar.

“Hmmm… iya sih ya,” jawabku pelan.

Lanjutkan membaca “Keluarga yang Lebih Seru, atau Kita yang Lebih Sering Bersama?”

Menjadi Ibu yang Sabar di Kepala, Tapi Tidak di Nada Suara

Refleksi seorang ibu tentang belajar sabar—bukan hanya di pikiran, tapi juga di nada suara. Tentang lelah, jeda, dan memaafkan diri sendiri.

Salah satu yang sering aku doakan dalam hati: semoga aku bisa menjadi ibu yang sabar. Bukan hanya di kepala, tapi juga di nada suara dan sikap. Karena ternyata… sabar di kepala itu jauh lebih mudah. Yang sulit justru menjaga nada suara tetap lembut, saat lelah sudah sampai di ujung hari.

Lalu, apakah menjadi ibu yang benar-benar sabar itu tidak mungkin? Tentu saja mungkin. Tapi boleh jadi tidak semua hari kita bisa menjadi versi terbaik itu. Ada saat-saat di mana rasanya ingin meledak. Dan itu… tidak selalu berarti kita gagal menjadi ibu yang penyabar.

Belajar sabar—bukan hanya di pikiran, tapi juga di nada suara. Tentang lelah, jeda, dan memaafkan diri sendiri.
Lanjutkan membaca “Menjadi Ibu yang Sabar di Kepala, Tapi Tidak di Nada Suara”