Ada hal-hal kecil yang baru terasa maknanya ketika kita sudah melewati beberapa fase. Dulu, terasa biasa saja. Sekarang, kok jadi punya cerita.
Membandingkan zaman dulu dan sekarang, tentu saja akan jauh berbeda. Yang sangat aku ingat adalah aku tidak pernah sekalipun membawa bekal ke sekolah. Kecuali saat jalan-jalan mendekati hari pembagian rapor.
Seingatku pun teman-temanku juga begitu. Kami lebih memilih jajan di kantin sekolah atau, kalau lagi malas, ya menahan lapar saja.

Saat duduk di bangku SMA, aku mulai membawa bekal ke sekolah. Tapiiiiiiiiiiiiii, bekalnya beli saat menuju ke sekolah. Ha-ha. Padahal konsep membawa bekal itu kan harusnya minim sampah dan hemat, ya. Kalau dipikir-pikir, aku sih sama saja, bawa bekal atau tidak. Bedanya hanya tidak perlu berdesak-desakan dengan siswa lain di kantin.
Berbeda dengan murid-murid saat ini. Cinta dan Rangga, sejak TK selalu membawa bekal. Meski sederhana, mereka tetap membawa bekal dari rumah.
Pernah suatu hari Cinta tidak membawa bekal. Aku memberinya tambahan uang saku. Yang terjadi, malah Cinta tidak membelanjakan uangnya di kantin.
“Malas, mah. Kantinnya ramai,” jawab Cinta.
Ish, aku banget sih! Waktu sekolah dulu juga sering begitu, menghindari keramaian. Ha-ha.
Suatu hari, Cinta bercerita kalau teman-temannya mempertanyakan tahun kelahiranku.
“Cin, mama kamu gen Z ya?” kata Cinta menirukan temannya.
“Terus, Cinta jawab apa?” tanyaku.
“Cinta jawab, mamaku milenial. Kenapa memangnya? Terus dijawab, ‘ih tapi kok barang-barang mamamu lucu-lucu. Kayak anak-anak gen Z.’ Padahal mamah mah semua hitam. Jomplang jadi style baju dan barangnya,” jawab Cinta.
“Asyik dibilang masih muda, ha-ha,” responku, yang langsung dibalas tatapan sinis.
“Please mah, nggak gitu sih,” tambahnya.
Aku tertawa. Lalu mencoba menjelaskan dengan versi yang lebih masuk akal.
“Sebenarnya, kak, barang-barang seperti tas yang kakak lihat itu sudah mama punya dari 6–7 tahun lalu. Bukan baru dibeli. Tau nggak artinya apa?”
“Gak tau.”
“Fashion itu selalu berputar. Yang hari ini terlihat keren dan up to date, bisa jadi adalah gaya dari beberapa tahun lalu. Yang dulu sempat dianggap ketinggalan zaman.”
Aku berhenti sebentar, lalu melanjutkan,
“Jadi, sebelum membeli barang baru, mungkin kita bisa cek-cek dulu barang lama. Siapa tahu masih bisa dipakai.”
Hal-hal sederhana seperti bekal dan pilihan barang ternyata menyimpan cerita yang lebih dalam. Tentang kebiasaan, tentang cara kita memandang kebutuhan, juga tentang bagaimana zaman berubah—dan kita ikut belajar menyesuaikan diri.
Dan mungkin, di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang tetap sama: kita selalu menemukan cara untuk merasa cukup, dengan apa yang sudah kita punya 🤍