Kok ya aku lagi, aku lagi yang mengalah? Dan entah kenapa, akhir-akhir ini, pertanyaan itu seperti sering mampir tanpa diundang. Lalu suatu hari, di antara scroll sosial media yang rasanya gak ada habisnya, muncul sebuah buku di explore-ku.
Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? karya Pandudunia.
Hmm, buku apa ini? Sebagai emak-emak tiga puluh ke atas yang kadang suka gak sadar diri (hehe), aku langsung penasaran. Dari covernya saja, sudah terlihat sesosok yang tampak putus asa. Entah seberapa berat masalah yang ia hadapi, tapi rasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Jujur saja, kata pengantar yang kubaca cukup menggelitik. Dan terus terang, ini pertama kalinya aku mendengar nama Pandudunia.
Dari hasil pencarian, ia adalah penulis muda, content creator, dan penyiar radio yang dikenal lewat konten-konten relatable di TikTok. Beberapa bukunya bertema self-improvement dan percintaan, seperti Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? (2025) dan Barangkali Kita Memang Perlu Hari Patah Hati, yang diterbitkan oleh Gradien Mediatama.
Buku yang kubaca kali ini, berisi tentang perasaan patah hati, kesedihan, dan proses penerimaan diri. Buat yang belum terlalu suka membaca buku dengan tulisan panjang, buku ini bisa jadi pilihan. Karena setiap halamannya hanya berisi satu paragraf saja.
Isinya seperti keriuhan dalam kepala. Pikiran-pikiran yang mungkin sering kita rasakan, tapi jarang kita ucapkan. Relate banget dengan kehidupan, terutama untuk mereka yang sedang berada di fase mencari pasangan. Tapi, di antara semua itu, ada juga bagian-bagian yang ternyata terasa dekat denganku.
Misalnya seperti ini: “Kalau lagi ngeliat orang di transportasi umum tiba-tiba tarik napas panjang, berarti masalah yang dia alami gak main-main.”
Kalimat sederhana, tapi dalam. Kadang kita lupa, bahwa orang lain juga sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Dan seringnya, yang mereka butuhkan bukan nasihat, tapi seseorang yang mau mendengarkan, tanpa menghakimi.
Ada lagi yang terasa “aku banget” sebagai anak bungsu: “Pokoknya jobdesk-ku cuma nunggu disuruh. Bisa sih gantian nyuruh, eh gak bisa deh.” Hehe, relate. Soalnya gak punya adik, jadi gak ada yang bisa gantian nyuruh. Apalagi meski berstatus anak bungsu, kedua kakakku tinggal bersama Nenek dan Embah. Jadi secara tidak langsung, aku seperti anak tunggal yang sering merasa kesepian. Kalau mereka sedang berkunjung, baru deh aku disuruh-suruh.
Buku ini, menurutku, cocok banget dibaca oleh mereka yang sedang berada di posisi hubungan tanpa status. Yang ingin pergi, tapi belum berani melangkah. Yang tahu harusnya selesai, tapi masih berharap ada yang berubah. Dan mungkin… untuk kita juga, yang kadang terlalu sering mengalah, sampai lupa menanyakan ke diri sendiri “aku ini sebenarnya butuh apa, sih?”
Karena pada akhirnya, mengalah itu bukan salah. Tapi kalau terus-menerus, tanpa pernah didengar, mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak dan mulai mendengarkan diri sendiri.