Review Aldebaran Bagian 1 : Mempersiapkan Perjalanan Menuju Aldebaran

Ada cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena penulisnya belum menamatkan, tapi karena kita, sebagai pembaca, selalu ingin kembali. Kembali ke dunia yang sama, tokoh yang sama, dan rasa yang entah kenapa selalu terasa dekat.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya yang aku nantikan tiba—kisah perjalanan Raib, Seli, dan Ali.

Membaca novel ini selalu terasa seperti pulang ke tempat yang familiar. Di satu sisi aku sangat menantikannya, tapi di sisi lain, ada rasa kesal yang ikut datang. Kesal karena penasaran.

Kisah Raib, Seli, dan Ali dalam dunia paralel. Konflik, rahasia, dan perjalanan emosional yang membuat pembaca terus ingin kembali.
Lanjutkan membaca “Review Aldebaran Bagian 1 : Mempersiapkan Perjalanan Menuju Aldebaran”

Belajar Percaya pada Proses Anak

Refleksi seorang ibu saat belajar menahan diri dalam mendampingi anak mengerjakan tugas. Tentang percaya pada proses, memberi ruang, dan melihat anak bertumbuh dengan caranya sendiri.

Ada satu fase dalam membersamai anak yang ternyata tidak mudah: menahan diri untuk tidak terlalu ikut campur. Bukan karena kita tidak peduli, justru karena terlalu peduli, kita sering ingin semuanya berjalan sempurna.

Padahal, mungkin yang anak butuhkan bukan hasil yang sempurna, melainkan ruang untuk mencoba, gagal, dan bangga atas usahanya sendiri.

“Oii, sudah kerjain tugas TIK? Progress seni rupa gimana?” Sebuah pesan WhatsApp masuk ke smartphone-ku. Aku menarik napas sejenak.

Lanjutkan membaca “Belajar Percaya pada Proses Anak”

Menjadi Ibu yang Sabar di Kepala, Tapi Tidak di Nada Suara

Refleksi seorang ibu tentang belajar sabar—bukan hanya di pikiran, tapi juga di nada suara. Tentang lelah, jeda, dan memaafkan diri sendiri.

Salah satu yang sering aku doakan dalam hati: semoga aku bisa menjadi ibu yang sabar. Bukan hanya di kepala, tapi juga di nada suara dan sikap. Karena ternyata… sabar di kepala itu jauh lebih mudah. Yang sulit justru menjaga nada suara tetap lembut, saat lelah sudah sampai di ujung hari.

Lalu, apakah menjadi ibu yang benar-benar sabar itu tidak mungkin? Tentu saja mungkin. Tapi boleh jadi tidak semua hari kita bisa menjadi versi terbaik itu. Ada saat-saat di mana rasanya ingin meledak. Dan itu… tidak selalu berarti kita gagal menjadi ibu yang penyabar.

Belajar sabar—bukan hanya di pikiran, tapi juga di nada suara. Tentang lelah, jeda, dan memaafkan diri sendiri.
Lanjutkan membaca “Menjadi Ibu yang Sabar di Kepala, Tapi Tidak di Nada Suara”

Catatan Kecil Sebelum Hari Ini Ditutup

Refleksi malam seorang ibu tentang lelah, amarah, penyesalan, dan usaha berdamai dengan diri sendiri sebelum hari ditutup pelan-pelan.

Malam datang tanpa banyak suara. Lampu-lampu sudah diredupkan, rumah mulai bernapas lebih pelan. Di sela kelelahan yang belum sepenuhnya pergi, ada keinginan sederhana: menutup hari ini dengan jujur. Bukan dengan rangkuman prestasi, bukan juga daftar hal yang belum tercapai—melainkan dengan mengakui apa yang benar-benar terasa di dalam dada.

Hari ini tidak istimewa, tapi juga tidak sepenuhnya biasa. Ada tawa kecil yang sempat muncul, ada lelah yang diam-diam menumpuk, ada perasaan yang tidak sempat diberi nama. Maka sebelum hari ini benar-benar ditutup, aku ingin meninggalkan satu catatan kecil. Sebagai penanda bahwa aku hadir, bertahan, dan mencoba mendengarkan diriku sendiri—meski hanya sebentar.

“Tidak semua hari perlu dirayakan. Beberapa cukup dicatat, lalu dilepas dengan pelan.”
Lanjutkan membaca “Catatan Kecil Sebelum Hari Ini Ditutup”