Belajar Percaya pada Proses Anak

Refleksi seorang ibu saat belajar menahan diri dalam mendampingi anak mengerjakan tugas. Tentang percaya pada proses, memberi ruang, dan melihat anak bertumbuh dengan caranya sendiri.

Ada satu fase dalam membersamai anak yang ternyata tidak mudah: menahan diri untuk tidak terlalu ikut campur. Bukan karena kita tidak peduli, justru karena terlalu peduli, kita sering ingin semuanya berjalan sempurna.

Padahal, mungkin yang anak butuhkan bukan hasil yang sempurna, melainkan ruang untuk mencoba, gagal, dan bangga atas usahanya sendiri.

“Oii, sudah kerjain tugas TIK? Progress seni rupa gimana?” Sebuah pesan WhatsApp masuk ke smartphone-ku. Aku menarik napas sejenak.

Lanjutkan membaca “Belajar Percaya pada Proses Anak”

Selebrasi Kecil untuk Langkah Besar

Cerita tentang selebrasi kenaikan level les bahasa Inggris Cinta. Sebuah momen kecil yang menyenangkan, ketika belajar bahasa menjadi pengalaman yang dirayakan bersama orang tua.

Belajar sesuatu yang baru sering kali terasa seperti perjalanan panjang. Ada proses, latihan, dan tentu saja kesabaran. Karena itu, ketika sebuah tahap berhasil dilewati, rasanya menyenangkan sekali jika ada momen kecil untuk merayakannya.

Beberapa hari lalu, Cinta mengadakan selebrasi karena berhasil naik level di tempat les bahasa Inggrisnya. Setiap kali murid naik level, tempat les ini memang mengajak anak-anak menikmati momen tersebut dengan sebuah selebrasi kecil.

Sebelum-sebelumnya, Cinta selalu tampil dengan mempresentasikan sesuatu dengan bahasa Inggris. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Namun sudah tiga level terakhir ini, selebrasi dilakukan dengan cara yang berbeda-beda. Yang aku suka, orang tua selalu dilibatkan dalam kegiatannya. Jadi bukan hanya menonton performa anak-anak saja, tapi juga ikut terlibat dalam tugas akhir mereka.

Lanjutkan membaca “Selebrasi Kecil untuk Langkah Besar”

Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja: Review Buku tentang Inner Child

Review buku Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja, buku psikologi yang mengajak pembaca mengenal inner child, memahami luka masa kecil, dan belajar merespons kehidupan dengan lebih bijak.

Ada satu hal yang membuatku selalu tertarik membaca buku-buku psikologi: keinginan untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh. Rasanya seru sekali mencari tahu bagaimana pengalaman masa kecil membentuk diri kita hari ini.

Apakah aku memiliki trauma masa kecil?

Mungkin saja.

Namun sampai saat ini aku belum pernah benar-benar mencari tahu secara mendalam dengan psikolog secara langsung.

Maka membaca buku-buku seperti ini terasa seperti langkah kecil yang bisa kulakukan. Setidaknya agar aku bisa lebih memahami diriku sendiri—dan semoga saja tidak menjadi orang tua yang toxic bagi anak-anak.


Kadang kita membaca buku psikologi bukan untuk mencari jawaban tentang orang lain, tapi untuk mengenal diri kita sendiri.
Lanjutkan membaca “Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja: Review Buku tentang Inner Child”

Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar

Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.

Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.

Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”

Lanjutkan membaca “Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar”

Publik Talk : Simplycity Parenting – Waldorf Study Grup Balikpapan

To truly know the world, look deep within yourself. To truly know yourself, take a real interest in theworld.” Rudolf Steiner.

a4c9d25e-8587-42be-bf03-88a01398b861
Foto: Dokumentasi Waldorf Study Grup Balikpapan 

Bulan Juli ini banyak sekali kejutan untuk saya. Mulai dari yang membahagiakan, hingga menyedihkan. Juli adalah bulan lahir saya, namun di bulan ini juga saya harus kehilangan bapak untuk selama-lamanya.

Setelah lebaran, kondisi bapak memang drop. Tidak secara fisik, tapi psikologis. Saya sempat ragu setelah mendaftar Publik Talk ini. Apakah saya bisa datang? Bagaimana Cinta? Terakhir saya menitipkan Cinta pada kakak, hanya bisa bertahan 2 jam. Sebenarnya alasan terberat saya untuk tidak hadir karena kondisi bapak. Ternyata Allah SWT memanggil bapak tepat seminggu sebelum Publik Talk.

Meski masih dalam suasana berkabung, suami, ibu dan kakak mendukung penuh kehadiran saya di Publik Talk ini. Selain itu, yang menguatkan saya adalah karena saya yakin bapak ingin saya hadir. Demi diri saya, demi anak-anak dan demi cita-cita saya dan bapak. Ya, saya dan bapak punya pemikiran yang sama tentang menjadi istri dan ibu. Beruntung, suami juga sejalan.

Maka, hadirlah saya di Publik Talk diantar Suami, Cinta, Nindy dan Cicah.

Lanjutkan membaca “Publik Talk : Simplycity Parenting – Waldorf Study Grup Balikpapan”

Berinteraksi dengan Bayi Lewat Buku

“Sebelum ingin anak bisa membaca, sebaiknya ajari anak untuk mencintai buku” — kalimat ini pernah saya baca, tapi lupa di mana.

Untuk saya yang punya anak masih bayi, tentu membaca bukan target utama saat mengenalkan buku. Saya memang berkeinginan Cinta menyukai buku. Tidak harus seperti saya. Tapi setidaknya, dia menjadi anak yang akan membaca tuntas, apapun itu. Biar kemakan hoax yang kadang suka ditaruh dijudul. Padahal isi dan judul jauh berbeda.
Lanjutkan membaca “Berinteraksi dengan Bayi Lewat Buku”

Teori Dulu, Praktek Kemudian

Parenting++ – Kumpulan artikel grup facebook “Parenting with Elly Risman and Family”

“Mbak Riska, buku parenting apa nih yang bagus? Tadi saya lagi googling buku, eh ketemu blognya mbak Riska” tanya seorang teman via whatsapp belum lama ini.

Jlebbbbb….

Itu reaksi pertama saya ketika membaca pesan tersebut. Lanjutkan membaca “Teori Dulu, Praktek Kemudian”

Review Buku : #Parents Learn, Biarkan Anak Bertanya – Munif Chatib 


Membaca buku parenting yang penuh warna memberikan suntikan tersendiri buat saya. Ya, membaca jadi lebih menyenangkan.  Lanjutkan membaca “Review Buku : #Parents Learn, Biarkan Anak Bertanya – Munif Chatib “

Review Buku : HypnoParenting – Dr Dewi P Faeni, Mht. MM

“Kita cenderung lupa bahwa anak-anak lebih melihat contoh dari pada mendengarkan ceramah” – Roy L. Smith

“Anak-anak belajar tersenyum dari orangtua mereka” – Shinichi Suzuki

Setelah stalking timeline instagram seorang teman, saya melihat dia membaca buku HypnoParenting. Dari situ saya baru menyadari, kalau tulisan tentang buku ini masih “tergeletak” begitu saja di draft. **jitak kepala sendiri** 😤 Lanjutkan membaca “Review Buku : HypnoParenting – Dr Dewi P Faeni, Mht. MM”

Review Buku : EnSexclopedia – Elly Risman, Hilman Al Madani, Yuhyina Maisura 

Tanya Jawab Masalah Pubertas dan Seksualitas Remaja

Saat sekarang ini pertanyaan seputar pubertas dan seksualitas masih menjadi hal yang tabu. Tidak sedikit anak dan orangtua yang merasa risih jika membicarakannya. Termasuk saya. Buat orangtua saya, segala sesuatu yang berhubungan dengan seksualitas hanya boleh dibicarakan orang dewasa. Imbasnya, ketika dewasa (gak mau dibilang tua) saya kerap merasa risih. Padahal permasalahan seputar pubertas dan seksualitas sebaiknya dijelaskan orangtua pada anaknya. Lanjutkan membaca “Review Buku : EnSexclopedia – Elly Risman, Hilman Al Madani, Yuhyina Maisura “