Emosi Ibu dan Rasa Menyesal

Sebuah refleksi emosi seorang ibu—dari pagi yang penuh semangat, ledakan emosi di siang hari, hingga penyesalan saat malam tiba. Belajar memahami diri dan mencari cara menyalurkan emosi dengan lebih sehat.

Menjadi ibu sering kali terasa seperti naik roller coaster emosi. Ada hari-hari ketika semuanya terasa ringan dan menyenangkan. Namun di hari yang lain, emosi bisa datang tanpa permisi—bahkan dari hal-hal kecil yang sebelumnya tampak sepele.

Aku yakin bukan hanya aku yang pernah mengalaminya. Tapi untuk kali ini, aku bercerita tentang diriku sendiri.

Ibu mana yang di pagi harinya tenang, tapi tiba-tiba siang harinya meledak?

Lalu di malam hari menyesal saat menatap anak-anak yang sudah tertidur pulas?

Aku.

Iya, aku.

Belajar memahami diri dan mencari cara menyalurkan emosi dengan lebih sehat.
Lanjutkan membaca “Emosi Ibu dan Rasa Menyesal”

Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar

Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.

Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.

Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”

Lanjutkan membaca “Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar”