Bagaimana anak melihat keluarga “lebih seru” dan bagaimana kedekatan, waktu, serta pola asuh membentuk hubungan dalam keluarga.
Ada satu momen sederhana, tapi cukup membuatku berpikir lama.
“Mah, ternyata benar ya… kontennya orang yang bilang kalau keluarga mamah lebih asyik daripada keluarga papah.” Cinta bilang itu dengan nada santai. Tapi entah kenapa, kalimat itu terasa cukup dalam.
“Oh ya? Mamah pernah lihat sih konten itu. Memangnya benar?” tanyaku.
“Iya mah. Coba deh, kakak-kakak, abang, ibu, ayah, bunda, umi, abi… semua asyik. Bahkan mbah Budi yang jarang ketemu juga seru,” jelasnya panjang lebar.
Tidak semua duka terlihat dari air mata. Tentang kehilangan, kenangan bersama ayah, dan cara setiap orang memproses rasa sedih dengan caranya masing-masing.
Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan pemberitaan tentang kepergian salah satu musisi Indonesia yang dikenal sebagai Duta Persahabatan, Vidi Aldiano. Banyak orang menyoroti kebaikan dan energi positif yang selalu dibawanya. Timeline-ku pun dipenuhi cerita tentang sosoknya yang hangat dan menyenangkan.
Aku lebih banyak membaca kisah-kisah baik tentangnya. Kalau ada komentar yang bernada sinis atau julid, biasanya aku hanya melihatnya dari kutipan orang lain. Entah kenapa, rasanya lebih nyaman fokus pada cerita-cerita yang membawa kebaikan.
Di antara berbagai tulisan yang muncul, ada satu yang cukup menarik perhatianku. Tulisan itu membahas tentang Sheila, sang istri, yang disebut mengalami delayed grief—duka yang datang terlambat. Saat kejadian, ia tampak seperti tidak memproses apa pun. Namun bisa jadi, rasa kehilangan yang sangat dalam justru datang ketika ia sudah sendirian.
Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.
Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.
Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”
Refleksi seorang ibu tentang menerima pujian dari anak, mengelola emosi, dan berusaha menjadi lebih baik setiap hari—meski tak selalu sempurna.
Ada malam-malam yang terasa biasa saja. Tidak ada pencapaian besar. Tidak ada kejadian dramatis. Hanya rutinitas, suara anak-anak, dan kelelahan yang pelan-pelan turun bersama gelap. Tapi justru di malam seperti itulah, kadang datang kalimat yang membuat hati berhenti sejenak.
“Mah, mamah adalah yang terbaik,” kata Bunga menjelang tidur. Ia memberiku ciuman dan pelukan yang sangat erat.
Aku hampir saja menjawab dengan nada bercanda, “Ih, ada apa nih? Kok tiba-tiba muji-muji?” Untung kalimat itu tidak sempat keluar. Otakku cepat mengingatkan: terima saja. Jangan dicurigai. Jangan dipelintir. Anakmu sedang tulus.
Refleksi tentang Balikpapan di usia ke-129—kota kelahiran yang tumbuh bersama kenangan, perubahan, dan harapan akan masa depan yang ramah anak dan pendidikan.
Setiap kota punya caranya sendiri untuk tinggal di ingatan.
Ada yang hadir lewat bangunan megah, ada yang melekat lewat hiruk-pikuknya.
Balikpapan memilih cara yang lebih tenang—ia tinggal lewat kenangan, kebiasaan kecil, dan rasa pulang yang tidak banyak menuntut penjelasan.
Di usianya yang ke-129, Balikpapan bukan sekadar kota kelahiran. Ia adalah ruang tempat aku belajar mencintai, mengenang, dan menumbuhkan harapan.
Tidak ada satu orangpun yang ingin gagal, termasuk dalam pernikahan. Aku yakin, setiap pasangan pasti ingin menjalani pernikahannya dengan bahagia. Tapi bagaimana, kalau kebahagiaan itu hanya diusahakan oleh satu orang saja. Bagaimana kalau ternyata berjuang itu bukan bersama-sama, apakah pernikahan itu tetap bisa berakhir bahagia?
Nina ibu dari empat anak yang masih kecil-kecil. Sejak awal pernikahan, Nina sudah merasa ada yang mengganjal. Namun ia selalu berusaha untuk melihat dari sudut pandang yang positif.
Hari ini, Cinta kembali kedatangan kakak sepupunya. Errrrr, tiap hari datang sih 🤣. Kalau sudah kakak sepupu datang, saya suka bubar jalan dengan rencana kegiatan hari ini. Ha-ha. Eh gk sih. Sebenarnya yang bikin kakak sepupnya datang karena ada kegiatan yang dilakukan Cinta.
Parenting++ – Kumpulan artikel grup facebook “Parenting with Elly Risman and Family”
“Mbak Riska, buku parenting apa nih yang bagus? Tadi saya lagi googling buku, eh ketemu blognya mbak Riska” tanya seorang teman via whatsapp belum lama ini.