Sebuah buku tentang duka, penerimaan, dan cara hidup berdampingan dengan kehilangan.
“Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring”, judul buku ini kerap menarik perhatianku setiap kali ke Gramedia. Kok judulnya panjang banget ya? Pikirku saat itu.
Suatu hari, seorang pecinta buku membuat konten tentang buku-buku yang sudah ia baca dan konten itu lewat di explore Instagramku. Buku tersebut adalah salah satunya.
“Gak bakal nyesel deh habis baca buku ini,” komentarnya saat itu.
Tidak semua duka terlihat dari air mata. Tentang kehilangan, kenangan bersama ayah, dan cara setiap orang memproses rasa sedih dengan caranya masing-masing.
Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan pemberitaan tentang kepergian salah satu musisi Indonesia yang dikenal sebagai Duta Persahabatan, Vidi Aldiano. Banyak orang menyoroti kebaikan dan energi positif yang selalu dibawanya. Timeline-ku pun dipenuhi cerita tentang sosoknya yang hangat dan menyenangkan.
Aku lebih banyak membaca kisah-kisah baik tentangnya. Kalau ada komentar yang bernada sinis atau julid, biasanya aku hanya melihatnya dari kutipan orang lain. Entah kenapa, rasanya lebih nyaman fokus pada cerita-cerita yang membawa kebaikan.
Di antara berbagai tulisan yang muncul, ada satu yang cukup menarik perhatianku. Tulisan itu membahas tentang Sheila, sang istri, yang disebut mengalami delayed grief—duka yang datang terlambat. Saat kejadian, ia tampak seperti tidak memproses apa pun. Namun bisa jadi, rasa kehilangan yang sangat dalam justru datang ketika ia sudah sendirian.