Seorang Pria yang Melalui Dukadengan Mencuci Piring – dr Andreas Kurniawan, Sp.KJ : Duka, Rindu, dan Kehilangan yang Tetap Tinggal

Sebuah buku tentang duka, penerimaan, dan cara hidup berdampingan dengan kehilangan.

“Seorang Pria yang Melalui Duka Dengan Mencuci Piring”, judul buku ini kerap menarik perhatianku setiap kali ke Gramedia. Kok judulnya panjang banget ya? Pikirku saat itu.

Suatu hari, seorang pecinta buku membuat konten tentang buku-buku yang sudah ia baca dan konten itu lewat di explore Instagramku. Buku tersebut adalah salah satunya.

“Gak bakal nyesel deh habis baca buku ini,” komentarnya saat itu.

Aku pun jadi penasaran dan memutuskan membeli ebook-nya melalui Gramedia Digital. Di halaman-halaman awal ada beberapa testimoni yang tentu saja membuatku semakin penasaran.

“Hai, selamat datang di Klub Berduka.”

Kalimat pembuka di bab pertama buku ini membuatku berhenti sejenak. Hmmm, apakah aku sedang berduka? Tampaknya saat membaca buku ini, hatiku sedang berada di posisi netral. Aku memang tidak sedang berduka, tetapi ada satu kejadian yang masih membuatku merasa tidak nyaman. Apakah itu bisa dikategorikan sebagai salah satu bentuk duka?

Di tengah proses membaca buku ini, aku baru menyadari kalau ternyata aku sudah berdamai dengan kehilangan bapak.

Seperti yang ditulis dalam buku ini, aku tidak menghilangkan atau mengabaikan semua kenangan bersama bapak. Aku masih tetap mengingatnya. Masih tetap merindukannya. Dan kadang masih merasa kalau bapak hanya pergi bekerja. Bapak akan kembali menyapaku di sore hari.

Saat merindukan bapak, masih ada perasaan sesak di dada. Tapi bukan lagi kesedihan seperti dulu. Saat ini aku menyadari bahwa perasaan itu tetap harus diterima dan dirasakan.

Bukan mengecilkan bola basketnya, tetapi memperluas wadah yang menampungnya.

Ya, membiarkan rasa sakit dan sedih itu hadir sesekali seperti kembali menghubungkanku dengan bapak di masa lalu.

Dan seperti yang dikatakan penulis, kehilangan bapak membuatku melihat banyak hal bukan hanya dari sudut pandangku sendiri. Buat aku, masalah A mungkin terasa sangat besar. Tapi jangan-jangan masalah yang sedang dihadapi orang lain jauh lebih besar lagi.

Menerima adalah hal paling mudah sekaligus paling sulit di dunia ini.

Buku ini mungkin bukan buku nonfiksi pertama yang aku baca. Tapi buku ini adalah buku yang paling berkesan di enam bulan pertama tahun 2026.

Buku yang awalnya membuatku mengernyitkan kening karena judulnya. Namun saat menutup halaman terakhirnya, aku justru ingin melanjutkan membaca karya-karya penulis yang lain. 

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar