Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan begitu saja di rak. Ada juga buku yang membuat kita berhenti sejenak, lalu memikirkan banyak hal setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Quite Love termasuk dalam kategori yang kedua.
Nama Yoga Arizona tentu bukan nama yang asing. Ia salah satu influencer yang cukup sering berseliweran di beranda Instagramku. Konten mini dramanya mungkin menjadi salah satu yang paling sering muncul. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku sudah mengikuti Yoga bahkan sejak sebelum menikah.
Quite Love adalah salah satu karya lain dari Yoga. Sebuah buku yang tampaknya memang diniatkan sejak jauh-jauh hari dan ditulis dengan sepenuh hati.

Boleh jadi, bagi Yoga buku ini adalah sebuah novel yang lahir dari proses kreatif yang panjang. Tapi bagiku, rasanya seperti membaca diary seseorang. Diary yang berisi perjalanan, kegelisahan, dan berbagai dinamika yang ia alami bersama Widya, anak-anak, sahabat dan tentu saja dirinya sendiri.
Masalah yang dialami Yoga dan Widya sebagai pasangan muda mungkin juga pernah dirasakan oleh banyak pasangan lainnya. Bukan hanya mereka yang baru menikah, tetapi juga pasangan yang sudah melewati berbagai fase dalam rumah tangga. Sebab hampir semua pasangan pasti pernah berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sejalan dengan impian.
Widya—dan mungkin aku, juga banyak perempuan lainnya—pernah tanpa sadar menggantungkan sebagian mimpi pada pasangan. Menyimpan banyak harapan yang ternyata tidak selalu bisa dipenuhi. Dan itu tidak salah. Apalagi tidak semua orang tumbuh dengan contoh nyata tentang kehidupan rumah tangga yang harmonis dan bahagia.
Dari sudut pandang perempuan, aku cukup memahami apa yang dirasakan Widya. Rasanya ingin memberi tahu para bapak-bapak bahwa istrinya membutuhkan A, B, C, bahkan sampai Z. Rasanya ingin semuanya dipahami tanpa perlu dijelaskan berulang kali.
Tapi lewat Quite Love, aku jadi tahu bahwa dari sudut pandang laki-laki, gejolak yang mereka rasakan juga tidak kalah rumit.
Di setiap bab, Yoga membagikan isi hatinya dari sudut pandangnya sendiri. Dan di hampir setiap bab pula aku berkali-kali berkomentar dalam hati.
“Oh, ternyata begini.”
“Oh, jadi begitu.”
Sudut pandang baru itu memberiku cara melihat yang berbeda. Tidak lagi 70 persen menyalahkan suami. Ya… mungkin berkurang sedikit jadi 69 persen.
Eh, enggak ding. Ha-ha.
Tapi sungguh, buku ini membuatku lebih sering berdialog dengan diri sendiri. Saat marah, misalnya. Apakah kemarahanku memang sudah pada tempatnya? Atau jangan-jangan aku sedang bereaksi terlalu besar tanpa mencoba memahami apa yang sedang dirasakan suamiku?
Quite Love memberiku kesempatan untuk melihat dari sisi yang lain.
Bahwa tidak semua hal harus diutarakan saat itu juga. Ada kalanya kita perlu memberi jeda. Memberi ruang. Bukan untuk menjauh, tetapi untuk menunggu suasana lebih tenang agar percakapan bisa berlangsung dengan kepala yang lebih dingin.
Atau mungkin memang sedang mengaktifkan benteng pertahanan diri.
Entahlah.
Yang jelas, setelah membaca buku ini, aku merasa diingatkan bahwa dalam sebuah hubungan selalu ada dua cerita yang berjalan bersamaan. Ceritaku, dan cerita pasangan. Keduanya sama-sama nyata, sama-sama penting, dan sama-sama layak didengarkan.
Dan mungkin, memahami tidak selalu berarti setuju. Kadang cukup dengan mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda, kita sudah melangkah lebih dekat menuju pengertian.