Review Quite Love – Yoga Arizona

Quite Love karya Yoga Arizona terasa seperti membuka halaman-halaman diary seorang suami. Setiap konflik selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.

Ada buku yang selesai dibaca lalu diletakkan begitu saja di rak. Ada juga buku yang membuat kita berhenti sejenak, lalu memikirkan banyak hal setelah halaman terakhirnya ditutup. Buatku, Quite Love termasuk dalam kategori yang kedua.

Nama Yoga Arizona tentu bukan nama yang asing. Ia salah satu influencer yang cukup sering berseliweran di beranda Instagramku. Konten mini dramanya mungkin menjadi salah satu yang paling sering muncul. Ternyata setelah kuingat-ingat, aku sudah mengikuti Yoga bahkan sejak sebelum menikah.

Quite Love adalah salah satu karya lain dari Yoga. Sebuah buku yang tampaknya memang diniatkan sejak jauh-jauh hari dan ditulis dengan sepenuh hati.

Konflik diri, rumah tangga atau apapun itu, selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Lanjutkan membaca “Review Quite Love – Yoga Arizona”

Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha

“Buku ini tidak membuatku berlari lebih cepat, tapi membuatku menjalani hari dengan lebih sadar.”

Buku yang Membuatku Lebih Sadar Menjalani Hari

Ada beberapa orang di sosial media yang rasanya menyenangkan untuk diikuti. Bukan karena hidupnya terlihat sempurna, tapi karena cara mereka berbagi terasa hangat dan dekat. 

Salah satunya adalah Cut Vivia Talitha. Aku mengenalnya lewat kalimat khasnya,
“Selamat datang di luar kelas.” Dan memang, dari sana aku merasa sedang diajak belajar banyak hal di luar sekolah, di luar teori, dan di luar hal-hal yang selama ini terasa biasa saja.

Vivia cukup sering membagikan buku-buku yang ia baca. Dan entah sejak kapan, gara-gara itu juga aku mulai tertarik membaca buku selain novel. Makanya sejak akhir tahun lalu, aku mulai banyak melirik buku-buku tentang psikologi.

Buku Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping karya Cut Vivia Talitha. Tentang coping mechanism, lelah yang tidak disadari, dan belajar menjalani hari dengan lebih sadar.
Lanjutkan membaca “Aku Pikir Aku Baik-Baik Saja, Ternyata Itu Coping — Cut Vivia Talitha”

Review Buku Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? — Cocok untuk yang Sering Mengalah

Review buku Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? karya Pandudunia. Cerita tentang patah hati, mengalah, dan belajar mendengarkan diri sendiri.

Kok ya aku lagi, aku lagi yang mengalah? Dan entah kenapa, akhir-akhir ini, pertanyaan itu seperti sering mampir tanpa diundang. Lalu suatu hari, di antara scroll sosial media yang rasanya gak ada habisnya, muncul sebuah buku di explore-ku. 

Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? karya Pandudunia.

Hmm, buku apa ini? Sebagai emak-emak tiga puluh ke atas yang kadang suka gak sadar diri (hehe), aku langsung penasaran. Dari covernya saja, sudah terlihat sesosok yang tampak putus asa. Entah seberapa berat masalah yang ia hadapi, tapi rasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Review buku Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? karya Pandudunia. Cerita tentang patah hati, mengalah, dan belajar mendengarkan diri sendiri.
Lanjutkan membaca “Review Buku Lagi-Lagi Aku yang Ngalah, Kan? — Cocok untuk yang Sering Mengalah”

Review Aldebaran Bagian 1 : Mempersiapkan Perjalanan Menuju Aldebaran

Ada cerita-cerita yang tidak pernah benar-benar selesai. Bukan karena penulisnya belum menamatkan, tapi karena kita, sebagai pembaca, selalu ingin kembali. Kembali ke dunia yang sama, tokoh yang sama, dan rasa yang entah kenapa selalu terasa dekat.

Setelah menunggu beberapa waktu, akhirnya yang aku nantikan tiba—kisah perjalanan Raib, Seli, dan Ali.

Membaca novel ini selalu terasa seperti pulang ke tempat yang familiar. Di satu sisi aku sangat menantikannya, tapi di sisi lain, ada rasa kesal yang ikut datang. Kesal karena penasaran.

Kisah Raib, Seli, dan Ali dalam dunia paralel. Konflik, rahasia, dan perjalanan emosional yang membuat pembaca terus ingin kembali.
Lanjutkan membaca “Review Aldebaran Bagian 1 : Mempersiapkan Perjalanan Menuju Aldebaran”

Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja: Review Buku tentang Inner Child

Review buku Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja, buku psikologi yang mengajak pembaca mengenal inner child, memahami luka masa kecil, dan belajar merespons kehidupan dengan lebih bijak.

Ada satu hal yang membuatku selalu tertarik membaca buku-buku psikologi: keinginan untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh. Rasanya seru sekali mencari tahu bagaimana pengalaman masa kecil membentuk diri kita hari ini.

Apakah aku memiliki trauma masa kecil?

Mungkin saja.

Namun sampai saat ini aku belum pernah benar-benar mencari tahu secara mendalam dengan psikolog secara langsung.

Maka membaca buku-buku seperti ini terasa seperti langkah kecil yang bisa kulakukan. Setidaknya agar aku bisa lebih memahami diriku sendiri—dan semoga saja tidak menjadi orang tua yang toxic bagi anak-anak.


Kadang kita membaca buku psikologi bukan untuk mencari jawaban tentang orang lain, tapi untuk mengenal diri kita sendiri.
Lanjutkan membaca “Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja: Review Buku tentang Inner Child”

Review Hana Tara Hata: Kisah Masa Lalu yang Membuka Potongan Semesta

Ulasan novel Hana Tara Hata karya Tere Liye, kisah masa lalu salah satu tokoh dalam serial Bumi yang memperlihatkan kemampuan membaca alam, pilihan hidup, dan kasih sayang keluarga.

Kalau kamu penggemar karya Tere Liye, terutama serial Bumi, pasti tidak asing dengan judul-judul seperti Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz dan Batozar, Komet, Komet Minor, Selena, Nebula, Si Putih, Lumpu, Bibi Gill, Sagaras, Matahari Minor, ILY, hingga Aldebaran. Serial panjang ini seperti semesta sendiri yang saling terhubung satu sama lain.

Membacanya berurutan memang memberikan pengalaman yang lebih utuh. Setiap buku seperti membuka pintu baru menuju dunia lain, dengan karakter-karakter yang terus berkembang.

Nah, tahun lalu aku membeli satu buku Tere Liye yang judulnya cukup unik: Hana Tara Hata. Nama ini mungkin tidak terlalu asing bagi pembaca serial Bumi, karena ia memang salah satu karakter yang muncul dalam semesta tersebut.

Meski dibaca terpisah dari buku-buku lain, rasanya tetap bisa dinikmati tanpa harus membaca seluruh serial sebelumnya.
Lanjutkan membaca “Review Hana Tara Hata: Kisah Masa Lalu yang Membuka Potongan Semesta”

Ketika Aku Pernah Terlalu Bersemangat Mengkampanyekan ASI

Dari fase idealistis hingga belajar merangkul, tentang perjuangan, empati, dan perjalanan sebagai ibu.

Kadang hidup mempertemukan kita kembali pada bagian diri yang pernah begitu menyala. Lewat undangan kecil. Lewat notifikasi yang tampak biasa saja.

“Eh, ada undangan zoom nih,” kata Mbak Yona. Salah satu temanku di komunitas. Meski komunitas ini sudah lama sekali vakumnya, grup pengurusnya tidak pernah bubar. Mungkin karena secara emosional, kami masih saling terikat. Namun untuk menjalankan visi dan misinya, tidak lagi sekuat dulu.

“Aku juga dapat undangan nih,” sahutku. Tampaknya undangan diberikan kepada kami yang berstatus admin WAG. Ha-ha.

Pikiranku kembali melayang ke beberapa tahun lalu.

Lanjutkan membaca “Ketika Aku Pernah Terlalu Bersemangat Mengkampanyekan ASI”

Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang

Dari bangun pagi demi Doraemon hingga menjadi ibu yang diam-diam membeli komik lagi. Sebuah nostalgia generasi 90-an yang tumbuh bersama anak.

Sebagai anak generasi 90-an, aku dan banyak anak lainnya tumbuh bersama Doraemon dan Nobita. Hari Minggu selalu terasa istimewa. Di hari sekolah, rasanya ingin sekali bangun siang. Tapi anehnya, ketika hari Minggu tiba, tubuh justru otomatis terbangun lebih pagi—hanya demi satu hal: menonton Doraemon dan kartun lainnya.

Aku termasuk beruntung. Tinggal di perumahan yang memiliki fasilitas perpustakaan kecil. Koleksinya memang tidak banyak, tetapi cukup beragam untuk membuatku betah berlama-lama di sana. Salah satu koleksi yang paling lengkap adalah komik Doraemon. Jika ada seri yang tidak tersedia, itu artinya sedang dipinjam anggota lain. Dan itu sering terjadi.

Sudah membaca komiknya, masih juga menonton animasinya? Tentu saja! Meski alurnya sama, sensasi membaca dan menonton tetap berbeda. Doraemon selalu terasa menyenangkan—hangat, lucu, sekaligus penuh pesan sederhana tentang persahabatan.

Anak 90-an mana suaranya? 🙋🏻‍♀️💙 Bangun pagi di hari Minggu demi Doraemon.
Lanjutkan membaca “Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang”

Timun dan Jelita (Part 2): Tertawa, Bertahan, dan Mimpi yang Hampir Menyerah

Ulasan novel Timun dan Jelita Part 2, kisah band yang hampir menyerah, tawa yang menyembuhkan, dan mimpi yang diuji lewat perjalanan hidup para tokohnya.

Ada buku yang sejak awal sudah kita tunggu, lalu entah kenapa… justru terlupakan.

Timun dan Jelita Part 2 adalah salah satunya.

Beberapa kali masuk Gramedia, mataku selalu tertuju pada sampulnya. Gitar berwarna pink itu mencolok. Seolah memanggil, tapi selalu berhasil kuabaikan. Entah karena belum waktunya, atau karena aku sedang sibuk dengan bacaan lain.

Sampai suatu hari, saat aku masih larut membaca buku lain, novel ini tiba-tiba sudah terpajang rapi di Gramedia Plaza Balikpapan dan Gramedia MT Haryono.

Dan seperti biasa, muncul dialog batin yang klasik: Beli nggak ya?

Niatnya menunda. Tapi tangan ini terlalu cepat mengambil. Aku menyerah.

Lanjutkan membaca “Timun dan Jelita (Part 2): Tertawa, Bertahan, dan Mimpi yang Hampir Menyerah”

Review Buku Broken Strings: Kisah Child Grooming yang Penting Dibaca Orang Dewasa

“Diam tidak selalu berarti menyerah. Kadang, diam adalah cara paling aman untuk menyusun strategi pergi.”

Broken Strings adalah salah satu buku yang tidak pernah kurencanakan untuk kubaca di awal tahun 2026. Kalau bukan karena kekuatan media sosial, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa buku ini diterbitkan. Bahkan, kisah yang dituliskan Aurelie Moeremans ini sama sekali tidak pernah terbayang akan ada—apalagi dibagikan ke ruang publik.

Awalnya aku ragu untuk mulai membaca. Banyak komentar yang mengatakan tidak sanggup menyelesaikannya. Bahkan sejak halaman awal, penulis sudah memberi peringatan: jika merasa terpicu, pembaca disarankan berhenti dan memberi jeda. Peringatan itu justru membuatku semakin takut.

Broken Strings – Buku ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak kita lebih peduli.
Lanjutkan membaca “Review Buku Broken Strings: Kisah Child Grooming yang Penting Dibaca Orang Dewasa”