Refleksi seorang ibu tentang belajar sabar—bukan hanya di pikiran, tapi juga di nada suara. Tentang lelah, jeda, dan memaafkan diri sendiri.
Salah satu yang sering aku doakan dalam hati: semoga aku bisa menjadi ibu yang sabar. Bukan hanya di kepala, tapi juga di nada suara dan sikap. Karena ternyata… sabar di kepala itu jauh lebih mudah. Yang sulit justru menjaga nada suara tetap lembut, saat lelah sudah sampai di ujung hari.
Lalu, apakah menjadi ibu yang benar-benar sabar itu tidak mungkin? Tentu saja mungkin. Tapi boleh jadi tidak semua hari kita bisa menjadi versi terbaik itu. Ada saat-saat di mana rasanya ingin meledak. Dan itu… tidak selalu berarti kita gagal menjadi ibu yang penyabar.
Dari bangun pagi demi Doraemon hingga menjadi ibu yang diam-diam membeli komik lagi. Sebuah nostalgia generasi 90-an yang tumbuh bersama anak.
Sebagai anak generasi 90-an, aku dan banyak anak lainnya tumbuh bersama Doraemon dan Nobita. Hari Minggu selalu terasa istimewa. Di hari sekolah, rasanya ingin sekali bangun siang. Tapi anehnya, ketika hari Minggu tiba, tubuh justru otomatis terbangun lebih pagi—hanya demi satu hal: menonton Doraemon dan kartun lainnya.
Aku termasuk beruntung. Tinggal di perumahan yang memiliki fasilitas perpustakaan kecil. Koleksinya memang tidak banyak, tetapi cukup beragam untuk membuatku betah berlama-lama di sana. Salah satu koleksi yang paling lengkap adalah komik Doraemon. Jika ada seri yang tidak tersedia, itu artinya sedang dipinjam anggota lain. Dan itu sering terjadi.
Sudah membaca komiknya, masih juga menonton animasinya? Tentu saja! Meski alurnya sama, sensasi membaca dan menonton tetap berbeda. Doraemon selalu terasa menyenangkan—hangat, lucu, sekaligus penuh pesan sederhana tentang persahabatan.