Review novel Jika Cinta Itu Suci, yang Salah Manusianya tentang cinta yang dipendam terlalu lama, salah paham, dan keberanian untuk jujur.
Cinta yang Sama-sama Ada, Tapi Memilih Diam
Ada jenis cinta yang tidak berisik. Tidak menuntut, tidak memaksa, hanya tinggal—diam-diam—di dalam hati.
Bagaimana rasanya mencintai seseorang, tapi perasaan itu disimpan terlalu rapi? Bukan karena tidak berani, melainkan karena terlalu banyak batas yang ingin dijaga. Terlalu banyak peran yang tidak ingin dilukai. Entah kenapa, cerita seperti ini selalu terasa dekat.
Mungkin karena kita pernah berada di posisi itu. Pernah memilih diam demi terlihat baik-baik saja.
“Di balik sikap memberontak seorang anak, sering kali tersembunyi kebutuhan sederhana: ingin didengar, dipilih, dan tetap dicintai.”
Siapa, sih, yang masih suka baca teenlit sampai sekarang?
Ya aku. Ha-ha.
Padahal, sejak duduk di bangku SMP aku sudah akrab dengan genre ini. Anehnya, meski usia bertambah dan status berubah—bahkan sekarang sudah punya tiga anak—kecintaanku pada teenlit masih bertahan. Mungkin karena teenlit selalu punya cara sederhana tapi jujur untuk membahas luka, kehilangan, dan proses tumbuh yang sering kali kita anggap sepele.
Kali ini aku membaca 3600 Detik karya Charon. Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Sandra, yang tanpa ia sadari sedang berdiri di tengah keluarga yang perlahan retak. Selama ini Sandra merasa hidupnya baik-baik saja. Ia memang tidak terlalu dekat dengan ibunya yang sibuk sebagai wanita karier, tapi hal itu tak pernah menjadi masalah besar baginya. Kehadiran ayah yang hangat dan dekat sudah cukup untuk mengisi ruang-ruang kosong dalam hidupnya. Bahkan ketidakhadiran ibunya di momen-momen penting pun tak pernah ia persoalkan.
Tentang cinta, takdir, dan waktu yang tak pernah benar-benar adil
Sebagai tim happy ending garis keras, aku sungguh kesal dengan akhir ceritanya. Bukan semata karena kisah ini tidak berakhir bahagia—tapi karena rasanya… MASIH BISA DILANJUTIN WOY! Serius. Tanganku gatal ingin nyeret penulisnya sambil bilang, “Ini belum selesaiii!”
Pagi Ayub Bahtera jatuh cinta pada seorang gadis bernama Chalanthee. Usia mereka terpaut tiga tahun—Pagi lebih muda. Bagi banyak orang, jarak itu saja sudah cukup untuk meragukan. Ditambah lagi, keduanya hidup dalam ikatan adat istiadat yang begitu kental, yang membuat hubungan ini terasa mustahil sejak awal. Seolah semesta sendiri berkata: jangan.
Tapi sebagai pembaca yang sudah terlanjur sayang, aku cuma bisa bilang: aku mau maksa. T_T
Kadang yang kelihatan menunda, sebenarnya cuma lagi nyiapin diri. Tentang perempuan, pilihan, dan waktu yang nggak harus sama — karena setiap orang punya jalannya sendiri untuk bahagia. 🌷
“Bu, lihat deh. Ini anak Balikpapan yang pernah Riska ceritain. Keren banget, sekarang dia tinggal di Jepang,” kataku sambil menunjukkan akun Instagram seorang model.
“Hebat ya. Sudah nikah?” tanya ibuku.
“Hmm, gak tahu. Tapi kalau dilihat dari postingan Instagram-nya sih belum,” jawabku.
“Kenapa ya, perempuan-perempuan sekarang lebih banyak yang menunda menikah?” tanya ibuku lagi.
“Mah, tadi ketemu sama mamanya A?” tanya Cinta sepulang les Bahasa Inggris.
“Iya,” jawabku singkat.
“Terus ngobrol gak?” tanya Cinta lagi.
“Gak sih. Kan lagi ngeliatin adik dan teman-temannya tampil, jadi nggak bisa ngobrol. Kenapa memangnya?” aku mulai penasaran, kenapa Cinta bertanya soal mamanya A.
Blog salah satu tempat di mana kau bebas berkeluh kesah. Mau ditampilkan, boleh! Berujung di draft juga tidak masalah sama sekali. Aku pertama kali mengenal blog saat berkuliah di semester 2. Saat itu, beberapa bloger aktif mengadakan pertemuan di kampus. Aku salah satu anak gabut yang tertarik mengikutinya.
Sambil ikutan nongkron, aku mulai nyaman dengan menulis. Aku merasa saat itu seperti seorang penulis lepas yang akan menghabiskan waktuku di depan layar laptop.
Apa saja strategi yang Anda gunakan untuk membuat keseharian Anda makin nyaman?
Apa saja strategi yang Anda gunakan untuk membuat keseharian Anda makin nyaman?
Membayangkan kegiatan ibu rumah tangga seharian, 24 jam tampaknya tidak akan cukup. Karena akan ada banyak kegiatan yang harus dilakukan. Yes, perempuan saat menjadi ibu, mau bekerja di rumah atau di luar rumah daftar tugasnya pasti akan banyak. Meski suami ikut andil dalam pengasuhan, tapi biasanya otak para ibu tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.
Timun Jelita, salah satu karya Raditya Dika yang kubeli karena tidak sengaja lewat Gramedia di Plaza Balikpapan.
Keseringan membaca buku lewat e-reader membuatku tidak terlalu mengikuti perkembangan buku-buku baru. Pokoknya cuma mau baca yang gak berat. Titik nggak pakai koma. Alhamdulillah saat melewati Gramedia, mataku secara otomatis masih melirik ke etalase buku-buku baru. Ada beberapa buku yang menarik perhatianku. Salah satunya buku yang berjudul Timun Jelita ini.
Bagaimana bisa penjajah yang menyengsarakan banyak orang, tapi dibantu oleh pribumi? Itulah yang kerap kali terlintas di kepalaku saat membaca sebuah sejarah atau kisah di masa penjajahan.
Apalagi sejak sekolah dasar aku selalu membaca, jika dulu perempuan selalu dijauhkan dari pendidikan. Bahkan membaca dan menulis pun tidak diizinkan. Para penjajah khawatir, jika perempuan bisa membaca dan menulis maka akan semakin banyak pemberontakan. Hanya sedikit perempuan di masa penjajahan yang dihargai. Kebanyakan hanya dipandang sebagai alat semata.
Garda Detak Antologi Gawat Darurat. Buku ini adalah kumpulan dari kisah nyata yang ditulis oleh dr Gia Pratama. Salah seorang dokter yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit swasta kawasan Jakarta Selatan. dr Gia sangat rajin membagikan pengalamannya saat bertugas. Dari yang sedih sampai bahagia.
Makanya saat mengetahui dr Gia menuliskan cerita-ceritanya menjadi buku, aku tidak mau melewatkannya.