Serial yang Selalu Kutonton Lagi (dan Lagi)

Daftar 7 serial favorit yang selalu aku tonton berulang-ulang, dari Criminal Minds hingga Station 19. Tontonan lama yang selalu kurindukan.

Ada kalanya kita tidak sedang mencari tontonan baru. Bukan karena tidak ada pilihan, tapi karena ada cerita yang terasa begitu akrab. Seperti pulang ke rumah sendiri.

Prompt dari Jetpack kali ini langsung menarik perhatianku:

Apa saja film atau serial televisi yang sudah Anda tonton lebih dari 5 kali?

Pertanyaan itu membuatku tersenyum sendiri. Karena sejujurnya, aku memang termasuk orang yang suka mengulang-ulang menonton film atau serial. Ada sesuatu yang menenangkan saat kembali pada cerita yang sudah kita kenal alurnya.

Berbeda dengan mbakku yang selalu update dengan serial terbaru di Netflix. Sementara aku? Rasanya masih saja betah berlama-lama di dunia Disney+. Ha-ha.

Karena pertanyaan itu, aku mencoba mengingat-ingat lagi: serial apa saja yang sampai sekarang masih sering kuputar ulang? Dan inilah daftarnya.

1. Criminal Minds

Serial ini sudah kutonton sejak zaman SMA. Biasanya sambil menyetrika baju. Ha-ha.

Dari dulu aku selalu kagum dengan sosok Reid Spancer. Ia adalah anggota tim paling muda, tapi juga yang paling jenius. Cara berpikirnya sering melompat jauh ke depan, meskipun kadang sisi kekanak-kanakannya masih terlihat.

Yang membuat serial ini menarik adalah dinamika timnya. Mereka bukan hanya sekadar rekan kerja, tapi juga saling menjaga satu sama lain.

Di musim-musim akhir barulah terungkap bahwa Reid dan Jennifer Jareau sebenarnya saling mencintai, tetapi mereka memilih menjaga profesionalitas dan persahabatan.

Serial ini benar-benar tidak pernah membuatku bosan. Bayangkan saja, sejak lebih dari dua dekade lalu, aku masih saja suka mengulangnya dari episode pertama.

2. The Resident

Serial ini justru kutonton secara tidak sengaja.

Biasanya aplikasi streaming akan memutar serial lain yang dianggap mirip dengan tontonan sebelumnya. Begitulah akhirnya aku menemukan The Resident.

Serial ini menggambarkan dunia medis dengan sangat intens. Banyak adegan yang terjadi di IGD, tempat para dokter berjuang menyelamatkan pasien dalam kondisi darurat.

Setiap menontonnya, aku sering ngebatin sendiri: “Kenapa IGD di sini tidak seperti ini ya?” He-he.

3. Castle

Serial ini punya premis yang unik.

Richard Castle adalah seorang penulis novel kriminal yang sangat terkenal. Suatu hari ia mengalami kebuntuan ide. Untuk mencari inspirasi, ia mulai terlibat dalam penyelidikan kepolisian.

Yang menarik, beberapa kasus pembunuhan ternyata menggunakan trik yang mirip dengan cerita di buku-bukunya.

Dari situlah hubungan Castle dengan Detektif Kate Beckett dimulai—dan dinamika mereka menjadi salah satu hal paling seru di serial ini.

4. 9-1-1

Serial ini sebenarnya yang membuatku akhirnya menonton The Resident.

Jika The Resident banyak terjadi di IGD, maka 9-1-1 justru menunjukkan apa yang terjadi sebelum pasien sampai ke rumah sakit.

Di sinilah kita melihat bagaimana tim penyelamat—pemadam kebakaran, paramedis, dan operator darurat—menangani berbagai situasi yang tidak terduga.

Dan sekarang, serial ini bahkan sudah memiliki musim terbaru.

5. Ghost Whisperer

Serial ini pertama kali kutonton bersamaan dengan Criminal Minds.

Ceritanya tentang Melinda Gordon, seorang perempuan yang memiliki kemampuan melihat arwah orang-orang yang telah meninggal, tetapi masih memiliki urusan yang belum selesai di dunia.

Melinda membantu mereka menyampaikan pesan kepada orang yang masih hidup, agar mereka bisa tenang.

Meski temanya supernatural, serial ini justru terasa hangat dan penuh emosi.

6. Tracker

Serial ini termasuk yang cukup baru dalam daftar tontonan yang sering kuulang.

Tokoh utamanya, Colter Shaw, adalah seorang pelacak profesional yang membantu mencari orang hilang. Ia seperti detektif swasta dengan jaringan informasi yang sangat luas.

Yang paling menarik perhatianku justru gaya hidupnya. Colter selalu bepergian menggunakan campervan, menjelajah dari satu tempat ke tempat lain sambil menyelesaikan berbagai kasus.

7. Station 19

Serial ini sangat mirip dengan 9-1-1, karena sama-sama bercerita tentang pemadam kebakaran.

Namun Station 19 lebih menonjolkan drama personal para karakternya. Hubungan, konflik, hingga perjuangan masing-masing tokohnya terasa lebih kuat.

Salah satu tokohnya bahkan merupakan anak dari seorang letnan. Seolah-olah ia memiliki tanggung jawab tidak tertulis untuk meneruskan jejak ayahnya.

Mungkin bagi sebagian orang, menonton ulang serial yang sama terasa membosankan. Tapi bagiku justru sebaliknya.

Ada kenyamanan tersendiri saat kembali ke cerita yang sudah kita kenal. Kita tahu bagaimana alurnya, siapa yang akan muncul, bahkan dialog tertentu yang sudah hafal di luar kepala.

Seperti membuka kembali buku favorit.

Dan mungkin memang begitu cara kita menikmati cerita—bukan sekadar mencari yang baru, tapi juga kembali pada yang sudah terasa seperti rumah.

Kalau kamu sendiri, serial apa yang tidak pernah bosan kamu tonton berulang-ulang?

Kenapa?

Mengapa Anda membuat blog?

Blog salah satu tempat di mana kau bebas berkeluh kesah. Mau ditampilkan, boleh! Berujung di draft juga tidak masalah sama sekali. Aku pertama kali mengenal blog saat berkuliah di semester 2. Saat itu, beberapa bloger aktif mengadakan pertemuan di kampus. Aku salah satu anak gabut yang tertarik mengikutinya.

Sambil ikutan nongkron, aku mulai nyaman dengan menulis. Aku merasa saat itu seperti seorang penulis lepas yang akan menghabiskan waktuku di depan layar laptop.

Lanjutkan membaca “Kenapa?”

Mulai Harimu dengan Bahagia

Apa saja strategi yang Anda gunakan untuk membuat keseharian Anda makin nyaman?

Apa saja strategi yang Anda gunakan untuk membuat keseharian Anda makin nyaman?

Membayangkan kegiatan ibu rumah tangga seharian, 24 jam tampaknya tidak akan cukup. Karena akan ada banyak kegiatan yang harus dilakukan. Yes, perempuan saat menjadi ibu, mau bekerja di rumah atau di luar rumah daftar tugasnya pasti akan banyak. Meski suami ikut andil dalam pengasuhan, tapi biasanya otak para ibu tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. 

Lanjutkan membaca “Mulai Harimu dengan Bahagia”

Dari Benci Menjadi Cinta

Gambarkan satu perubahan positif dalam hidup Anda.

Dari benci menjadi cinta dengan olahraga. Riska kecil sampai remaja adalah anak yang sangat membenci olahraga. Kok bisa? Entahlah. Mungkin karena riska kecil adalah anak yang tubuhnya sangat kecil dan kurus. Seperti kurang gizi, dan tidak bertenaga. Apalagi saat mencoba menekuni olahraga, selalu ada yang kurang. Belum lagi saat itu suka dibandingkan dengan mbak yang tubuhnya besar dan sangat bertenaga. 

Untuk kategori anak kampung, aku juga sangat sedikit punya teman. Mungkin karena dulu anak yang tidak suka bermain di luar rumah cenderung aneh. Maklum dulu tidak kenal apa itu introvert. Pokoknya kalau tidak suka bermain di luar, dianggap anak yang sombong atau cupu. Makanya saat bermain atau olahraga bersama teman-teman sepantaran tampak sekali kurang bersemangat. 

Lanjutkan membaca “Dari Benci Menjadi Cinta”

Relawan Harus Dari Hati

Apa pekerjaan yang ingin Anda lakukan tanpa bayaran?

Tidak banyak profesi yang tersirat di otakku saat pertanyaan ini muncul. Namun, satu hal yang muncul di daftar teratas adalah relawan. Apakah relawan sebuah profesi? Sependek yang aku pahami, menjadi relawan tidak boleh dilakukan karena uang atau bayaran. Karena kebanyakan relawan yang aku temui, lebih ingin melakukan kebaikan atas dasar kemanusiaan. 

Menjadi seorang relawan harus berasal dari hati. Menjadi relawan artinya mengerjakan misi kemanusiaan. Sayangnya masih banyak yang menyalahgunakannya. 

Lanjutkan membaca “Relawan Harus Dari Hati”

Apakah Cita- Citamu Terwujud?

Ketika berusia lima tahun, apa cita-cita Anda bila dewasa nanti?

Sebagai anak generasi milenial, profesi idaman orang tuaku -ibuku tepatnya – adalah dokter, polisi, tentara, dan guru. Maka tidak heran setiap percakapan yang bersinggungan dengan cita-cita, ibuku akan berdoa anaknya memiliki salah satu profesi tersebut. 

Menjadi seorang dokter, saat itu selain butuh otak yang cerdas juga dibutuhkan biaya yang sangat besar. Tampaknya sampai sekarang pun kedua hal itu masih menjadi hal utama. Karena itulah, aku tidak pernah mengucapkan profesi dokter menjadi doaku. Aku mencoba realistis, karena selain kurang pandai, biaya menjadi dokter juga hampir tidak mungkin tersedia. Ha-ha. 

Di bangku SMP, aku sangat ingin menjadi seorang desainer. Rasanya ingin sekali bisa membuat pakaian yang lucu-lucu. Padahal, aku bukan anak yang dress up. Malah lebih seada-adanya. 

Lanjutkan membaca “Apakah Cita- Citamu Terwujud?”

Reid Spancer, Membaca dengan Kecepatan Super

Apa keterampilan atau kemampuan rahasia Anda atau yang ingin Anda miliki?

Menjadi seorang Reid Spancer, salah satu karakter fiksi dalma drama kriminal CBS Criminal Mids. Reid adalah salah seorang Agen Khusus Pengawas di Unit Analisis Prilaku (BAU) FBI. Sejak pertama kali aku menonton serial ini, Reid sudah muncul dan menyita perhatianku.

Reid digambarkan sebagai anak yang sangat jenius. Ia memiliki gelar doktor di beberapa bidang. Reid juga memiliki kemampuan membaca cepat dan mengingat kembali apa yang sebelumnya ia lihat.

Dengan banyaknya kelebihan Reid, punya kekurangan. Ia sangat canggung di kehidupan sosial. Reid kesulitan menunjukkan emosinya. Makanya hubungan percintaanya sangat minim sekali. Namun memori eidetiknya memungkinkan ia menyimpan dan mengingat informasi besar. Bahkan kecepatan membacanya 20.000 kata permenit. Tapi kalau membaca secepat itu, kayaknya kurang seru juga sih. He-he.

Lanjutkan membaca “Reid Spancer, Membaca dengan Kecepatan Super”

Gurunya Baik, Tapi Tidak dengan Mata Pelajarannya

Siapa guru yang paling berpengaruh bagi Anda? Mengapa?

Tanpa guru, jadi apakah diri kita ini? Sejak kecil, kita mungkin sering mendengar kalimat “Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Menurutku menjadi seorang guru harus panggilan dari hati. Guru, jika hanya mengincar gaji bulanan, aku yakin pasti akan kecewa. Bagaimana tidak, begitu banyak murid yang harus diajarnya, tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat. 

Di negara kita, profesi para guru masih harus terus diperjuangkan. Tapi bekerja dengan hati, membuat ilmu yang diajarkan para guru terus mengalir ke anak didiknya. 

Lanjutkan membaca “Gurunya Baik, Tapi Tidak dengan Mata Pelajarannya”

Untuk Diriku di Masa Remaja

Apa nasihat yang ingin Anda berikan pada diri remaja Anda?

Hai, Riska. Seru ya bisa  baca buku setiap hari tanpa memikirkan dunia. Senang sekali rasanya, pernah punya “dunia lain” di kehidupan ini. Dunia yang tidak pernah dijamah siapapun. Hanya kita yang tahu. Tapi kayaknya, kunjungan ke dunia itu tidak akan kita lakukan lagi ya. Karena dunia nyata, tampaknya menarik kita cukup erat. Sampai-sampai, imajinasi tidak lagi berlari. 

Terima kasih ya, sudah banyak bersabar. Terima kasih mau belajar dewasa di usia yang masih belia. Dan terima kasih lagi, karena kamu berhasil menjadi yang kamu inginkan, masih mencintai buku dan belajar walau banyak fokus yang harus dibagi-bagi. Kamu belajar mengambil hikmah dari setiap kejadian, bukan dari sisimu saja. 

Lanjutkan membaca “Untuk Diriku di Masa Remaja”

Nostalgia

Apa yang membuat Anda bernostalgia?

Nostalgia. Sebuah kata yang kalau dipikir-pikir, terasa umurnya sudah mulai menua ya. Tapi memang tidak selalu sih. Karena saat remaja pun, aku juga suka bernostalgia. Tentang apa? Tentang kebersamaanku dengan bapak. Mungkin karena saat kecil aku punya banyak sekali waktu berduaan dengan bapak. Sebaliknya saat beranjak remaja, ada banyak keterbatasan. 

Aku juga terlatih untuk bersikap maskulin. Hal ini sering menjadikan aku anak yang tidak mau dibantu atau merasa tidak butuh bantuan. Dan sebagai anak remaja, tentu saja gejolak jiwa mudaku banyak bertanya-tanya dan ingin berontak. Namun, aku adalah anak yang penurut. Lebih baik memendam banyak pertanyaan daripada melontarkannya pada ibu atau bapak. Karena ada dua kemungkinan jawaban yang akan aku dapat. Jawaban yang tidak jelas atau kalimat “anak kecil tidak perlu tau!” Ha-ha. 

Lanjutkan membaca “Nostalgia”