Tidak Semua Air Mata Terlihat

Tidak semua duka terlihat dari air mata. Tentang kehilangan, kenangan bersama ayah, dan cara setiap orang memproses rasa sedih dengan caranya masing-masing.

Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan pemberitaan tentang kepergian salah satu musisi Indonesia yang dikenal sebagai Duta Persahabatan, Vidi Aldiano. Banyak orang menyoroti kebaikan dan energi positif yang selalu dibawanya. Timeline-ku pun dipenuhi cerita tentang sosoknya yang hangat dan menyenangkan.

Aku lebih banyak membaca kisah-kisah baik tentangnya. Kalau ada komentar yang bernada sinis atau julid, biasanya aku hanya melihatnya dari kutipan orang lain. Entah kenapa, rasanya lebih nyaman fokus pada cerita-cerita yang membawa kebaikan.

Di antara berbagai tulisan yang muncul, ada satu yang cukup menarik perhatianku. Tulisan itu membahas tentang Sheila, sang istri, yang disebut mengalami delayed grief—duka yang datang terlambat. Saat kejadian, ia tampak seperti tidak memproses apa pun. Namun bisa jadi, rasa kehilangan yang sangat dalam justru datang ketika ia sudah sendirian.


Tidak semua duka terlihat. Sebagian hanya hadir di antara langit sore
dan kenangan.
Lanjutkan membaca “Tidak Semua Air Mata Terlihat”

Di Antara Kopi yang Dingin dan Percakapan yang Tak Ingin Dimulai

Refleksi ringan tentang menjadi introvert di dunia yang ramai: kopi yang terlupa, telepon yang tak diangkat, dan keinginan kecil untuk tetap punya ruang sunyi sendiri.

Sebagai perempuan yang sering mengaku dirinya introvert, aku cukup sering berhadapan dengan aktivitas yang membuat napas harus ditarik lebih dalam dari biasanya.

Beberapa waktu lalu, aku mengiklankan sebuah kegiatan komunitas melalui WhatsApp Business milikku. Awalnya kukira semua akan berjalan biasa saja. Sampai aku baru sadar—terlambat—bahwa iklan itu ternyata terhubung dengan akun Facebook pribadiku.

Dan begitulah.

Nomor pribadiku mulai ramai.

Kadang bukan kopinya yang melelahkan,
melainkan percakapan yang tak ingin dimulai.
Lanjutkan membaca “Di Antara Kopi yang Dingin dan Percakapan yang Tak Ingin Dimulai”