Ada ibu-ibu yang bangun lebih pagi bukan karena tidak mengantuk, tapi karena itu satu-satunya waktu tenang yang mereka punya. Saat rumah masih sunyi. Saat belum ada yang memanggil “Buuuu…”. Saat isi kepala belum seramai biasanya.
Dan ternyata, kebiasaan itu banyak sekali dilakukan para ibu. Salah satunya tanteku. Sejak kecil aku memang tahu tante termasuk orang yang rajin. Tapi aku baru benar-benar menyadari rutinitasnya setelah aku dan keluargaku pindah ke rumah sebelah. Hampir setiap dini hari, samar-samar terdengar suara cetekan kompor dari dapurnya.
Awalnya aku penasaran. Di pagi harinya, sesaat sebelum tante berangkat kerja, aku bertanya apa yang ia lakukan sepagi itu.

“Biar gak buru-buru siapin bekal dan sayur makan siang di rumah. Kalau gak gitu, gak sempat,” jawab tanteku.
Tante bekerja di sebuah kantor yang tidak jauh dari rumah. Meski begitu, ia tetap selalu mengusahakan pulang saat jam istirahat siang. Padahal di rumahnya juga tidak selalu ada orang lain. Mungkin buat sebagian orang, akan lebih menyenangkan kalau waktu istirahat dihabiskan di kantor saja. Mengobrol dengan teman-teman lain yang juga tidak pulang saat istirahat. Tapi tanteku punya alasan sendiri.
“Kalau bisa pulang, aku pulang aja. Bisa rebahan sebentar. Apalagi gak ada orang, enak makin tenang istirahatnya,” jawab tanteku lagi.
Dan entah kenapa, jawaban itu baru benar-benar kupahami setelah memiliki anak lebih dari dua. Ternyata ketenangan buat seorang ibu memang bisa jadi sesuatu yang sangat membahagiakan. Setiap hari “ketempelan”, mendengar suara terus-menerus, menjawab pertanyaan tanpa jeda, menemani anak bermain, belajar, makan, dan segala hal lainnya, kadang membuat seorang ibu jadi overstimulasi. Yang tadinya merasa bisa mengelola emosi dengan baik, kok sekarang jadi lebih mudah tersulut. Ha-ha.
“Ih, ibu itu harusnya bisa menjaga emosi!”
Eits, setiap ibu punya medan perjuangan yang berbeda-beda. Daripada sibuk membandingkan diri dengan ibu lain yang malah tidak menghasilkan kebaikan apa pun, lebih baik mencari cara agar kita tetap bisa menemukan rasa bahagia di keluarga kecil kita sendiri.
Kebiasaan tanteku yang selalu bangun lebih awal dari seluruh anggota keluarga akhirnya ikut aku contoh. Bedanya, kalau tante masak, aku memilih berolahraga.
Aku ingin hidup sehat. Aku ingin melihat anak-anak tumbuh dewasa dan membentuk kehidupannya sendiri. Aku ingin seperti ibuku, yang bisa melihat tumbuh kembang cucu-cucunya. Dan olahraga adalah salah satu ikhtiarnya.
Pagi hari jadi waktu yang paling pas buatku. Karena aku bisa melakukannya tanpa terlalu banyak interaksi dengan orang lain. Hanya ada aku dan isi kepalaku sendiri.
Jujur saja, sebagai manusia introvert yang juga suka dengan anak-anak, aku memang butuh jeda untuk mengembalikan energi setelah berinteraksi sepanjang hari.
Dan aku menyadari, saat diri sendiri diberi ruang untuk bernafas sebentar, aku bisa menghadapi hari dengan lebih waras. Menjalani rutinitas dengan hati yang lebih ringan, lebih tenang, dan lebih penuh energi.