Kenapa Ibu Jarang Punya Waktu Sendiri?

Dulu, aku selalu membayangkan menjadi ibu adalah hal yang menyenangkan. Sebagai perempuan yang memang menyukai anak-anak, aku senang berada di dekat mereka. Rasanya ramai, hangat, dan menyenangkan. Bahkan sejak sebelum menikah, aku sering membawa pulang keponakan atau sepupu kecil ke rumah. Istilahnya “menculik” mereka sebentar untuk menemaniku bermain.

Mereka sih happy-happy aja. Ibu dan tanteku juga tampak santai saja saat anak-anaknya aku bawa pulang.

Mencari waktu sendiri di tengah rutinitas rumah, dan belajar menerima bahwa setiap ibu punya perjuangannya masing-masing.

Padahal kalau dipikir-pikir sekarang, sebenarnya saat itu aku merasa sedikit heran. Kok bisa ya, ibu-ibu ini rela anaknya aku “culik”? Karena seingatku, waktu kecil aku hampir tidak pernah jauh dari ibuku. Kalau diingat lagi sekarang, kok aku jadi seperti ibu-ibu julid ya, ha-ha. Oh, ternyata karena mereka memang butuh jeda untuk diri sendiri. 

Setelah memiliki satu anak, aku belum terlalu merasakan beratnya menjadi ibu. Karena hanya ada satu bocah kecil yang bersamaku selama 24 jam. Energiku masih terasa banyak. Aku juga merasa masih punya cukup ruang untuk diriku sendiri.

Aku masih bisa ikut kelas online maupun offline untuk mencari ilmu. Bangun dini hari juga bukan hal yang berat. Kalau siang mengantuk, aku masih bisa mencuri waktu untuk tidur. Rasanya semuanya masih bisa dijalani dengan cukup tenang.

Tapi setelah memiliki dua, lalu tiga anak, aku mulai memahami sesuatu. Ternyata waktu sendiri itu tidak selalu mudah didapatkan.

Karena setiap anak punya ritme yang berbeda. Ada yang ingin bermain, ada yang ingin ditemani belajar, ada yang ingin ditemani makan, dan semuanya sering datang di waktu yang bersamaan.

Apalagi saat dua anak sudah mulai sekolah. Rutinitas pagi terasa jauh lebih ramai dibanding sebelumnya. Pernah suatu hari aku mencoba bangun dini hari untuk “me time”. Harapannya sih ingin menikmati suasana tenang sebentar. Tapi ternyata paginya malah terasa kewalahan sendiri.

Aku paling suka berolahraga saat suasana masih sepi. Kalau olahraga jam 4 pagi, kadang si bungsu sesekali ikut terbangun. Tapi kalau memilih olahraga setelah kedua kakaknya sekolah, aku juga harus siap berhenti sewaktu-waktu saat si bungsu minta ditemani bermain atau sarapan.

Dilema ya?

Dan aku yakin, ibu-ibu lain juga punya perjuangannya masing-masing. Meski bentuknya mungkin berbeda-beda.

Yang bisa aku lakukan sekarang adalah berusaha menjalani peran sebaik mungkin sambil tetap memberikan ruang untuk diriku sendiri. Meski kecil. Meski sebentar. Karena aku percaya, ibu yang bahagia akan lebih mudah membersamai anak-anaknya dengan penuh semangat.

Aku juga terus belajar untuk tidak membandingkan diriku atau keluargaku dengan orang lain. Karena setiap rumah punya cerita dan perjuangannya sendiri-sendiri.

Akhirnya, mungkin memang bukan tentang siapa yang paling hebat menjalani peran sebagai ibu. Tapi tentang bagaimana kita bisa terus bertahan, saling memahami, dan saling menyemangati 🤍

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar