Ada buku yang menarik perhatianku karena sudah lama masuk daftar bacaan. Ada juga buku yang akhirnya kubaca hanya karena tidak sengaja melihat cover-nya. Tragedi Wabah Kelelawar termasuk yang kedua.
Email rekomendasi dari Gramedia.com kembali membuatku penasaran. Dengan cover yang didominasi warna hitam dan sentuhan warna emas, buku ini terlihat misterius. Cukup untuk membuatku berhenti sebentar dan berpikir, “Ini cerita tentang apa, ya?”

Akhirnya, buku Tragedi Wabah Kelelawar yang ditulis Usup tak perlu menunggu waktu lama untuk dibaca di e-reader kesayanganku.
Buku ini mengisahkan tentang dua orang wanita bernama Sin dan Neta. Sin adalah seorang penyelidik, sedangkan Neta merupakan seorang penulis online.
Apakah seperti yang aku pikirkan saat membaca profesi kedua tokohnya?
Ya.
Seperti kebanyakan serial agen rahasia yang sering kutonton, kedua wanita dewasa ini seperti magnet yang akan selalu berdekatan dengan kasus. Keduanya memiliki karakter dan peran yang berbeda, tetapi justru terasa saling melengkapi ketika berusaha memecahkan kasus yang membuat penasaran.
Buat penggemar serial agen rahasia seperti aku, buku ini cukup menyenangkan untuk dibaca.
Aku bisa membayangkan sendiri suasana, karakter, sampai bagaimana adegan demi adegan terjadi saat membaca halaman demi halaman. Mungkin ini salah satu hal yang paling kusukai dari membaca cerita misteri. Imajinasi kita ikut bekerja.
Berbeda dengan menonton lewat layar kaca. Kalau menonton serial, aku tinggal duduk dan menikmati bagaimana sutradara sudah menggambarkan semuanya. Sedangkan lewat buku, aku bebas membuat “film” versiku sendiri di dalam kepala. Ha-ha.
Oh iya, Tragedi Wabah Kelelawar menggunakan dua sudut pandang, yaitu dari sudut pandang Sin dan Neta.
Bagiku, penggunaan dua sudut pandang ini cukup membantu mengenal kedua tokohnya. Pembaca tidak hanya mengikuti bagaimana sebuah kejadian terlihat dari satu karakter, tetapi juga mengetahui apa yang terjadi dari sisi karakter lainnya.
Hanya saja, ada satu bagian yang membuatku agak kesal.
Akhir ceritanya.
Aku memang termasuk pembaca yang kurang bersahabat dengan cerita yang berakhir menggantung. Setelah mengikuti kasus dan dibuat penasaran dari awal, rasanya ingin mendapatkan penutup yang benar-benar selesai.
Bukannya malah masih harus duduk sambil menerka-nerka, “Jadi sebenarnya bagaimana?”
Bagi sebagian pembaca, ending seperti ini justru menyenangkan karena memberikan ruang untuk membuat interpretasi sendiri. Tapi aku? Tidak, terima kasih. Aku membutuhkan kepastian. Setidaknya untuk cerita yang sudah kubaca sampai selesai. Ha-ha.
Walaupun awalnya sempat kesal dengan bagian akhirnya, ada satu hal yang kemudian membuatku cukup senang ketika mengetahui latar belakang penulisnya.
Ternyata, Usup berasal dari Loa Janan, Kalimantan Timur. Sebagai masyarakat Kalimantan Timur, tentu ada rasa bangga ketika menemukan buku yang ditulis oleh seseorang yang berasal dari provinsi yang sama. Walaupun tidak saling mengenal, tetap saja rasanya seperti menemukan “orang sekampung” di antara deretan buku yang sedang dibaca.
Tragedi Wabah Kelelawar mungkin bukan buku dengan akhir cerita yang paling sesuai dengan seleraku, tetapi perjalanan Sin dan Neta dalam menghadapi kasus tetap cukup menyenangkan untuk diikuti. Terutama buat pembaca yang menyukai misteri, penyelidikan, dua sudut pandang, dan cerita yang memungkinkan kita ikut menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Kalau suatu hari ada lanjutan kisah Sin dan Neta, sepertinya aku masih cukup penasaran untuk kembali mengikuti perjalanan keduanya.
Tentu dengan satu permintaan kecil: semoga kali ini penulis memberikan akhir cerita yang tidak membuatku harus menerka-nerka lagi. Ha-ha.
Detail Buku
Judul Buku: Tragedi Wabah Kelelawar
Penulis: Usup
Penerbit: Lovrinz Publishing
Harga e-book: Rp49.000