Aku yang Telah Lama Hilang adalah buku karya Nago Tejana, M.Psi., Psikolog. Sebelumnya aku sempat melihat buku ini di deretan etalase Gramedia. Tertarik? Dari judulnya sih iya. Tapi kalau melihat cover depannya, justru tidak terlalu.
Kenapa? Karena covernya menampilkan seorang pria berdasi yang sedang menenteng tas kerja. Dari raut wajahnya terlihat begitu lelah.

Entah kenapa, aku merasa agak kurang relate. Mungkin karena keseharianku lebih banyak berada di ranah domestik. Aku sampai sempat berpikir, mungkin kalau cover depannya bergambar seseorang memakai celemek sambil memegang wajan, aku akan jauh lebih cepat membelinya. Tidak pakai menimbang-nimbang dulu. He-he.
Usai membaca buku Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka, aku melihat judul buku ini masuk dalam daftar bacaan yang direkomendasikan. Tanpa berpikir panjang lagi, akhirnya aku langsung membelinya.
Di halaman-halaman awal, aku langsung disambut dengan kalimat berikut.
“Aku yakin, upayamu untuk memilih buku ini diawali keresahan yang sedang terjadi dalam dirimu. Entah mungkin kamu sedang merasa asing dengan diri sendiri, berjalan seperti tanpa arah, atau tidak puas dengan hidupmu secara menyeluruh.”
Jujur saja, setelah membaca paragraf itu aku langsung bertanya pada diri sendiri, apakah aku memang sedang punya masalah?
Aku memang beberapa kali penasaran. Kalau melihat ciri-ciri orang yang sedang mengalami gangguan kesehatan mental, rasanya aku tidak masuk dalam kategorinya. Tapi di sisi lain, aku juga tidak merasa cukup yakin. Lagi pula, tentu saja aku tidak bisa membuat diagnosis hanya berdasarkan penilaianku sendiri.
Karena itulah aku memutuskan untuk tetap melanjutkan membaca buku ini. Siapa tahu aku menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan yang selama ini hanya berputar-putar di dalam kepala.
Salah satu bagian yang paling mengena bagiku adalah ketika penulis mengatakan,
“Kadang kita terjebak dengan ketakutan di dalam kepala kita, tidak sadar bahwa ternyata orang yang kita ajak berhubungan juga terjebak dengan ketakutan yang sama.”
Kalimat itu seperti mengingatkanku lagi pada satu kebiasaan yang sering kulakukan: terlalu jauh memikirkan masa depan.
Bukan lima atau sepuluh tahun lagi. Tapi masa depan yang bahkan belum sangat jauh dan belum tentu terjadi.
Kesel, kan?
Padahal, belum tentu semua kekhawatiran itu benar-benar akan datang. Sering kali yang melelahkan justru pikiran kita sendiri.
Setelah menyelesaikan buku ini, aku justru semakin yakin bahwa saat ini aku masih berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Hal-hal yang selama ini kutakutkan ternyata belum terjadi—dan semoga memang tidak akan pernah terjadi.
Meski begitu, buku ini tetap memberiku banyak ruang untuk berefleksi. Bahwa mengenali diri sendiri bukan berarti kita sedang bermasalah. Kadang kita hanya sedang belajar memahami apa yang sedang terjadi di dalam kepala dan hati kita.
Kurasa, inilah alasan kenapa akhir-akhir ini aku semakin senang membaca buku-buku bertema psikologi dan pengembangan diri. Rasanya selalu ada sudut pandang baru yang bisa dipelajari. Tentu saja, tanpa melupakan bacaan favoritku sejak dulu: novel dan buku-buku fiksi.
By the way, ada satu hal yang cukup mengganggu selama membaca ebook ini. Entah kenapa aplikasi Gramedia Digital berkali-kali mengalami gangguan saat membuka buku ini. Seperti ada bug yang muncul berulang kali.
Lucunya, ketika aku membuka judul ebook yang lain, semuanya berjalan normal. Jadi aku masih belum tahu apakah masalahnya memang ada di file buku ini atau memang aplikasi Gramedia Digital sedang kurang bersahabat saat itu.
Kalau kamu sedang mencari buku psikologi dengan bahasa yang ringan dan mengajak pembaca berdialog dengan dirinya sendiri, menurutku Aku yang Telah Lama Hilang layak masuk daftar bacaanmu.
Judul : Aku yang Telah Lama Hilang
Penulis : Nago Tejana, M.Psi., Psikolog
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama