Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah

Refleksi seorang ibu tentang keinginan berolahraga di gym, izin suami, perubahan tubuh setelah menikah dan melahirkan, serta belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.

Ada wishlist kecil yang sejak lama kusimpan rapi di kepala, tapi belum juga kutandai sebagai “terlaksana”. Bukan karena terlalu mahal, bukan pula karena terlalu muluk. Wishlist itu sederhana: berolahraga di tempat gym.

Kenapa belum terlaksana? Karena sampai hari ini, aku belum mendapat izin dari suami.

“Silakan berolahraga,” katanya suatu hari ketika aku iseng meminta izin, “tapi yang bisa dikerjakan di rumah saja ya. Lari atau bersepeda boleh. Tapi kalau ke tempat gym, tidak dulu.”

Belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.
Lanjutkan membaca “Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah”

Kopi Susu Itu Tidak Salah, Hanya Bukan Punyaku

Cerita ringan tentang kopi susu gula aren, selera yang berbeda, dan pelajaran kecil untuk jujur pada diri sendiri—bahwa tidak semua yang disukai banyak orang harus kita pilih.

“Sayang, kakak bawa kopi t**u,” kata suami sambil membuka pintu kamar.

Ia baru pulang dari Surabaya dan kali ini buah tangannya bukan oleh-oleh khas kota, melainkan sebotol kopi susu. Ha-ha.

Bukan karena istrinya penggemar kopi susu gula aren. Justru sebaliknya. Kopi itu titipan teman-teman kantor, dan entah bagaimana, aku ikut kebagian.

“Udah di dalam kulkas,” tambahnya.

“Oh ya? T**u apa?” tanyaku.

Di kotaku, merek kopi itu belum punya gerai. Aku hanya sering melihatnya lalu-lalang di media sosial—ditenteng orang-orang yang pulang dinas, dititipkan dengan penuh harap pada keluarga yang sedang bepergian.

Kopi susu itu tidak salah. Rasanya juga tidak buruk. Hanya saja, bukan punyaku.
Lanjutkan membaca “Kopi Susu Itu Tidak Salah, Hanya Bukan Punyaku”

Review Buku Broken Strings: Kisah Child Grooming yang Penting Dibaca Orang Dewasa

“Diam tidak selalu berarti menyerah. Kadang, diam adalah cara paling aman untuk menyusun strategi pergi.”

Broken Strings adalah salah satu buku yang tidak pernah kurencanakan untuk kubaca di awal tahun 2026. Kalau bukan karena kekuatan media sosial, mungkin aku tidak akan pernah tahu bahwa buku ini diterbitkan. Bahkan, kisah yang dituliskan Aurelie Moeremans ini sama sekali tidak pernah terbayang akan ada—apalagi dibagikan ke ruang publik.

Awalnya aku ragu untuk mulai membaca. Banyak komentar yang mengatakan tidak sanggup menyelesaikannya. Bahkan sejak halaman awal, penulis sudah memberi peringatan: jika merasa terpicu, pembaca disarankan berhenti dan memberi jeda. Peringatan itu justru membuatku semakin takut.

Broken Strings – Buku ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengajak kita lebih peduli.
Lanjutkan membaca “Review Buku Broken Strings: Kisah Child Grooming yang Penting Dibaca Orang Dewasa”