Review Hana Tara Hata: Kisah Masa Lalu yang Membuka Potongan Semesta

Ulasan novel Hana Tara Hata karya Tere Liye, kisah masa lalu salah satu tokoh dalam serial Bumi yang memperlihatkan kemampuan membaca alam, pilihan hidup, dan kasih sayang keluarga.

Kalau kamu penggemar karya Tere Liye, terutama serial Bumi, pasti tidak asing dengan judul-judul seperti Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz dan Batozar, Komet, Komet Minor, Selena, Nebula, Si Putih, Lumpu, Bibi Gill, Sagaras, Matahari Minor, ILY, hingga Aldebaran. Serial panjang ini seperti semesta sendiri yang saling terhubung satu sama lain.

Membacanya berurutan memang memberikan pengalaman yang lebih utuh. Setiap buku seperti membuka pintu baru menuju dunia lain, dengan karakter-karakter yang terus berkembang.

Nah, tahun lalu aku membeli satu buku Tere Liye yang judulnya cukup unik: Hana Tara Hata. Nama ini mungkin tidak terlalu asing bagi pembaca serial Bumi, karena ia memang salah satu karakter yang muncul dalam semesta tersebut.

Meski dibaca terpisah dari buku-buku lain, rasanya tetap bisa dinikmati tanpa harus membaca seluruh serial sebelumnya.
Lanjutkan membaca “Review Hana Tara Hata: Kisah Masa Lalu yang Membuka Potongan Semesta”

Ketika Aku Pernah Terlalu Bersemangat Mengkampanyekan ASI

Dari fase idealistis hingga belajar merangkul, tentang perjuangan, empati, dan perjalanan sebagai ibu.

Kadang hidup mempertemukan kita kembali pada bagian diri yang pernah begitu menyala. Lewat undangan kecil. Lewat notifikasi yang tampak biasa saja.

“Eh, ada undangan zoom nih,” kata Mbak Yona. Salah satu temanku di komunitas. Meski komunitas ini sudah lama sekali vakumnya, grup pengurusnya tidak pernah bubar. Mungkin karena secara emosional, kami masih saling terikat. Namun untuk menjalankan visi dan misinya, tidak lagi sekuat dulu.

“Aku juga dapat undangan nih,” sahutku. Tampaknya undangan diberikan kepada kami yang berstatus admin WAG. Ha-ha.

Pikiranku kembali melayang ke beberapa tahun lalu.

Lanjutkan membaca “Ketika Aku Pernah Terlalu Bersemangat Mengkampanyekan ASI”

Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar

Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.

Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.

Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”

Lanjutkan membaca “Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar”

Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang

Dari bangun pagi demi Doraemon hingga menjadi ibu yang diam-diam membeli komik lagi. Sebuah nostalgia generasi 90-an yang tumbuh bersama anak.

Sebagai anak generasi 90-an, aku dan banyak anak lainnya tumbuh bersama Doraemon dan Nobita. Hari Minggu selalu terasa istimewa. Di hari sekolah, rasanya ingin sekali bangun siang. Tapi anehnya, ketika hari Minggu tiba, tubuh justru otomatis terbangun lebih pagi—hanya demi satu hal: menonton Doraemon dan kartun lainnya.

Aku termasuk beruntung. Tinggal di perumahan yang memiliki fasilitas perpustakaan kecil. Koleksinya memang tidak banyak, tetapi cukup beragam untuk membuatku betah berlama-lama di sana. Salah satu koleksi yang paling lengkap adalah komik Doraemon. Jika ada seri yang tidak tersedia, itu artinya sedang dipinjam anggota lain. Dan itu sering terjadi.

Sudah membaca komiknya, masih juga menonton animasinya? Tentu saja! Meski alurnya sama, sensasi membaca dan menonton tetap berbeda. Doraemon selalu terasa menyenangkan—hangat, lucu, sekaligus penuh pesan sederhana tentang persahabatan.

Anak 90-an mana suaranya? 🙋🏻‍♀️💙 Bangun pagi di hari Minggu demi Doraemon.
Lanjutkan membaca “Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang”

Hari Ini Aku Ibu yang Baik, Besok? Kita Lihat Nanti

Refleksi seorang ibu tentang menerima pujian dari anak, mengelola emosi, dan berusaha menjadi lebih baik setiap hari—meski tak selalu sempurna.

Ada malam-malam yang terasa biasa saja. Tidak ada pencapaian besar. Tidak ada kejadian dramatis. Hanya rutinitas, suara anak-anak, dan kelelahan yang pelan-pelan turun bersama gelap. Tapi justru di malam seperti itulah, kadang datang kalimat yang membuat hati berhenti sejenak.

“Mah, mamah adalah yang terbaik,” kata Bunga menjelang tidur. Ia memberiku ciuman dan pelukan yang sangat erat.

Aku hampir saja menjawab dengan nada bercanda, “Ih, ada apa nih? Kok tiba-tiba muji-muji?” Untung kalimat itu tidak sempat keluar. Otakku cepat mengingatkan: terima saja. Jangan dicurigai. Jangan dipelintir. Anakmu sedang tulus.

Mengulang hari ini di kepala. Menerima yang kurang. Mensyukuri yang cukup.
Lanjutkan membaca “Hari Ini Aku Ibu yang Baik, Besok? Kita Lihat Nanti”

Balikpapan, Kota yang Tumbuh Bersama Kenangan

Refleksi tentang Balikpapan di usia ke-129—kota kelahiran yang tumbuh bersama kenangan, perubahan, dan harapan akan masa depan yang ramah anak dan pendidikan.

Setiap kota punya caranya sendiri untuk tinggal di ingatan.

Ada yang hadir lewat bangunan megah, ada yang melekat lewat hiruk-pikuknya.

Balikpapan memilih cara yang lebih tenang—ia tinggal lewat kenangan, kebiasaan kecil, dan rasa pulang yang tidak banyak menuntut penjelasan.

Di usianya yang ke-129, Balikpapan bukan sekadar kota kelahiran. Ia adalah ruang tempat aku belajar mencintai, mengenang, dan menumbuhkan harapan.

Lanjutkan membaca “Balikpapan, Kota yang Tumbuh Bersama Kenangan”

Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku

Refleksi tentang pengalaman mencoba fitur karikatur ChatGPT, jejak digital, dan bagaimana tulisan di Ruang Cerita membentuk gambaran diri—pelan, jujur, dan manusiawi.

Berawal dari melihat postingan seorang content creator bertuliskan,

“Create a caricature of me and my job based on everything you know about me” di ChatGPT.

Gambar yang dihasilkan terasa sangat merepresentasikan siapa mereka di media sosial selama ini. Mungkin hal seperti itu memang terasa mudah bagi ChatGPT. Ia hanya perlu mengumpulkan potongan-potongan informasi yang tersebar di dunia maya, lalu merangkainya menjadi satu gambaran utuh.

Lalu aku bertanya dalam hati, bagaimana dengan aku—yang minim postingan di media sosial?

Apa yang akan disajikan ChatGPT tentang diriku?

Oh… oh… oh. Ternyata aku pun tidak luput dari pantauannya.

Lanjutkan membaca “Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku”

Catatan Kecil Sebelum Hari Ini Ditutup

Refleksi malam seorang ibu tentang lelah, amarah, penyesalan, dan usaha berdamai dengan diri sendiri sebelum hari ditutup pelan-pelan.

Malam datang tanpa banyak suara. Lampu-lampu sudah diredupkan, rumah mulai bernapas lebih pelan. Di sela kelelahan yang belum sepenuhnya pergi, ada keinginan sederhana: menutup hari ini dengan jujur. Bukan dengan rangkuman prestasi, bukan juga daftar hal yang belum tercapai—melainkan dengan mengakui apa yang benar-benar terasa di dalam dada.

Hari ini tidak istimewa, tapi juga tidak sepenuhnya biasa. Ada tawa kecil yang sempat muncul, ada lelah yang diam-diam menumpuk, ada perasaan yang tidak sempat diberi nama. Maka sebelum hari ini benar-benar ditutup, aku ingin meninggalkan satu catatan kecil. Sebagai penanda bahwa aku hadir, bertahan, dan mencoba mendengarkan diriku sendiri—meski hanya sebentar.

“Tidak semua hari perlu dirayakan. Beberapa cukup dicatat, lalu dilepas dengan pelan.”
Lanjutkan membaca “Catatan Kecil Sebelum Hari Ini Ditutup”

Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah

Refleksi seorang ibu tentang keinginan berolahraga di gym, izin suami, perubahan tubuh setelah menikah dan melahirkan, serta belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.

Ada wishlist kecil yang sejak lama kusimpan rapi di kepala, tapi belum juga kutandai sebagai “terlaksana”. Bukan karena terlalu mahal, bukan pula karena terlalu muluk. Wishlist itu sederhana: berolahraga di tempat gym.

Kenapa belum terlaksana? Karena sampai hari ini, aku belum mendapat izin dari suami.

“Silakan berolahraga,” katanya suatu hari ketika aku iseng meminta izin, “tapi yang bisa dikerjakan di rumah saja ya. Lari atau bersepeda boleh. Tapi kalau ke tempat gym, tidak dulu.”

Belajar merawat diri lewat olahraga pelan-pelan di rumah.
Lanjutkan membaca “Tentang Olahraga Pelan-Pelan di Rumah”

Pertanyaan Sederhana

Refleksi seorang ibu tentang pertanyaan sederhana di posyandu, makna di balik tumbuh kembang anak, dan belajar tidak terburu-buru menilai dari satu percakapan singkat.

Pertanyaan Sederhana di Posyandu | Refleksi Ibu tentang Tumbuh Kembang Anak

Ada pertanyaan-pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi membuat kita berhenti sejenak—bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena tidak yakin sedang berada di percakapan yang mana.

Pertanyaan itu datang ke posyandu, di antara antrean, catatan tumbuh kembang, dan suara anak-anak kecil.

“Raisa sudah bisa apa, Bu?” tanya petugas kesehatan di hadapanku.

“Hah?” jawabku sambil mengernyitkan kening. Bukan. Bukan karena aku tidak mendengar. Aku hanya bingung harus menanggapi dengan cara seperti apa. Di kepalaku, tiba-tiba muncul jawaban absurd yang ingin sekali kulontarkan. 

Lanjutkan membaca “Pertanyaan Sederhana”