Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja: Review Buku tentang Inner Child

Review buku Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja, buku psikologi yang mengajak pembaca mengenal inner child, memahami luka masa kecil, dan belajar merespons kehidupan dengan lebih bijak.

Ada satu hal yang membuatku selalu tertarik membaca buku-buku psikologi: keinginan untuk mengenal diriku sendiri lebih jauh. Rasanya seru sekali mencari tahu bagaimana pengalaman masa kecil membentuk diri kita hari ini.

Apakah aku memiliki trauma masa kecil?

Mungkin saja.

Namun sampai saat ini aku belum pernah benar-benar mencari tahu secara mendalam dengan psikolog secara langsung.

Maka membaca buku-buku seperti ini terasa seperti langkah kecil yang bisa kulakukan. Setidaknya agar aku bisa lebih memahami diriku sendiri—dan semoga saja tidak menjadi orang tua yang toxic bagi anak-anak.


Kadang kita membaca buku psikologi bukan untuk mencari jawaban tentang orang lain, tapi untuk mengenal diri kita sendiri.
Lanjutkan membaca “Nggak Apa-Apa Kalau Sedih Nangis Aja: Review Buku tentang Inner Child”

Emosi Ibu dan Rasa Menyesal

Sebuah refleksi emosi seorang ibu—dari pagi yang penuh semangat, ledakan emosi di siang hari, hingga penyesalan saat malam tiba. Belajar memahami diri dan mencari cara menyalurkan emosi dengan lebih sehat.

Menjadi ibu sering kali terasa seperti naik roller coaster emosi. Ada hari-hari ketika semuanya terasa ringan dan menyenangkan. Namun di hari yang lain, emosi bisa datang tanpa permisi—bahkan dari hal-hal kecil yang sebelumnya tampak sepele.

Aku yakin bukan hanya aku yang pernah mengalaminya. Tapi untuk kali ini, aku bercerita tentang diriku sendiri.

Ibu mana yang di pagi harinya tenang, tapi tiba-tiba siang harinya meledak?

Lalu di malam hari menyesal saat menatap anak-anak yang sudah tertidur pulas?

Aku.

Iya, aku.

Belajar memahami diri dan mencari cara menyalurkan emosi dengan lebih sehat.
Lanjutkan membaca “Emosi Ibu dan Rasa Menyesal”

Tidak Semua Air Mata Terlihat

Tidak semua duka terlihat dari air mata. Tentang kehilangan, kenangan bersama ayah, dan cara setiap orang memproses rasa sedih dengan caranya masing-masing.

Beberapa hari ini media sosial diramaikan dengan pemberitaan tentang kepergian salah satu musisi Indonesia yang dikenal sebagai Duta Persahabatan, Vidi Aldiano. Banyak orang menyoroti kebaikan dan energi positif yang selalu dibawanya. Timeline-ku pun dipenuhi cerita tentang sosoknya yang hangat dan menyenangkan.

Aku lebih banyak membaca kisah-kisah baik tentangnya. Kalau ada komentar yang bernada sinis atau julid, biasanya aku hanya melihatnya dari kutipan orang lain. Entah kenapa, rasanya lebih nyaman fokus pada cerita-cerita yang membawa kebaikan.

Di antara berbagai tulisan yang muncul, ada satu yang cukup menarik perhatianku. Tulisan itu membahas tentang Sheila, sang istri, yang disebut mengalami delayed grief—duka yang datang terlambat. Saat kejadian, ia tampak seperti tidak memproses apa pun. Namun bisa jadi, rasa kehilangan yang sangat dalam justru datang ketika ia sudah sendirian.


Tidak semua duka terlihat. Sebagian hanya hadir di antara langit sore
dan kenangan.
Lanjutkan membaca “Tidak Semua Air Mata Terlihat”

Review Hana Tara Hata: Kisah Masa Lalu yang Membuka Potongan Semesta

Ulasan novel Hana Tara Hata karya Tere Liye, kisah masa lalu salah satu tokoh dalam serial Bumi yang memperlihatkan kemampuan membaca alam, pilihan hidup, dan kasih sayang keluarga.

Kalau kamu penggemar karya Tere Liye, terutama serial Bumi, pasti tidak asing dengan judul-judul seperti Bumi, Bulan, Matahari, Bintang, Ceroz dan Batozar, Komet, Komet Minor, Selena, Nebula, Si Putih, Lumpu, Bibi Gill, Sagaras, Matahari Minor, ILY, hingga Aldebaran. Serial panjang ini seperti semesta sendiri yang saling terhubung satu sama lain.

Membacanya berurutan memang memberikan pengalaman yang lebih utuh. Setiap buku seperti membuka pintu baru menuju dunia lain, dengan karakter-karakter yang terus berkembang.

Nah, tahun lalu aku membeli satu buku Tere Liye yang judulnya cukup unik: Hana Tara Hata. Nama ini mungkin tidak terlalu asing bagi pembaca serial Bumi, karena ia memang salah satu karakter yang muncul dalam semesta tersebut.

Meski dibaca terpisah dari buku-buku lain, rasanya tetap bisa dinikmati tanpa harus membaca seluruh serial sebelumnya.
Lanjutkan membaca “Review Hana Tara Hata: Kisah Masa Lalu yang Membuka Potongan Semesta”

Ketika Aku Pernah Terlalu Bersemangat Mengkampanyekan ASI

Dari fase idealistis hingga belajar merangkul, tentang perjuangan, empati, dan perjalanan sebagai ibu.

Kadang hidup mempertemukan kita kembali pada bagian diri yang pernah begitu menyala. Lewat undangan kecil. Lewat notifikasi yang tampak biasa saja.

“Eh, ada undangan zoom nih,” kata Mbak Yona. Salah satu temanku di komunitas. Meski komunitas ini sudah lama sekali vakumnya, grup pengurusnya tidak pernah bubar. Mungkin karena secara emosional, kami masih saling terikat. Namun untuk menjalankan visi dan misinya, tidak lagi sekuat dulu.

“Aku juga dapat undangan nih,” sahutku. Tampaknya undangan diberikan kepada kami yang berstatus admin WAG. Ha-ha.

Pikiranku kembali melayang ke beberapa tahun lalu.

Lanjutkan membaca “Ketika Aku Pernah Terlalu Bersemangat Mengkampanyekan ASI”

Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar

Cerita sahur yang disambut dengan antusiasme anak, kesabaran ibu, dan belajar menahan emosi dalam satu rumah dengan beda generasi.

Ramadan selalu datang dengan cara yang berbeda setiap tahunnya. Kadang yang berubah adalah jadwal, kadang suasana hati, kadang justru anak-anak yang tiba-tiba terlihat lebih besar dari tahun sebelumnya. Dan di rumah ini, sahur pertama kali ini terasa sedikit lebih istimewa—bukan karena menu yang berbeda, tapi karena ada niat yang tumbuh di hati seorang anak.

Sahur pertama Ramadan kali ini ada yang berbeda. Rangga yang tahun-tahun sebelumnya hanya sanggup berpuasa setengah hari—yang kadang dilanjut, kadang tidak—kali ini berinisiatif untuk puasa penuh. Dulu-dulu sih, selalu aku, papah, dan neneknya yang mengingatkan, “ayo puasa.”

Lanjutkan membaca “Sahur Pertama dan Antusiasme yang Menguji Sabar”

Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang

Dari bangun pagi demi Doraemon hingga menjadi ibu yang diam-diam membeli komik lagi. Sebuah nostalgia generasi 90-an yang tumbuh bersama anak.

Sebagai anak generasi 90-an, aku dan banyak anak lainnya tumbuh bersama Doraemon dan Nobita. Hari Minggu selalu terasa istimewa. Di hari sekolah, rasanya ingin sekali bangun siang. Tapi anehnya, ketika hari Minggu tiba, tubuh justru otomatis terbangun lebih pagi—hanya demi satu hal: menonton Doraemon dan kartun lainnya.

Aku termasuk beruntung. Tinggal di perumahan yang memiliki fasilitas perpustakaan kecil. Koleksinya memang tidak banyak, tetapi cukup beragam untuk membuatku betah berlama-lama di sana. Salah satu koleksi yang paling lengkap adalah komik Doraemon. Jika ada seri yang tidak tersedia, itu artinya sedang dipinjam anggota lain. Dan itu sering terjadi.

Sudah membaca komiknya, masih juga menonton animasinya? Tentu saja! Meski alurnya sama, sensasi membaca dan menonton tetap berbeda. Doraemon selalu terasa menyenangkan—hangat, lucu, sekaligus penuh pesan sederhana tentang persahabatan.

Anak 90-an mana suaranya? 🙋🏻‍♀️💙 Bangun pagi di hari Minggu demi Doraemon.
Lanjutkan membaca “Doraemon dan Nostalgia yang Tidak Pernah Usang”

Hari Ini Aku Ibu yang Baik, Besok? Kita Lihat Nanti

Refleksi seorang ibu tentang menerima pujian dari anak, mengelola emosi, dan berusaha menjadi lebih baik setiap hari—meski tak selalu sempurna.

Ada malam-malam yang terasa biasa saja. Tidak ada pencapaian besar. Tidak ada kejadian dramatis. Hanya rutinitas, suara anak-anak, dan kelelahan yang pelan-pelan turun bersama gelap. Tapi justru di malam seperti itulah, kadang datang kalimat yang membuat hati berhenti sejenak.

“Mah, mamah adalah yang terbaik,” kata Bunga menjelang tidur. Ia memberiku ciuman dan pelukan yang sangat erat.

Aku hampir saja menjawab dengan nada bercanda, “Ih, ada apa nih? Kok tiba-tiba muji-muji?” Untung kalimat itu tidak sempat keluar. Otakku cepat mengingatkan: terima saja. Jangan dicurigai. Jangan dipelintir. Anakmu sedang tulus.

Mengulang hari ini di kepala. Menerima yang kurang. Mensyukuri yang cukup.
Lanjutkan membaca “Hari Ini Aku Ibu yang Baik, Besok? Kita Lihat Nanti”

Balikpapan, Kota yang Tumbuh Bersama Kenangan

Refleksi tentang Balikpapan di usia ke-129—kota kelahiran yang tumbuh bersama kenangan, perubahan, dan harapan akan masa depan yang ramah anak dan pendidikan.

Setiap kota punya caranya sendiri untuk tinggal di ingatan.

Ada yang hadir lewat bangunan megah, ada yang melekat lewat hiruk-pikuknya.

Balikpapan memilih cara yang lebih tenang—ia tinggal lewat kenangan, kebiasaan kecil, dan rasa pulang yang tidak banyak menuntut penjelasan.

Di usianya yang ke-129, Balikpapan bukan sekadar kota kelahiran. Ia adalah ruang tempat aku belajar mencintai, mengenang, dan menumbuhkan harapan.

Lanjutkan membaca “Balikpapan, Kota yang Tumbuh Bersama Kenangan”

Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku

Refleksi tentang pengalaman mencoba fitur karikatur ChatGPT, jejak digital, dan bagaimana tulisan di Ruang Cerita membentuk gambaran diri—pelan, jujur, dan manusiawi.

Berawal dari melihat postingan seorang content creator bertuliskan,

“Create a caricature of me and my job based on everything you know about me” di ChatGPT.

Gambar yang dihasilkan terasa sangat merepresentasikan siapa mereka di media sosial selama ini. Mungkin hal seperti itu memang terasa mudah bagi ChatGPT. Ia hanya perlu mengumpulkan potongan-potongan informasi yang tersebar di dunia maya, lalu merangkainya menjadi satu gambaran utuh.

Lalu aku bertanya dalam hati, bagaimana dengan aku—yang minim postingan di media sosial?

Apa yang akan disajikan ChatGPT tentang diriku?

Oh… oh… oh. Ternyata aku pun tidak luput dari pantauannya.

Lanjutkan membaca “Ketika ChatGPT Menggambar Siapa Diriku”