Beberapa waktu lalu, saya merapikan lemari Cinta. Pakaian yang sudah tidak cukup, saya pindahkan dari lemari utama. Ternyata saya menemukan sebuah apron menyusui.
Selama 12 bulan, sejak kehadiran Cinta. Saya baru menggunakan apron sebanyak 2 kali. Dan seingat saya, saya punya satu lagi apron dengan motif sapi. Dan sekarang entah dimana rimbanya. Dan (lagi) apron itu belum pernah saya gunakan. đ¤Śđťââď¸
Saat hamil, tentu saja saya mempersiapkan âsenjataâ yang akan saya gunakan ketika bayi lahir. Apron menyusui salahsatunya. Saat saya memberi tahu seorang teman bahwa saya membeli apron menyusui, dia berkomentar âYakin kepake? Aku sih gak. Baju menyusui juga biasa aja. Tetap aka nyusuin ngangkat baju dari bawahâ. Saat itu saya pikir karena dia tidak berjilbab, jadi cukup santai dalam menyusui.
Ternyata diperjalanannya, apron lebih sering teronggok di dalam tas.
Pertama karena memang saya jarang sekali punya aktivitas di luar rumah. Kedua, saat diperjalanan menyusui lebih sering saya lakukan di dalam mobil. Ketiga, saat jalan-jalan saya lebih nyaman menyusui sambil menggendong.
Jadi, apakah apron menyusui berguna? Tentu saja. Tapi emua kembali pada masing-masing ibu dan bayi. Jika merasa lebih nyaman, maka apron menyusi wajib dimiliki. Yang penting menyusui kapanpun dan dimanapun kan đ