
Saya rasa, setiap orangtua ingin menjadi orang pertama yang dicari anak saat ia bahagia ataupun bersedih. Namun, apakah yang sudah kita lakukan sebagai orangtua? Sudahkah memberikan anak-anak kenangan yang membahagiakan? Sudahkah kita menjadi bagian hidup mereka saat ini?
Pertanyaan itu, kerap saya lontarkan untuk diri saya sendiri. Kira-kira, apakah nanti saya tetap jadi orang terpenting bagi Cinta? Apakah saya bisa menjadi ibu sekaligus sahabatnya? Dan masih banyak pertanyaan lain yang terbesit. Seperti ibu-ibu lain, saya juga berusaha menjadi ibu terbaik untuk Cinta.
Menggendong merupakan salahsatu cara saya memberikan kenangan indah untuk Cinta. Mengajarkan Cinta kosakata, mengenalkan pekerjaan rumah, dan yang terpenting buat saya, mengajarkan Cinta bahwa ia tetap bisa bersama saya apapun aktivitas yang saya lakukan (kecuali ke toilet, haha).
Sejak mulai melangkahkan kaki, frekuensi menggendong pun berubah. Cinta lebih tertarik mengeksplorasi sekitarnya. Apalagi saat berjalan sudah lebih lancar. Menggendong hanya saya lakukan saat kami berada di luar rumah. Itupun biasanya diiringi drama minta turun gendongan. Seketika mamak baper. T_T
Padahal sebelumnya, hampir setiap malam saya dan cinta saling mendekap dengan bantuan gendongan. Tidak hanya itu, kami juga memutar lagu-lagu yang biasa kami dengan (terutama saat Cinta masih di dalam kandungan). Rasanya, sungguh luar biasa.
Alhamdulillah, belakangan frekuensi menggendong jadi lebih sering. Bahkan Cinta rela digendong sambil menyetrika baju. Hati mamak pun kembali berbunga-bunga. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Setiap minta gendong langsung saya angkat. Tidak hanya itu, saya pun bisa mencicipi jenis gendongan lain. Penasaran saya pada onbuhimo pun bisa segera diatasi.
Saya menyewa salahsatu onbuhimo milik little forest library. Semoga bisa saya ceritakan di postingan selanjutnya.