Puasa Pekan 1 : Stop Media Sosial dan Chat Tidak Penting

Puasa pekan 1 di tahap kepompong ini saya memutuskan untuk puasa media sosial dan chat-chat tidak pentimg.

Saya sangat menyadari scrolling media sosial adalah sesuatu yang sering mengganggu saya manajemen waktu. Sehingga puasa kali ini saya fokus pada hal tersebut.

Cukup berat bagi saya, karena kadang saya membuka media sosial melalui handphone suami juga 😂.

Saya sengaja tidak melogut atau menghapus media sosial yang saya miliki. 😎 Biar tantangan puasanya makin berasa.

Hari Pertama

Sejak bangun subuh, saya segera mengingatkan diri. Gk cek sosmed ya. Taruh hpnya! Sayapun tidak memegang hp.

Usai jalan pagi bersama anak-anak, saya punya sedikit waktu untuk menulis jurnal tantangan 30 hari pertama. Usai menulis, baca ulang dan submit link, jempol saya tiba2 memencet aplikasi instagram 😨.

Tapi belum sedetik saya langsung sadar. Wooiii, puasaaaaaaa. Segera saya keluar dari aplikasinya dan kembali mencicil menulis jurnal. Dan kembali meletakkan hp. Fiuuhhhh. Batal gak tuh 😶😢

Hari Kedua

Saya masih kesulitan menentukan mana percakapan penting, mendesak dan tidak penting. Jadi malah sengaja mengabaikan notif-notif.

Hari Ketiga

Sama seperti hari sebelumnya. Tapi saya sudah mulai bisa memilah. Media sosial seperti instagram dan facebook, tidak saya buka sama sekali. Yeayy.

Hari Keempat

Menurut saya belum ada perubahan yang signifikan. Tapi ‘kecanduan’ medsos, sudah bisa saya minimalisi.

Hari Kelima

Saya mulai mengubah strategi. Jika sebelumnya saya berusaha tidak membuka sama sekali, malah membuat hati penasaran. Hari ini saya memberlakukan jam. Seperti sahur dulu sebelum puasa 😂. Saya pun hanya membuka chat dan media sosial lainnya di jam tertentu.

Kecuali chat penting yang melalui jalur pribadi, akan secepat mungkin saya balas.

Hari Keenam

Strategi hari Kelima masih saya berlakukan. Saya lebih banyak meletakkan hp. Penasaran medsospun lebih berkurang.

Hari Ketujuh

Yeay. Sudah sampai di hari ketujuh. Masih belum sesuai harapan saya. Tapi sudah menunju ke arah yang lebih baik. 🥳

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar