Sebagai orang Balikpapan, tentu kami terbiasa dengan pemandangan pantai. Ya pantai memang mudah ditemukan di sini. Sebelah sisi kota kami adalah pantai. Dengan mengendarai kendaraan saja, pantai bisa kita nikmati. Aku tak pernah menghitung ada berapa banyak pantai wisata di kota ini. Mulai yang dikelola pemerintah, swasta ataupun pantai pribadi ada. Dan semua hampir jarang sekali sepi. Selalu ramai. Terutama saat akhir pekan.
Pantai adalah salah satu tempat yang biasa aku kunjungi bersama bapak dan kedua kakakku, Kak Yana dan Mbak Ika. Aku ingat benar, setiap bapak libur bekerja kami bertiga akan jalan-jalan ke pantai. Salah satunya pantai kilang mandiri dan batu-batu.
Dulu saat aku kecil, pantai ini memang tidak seramai sekarang. Namun ada yang tidak berubah. Yaitu kawasan batu-batu. Masih asri dan sering dikunjungi. Jika dulu sering muda-mudi yang memadu kasih, kali ini batu-batu diisi keluarga dan orang-orang yang gemar fotografi.
Saat ini pantai menjadi tempat favorit Cinta. Mungkin karena di pantai dia puas main basah-basah serta pasir. Namun berbeda denganku, Cinta lebih sering diajak papahnya mengunjungi pantai yang jauh sekali dari rumah. Rumah kami di bagian barat kota Balikpapan dan pantai yang dituju berada di bagian timur Balikpapan. Jika tidak macet, kami harus menempuh jarak 1 jaman menuju pantai tersebut. Lumayan ya. Waktu tempuhnya sama dengan Balikpapan ke Samarinda, jika lewat jalan tol . Ha-ha.
Dan mungkin karena suami kelahiran kota tepian, yang mana sungailah yang mudah ditemui, maka cocoklah ia dengan Cinta. Sama-sama suka pantai. Berbeda denganku yang biasa saja. Yang paling kusukai saat nongkrong di pantai adalah angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak. Rileksasi di pantai memang jauh lebih menyenangkan dibandingkan hanya mendengar suara desiran ombak dari handphone.
Pantai di Balikpapan memang tidak terlalu bersih. Beberapa sampah masih mudah ditemui di pinggiran. Ya mungkin, masih banyak yang abai dengan kebersihan pantai kotanya. Dan setiap ke pantai, aku selalu teringat pengalamanku mengikuti lomba mading tingkat kota. Saat itu kelompokku membawakan tema pantai.
“Kami pengin pantai itu jadi halaman depan rumah. Bukan lagi menjadi halaman belakang rumah yang diterlantarkan,” kata salah satu narasumberku yang merupakan aktivis lingkungan. Benar kan. Kalau saja dulu aku tidak bertemu para aktivis lingkungan, bisa jadi aku merasa biasa saja saat banyak orang malah menjadikan pantai sebagai bagian belakang rumahnya.
Memang kerja keras para aktivis ini belum membuahkan hasil yang pesat. Tapi semoga saja banyak yang sadar. Bukan hanya mereka yang tinggal di pesisir pantai. Tapi juga kami semua yang suka menikmati pantai di waktu luang.