Hai, hai gimana kabar kue kering di rumah? Sudah menipis? Atau cuma hilang satu barus? Ha-ha. Ini sih di rumahku ya. Kue kering yang disajikan, masing-masing cuma hilang satu baris.
Tamu yang datang ke rumah, memang tidak banyak. Karena di hari pertama aku dan ibu langsung keliling ke rumah sepupu-sepupu ibu. Di hari kedua lebaran, aku sudah harus berangkat ke Samarinda. Karena tak mau sendirian di rumah, ibu memilih ikut adik nomer tiga, keliling ke keluarga istrinya alias adik ipar ibuku.
Tamu-tamu yang berkunjung ke rumahpun, tak ada yang ditawari menikmati aneka kue kering yang disajikan. “Ayo, langsung ke belakang aja. Ada bakso, opor, rendang dan roti canai,” ajak ibuku ke para tamu. Bagaimana kue-kue kering itu bisa disentuh, kalau semua yang datang langsung diajak makan berat. 😅
Selain itu, kue-kue kering tersebut memang di luar dugaan. Aku dan ibu yang sejak awal tidak mau membuat kue, memesan beberapa kue kering. Ada nastar, lidah kucing, kur bawang, putri salju dan kue kacang. Masing-masing dua toples yang kupesan, kecuali nastar. Eh, ternyata saat tanteku yang tinggal bersebelahan dengan kami membuat kue, ibu membantu sekaligus membawa stok bahan kue yang ada di rumah. Ya, meski tidak rajin, aku dan cinta sering sekali bereksperimen di dapur membuat cemilan. Hasil dari membantu dan boyongan bahan, ibu malah dioleh-olehi 4 toples kue. Nastar, semprot, kue kacang, dan putri salju.
Seminggu sebelum lebaran, mbakku si bulek cane memberi tahu bahwa ia akan membuat kue lebaran. Maka dengan semangat ibuku kembali membantu. Kali ini tidak ada bekal yang dibawa, karena memang sudah habis. Ha-ha. Dan lagi-lagi karena kami membantu, kamipun dioleh-olehi lagi tiga macam kue. Nastar, semprot, dan kue blueberry.
Dan sesuai pesanan suamiku, ibu juga menyiapkan kacang goreng, kacang mente, dan emping.
Eh, alhamdulillah malam lebaran kakak pertamaku datang ke rumah. Ia membawakan tiga toples kue kering. Jadi total kue kering di rumah ada 15 toples. Meski ukurannya tidak besar, aku rasanya hampir menyerah.
Dulu, saat aku kecil, ibu tak pernah sedikit membuat nastar dan kue semprot. Kami di rumah selalu sanggup menghabiskan kue-kue lebaran. Meski butuh waktu hingga dua minggu.
Berbeda dengan sekarang. Entah karena bosan atau karena sekarang lebih sadar saat menikmati kue-kue kering itu.
Cinta dan Rangga tidak begitu tertarik dengan aneka kue kering yang disusun di meja. Cinta sama sekali tidak menyentuh atau mencicipi isi toples. Sesang Rangga, masih mau mencicipi beberapa kue yang memang dia suka. Tapi hanya 2-3 kue saja. Dan itupun tidak setiap hari.
“Sayang, entar kalau mancing bawa ya itu kue-kur lebaran,” kataku pada suami.
“Yah, kakak aja gak suka nyemilin lho. Nanti malah gk ke makan,” jawab suami. Suamiku memang kompak dengan Cinta, sama-sama gak suka ngemil kue kering.
“Ya kan mancing gak sendiri. Biar teman mancing yang lain yang makan,” kataku lagi.
“Oh iya. Ok nanti dibawa,” kata suami. Meski belum terlihat kapan jadwal memancing, tapi aku sedikit lega karena kue ini akan ada yang menikmati.
Kirim sini mbak..kosong ga ada apa2 dirumah..😅
SukaSuka
😂🧁🍰🎂
SukaSuka