Memeriahkan 17an dengan Berbagai Perlombaan

Tujuh belas agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka, nusa dan bangsa

Hari lahirnya Indonesia

Merdeka …..

Bagaimana perayaan 17anmu kemarin? Ikut upacara bendera? Atau ikut lomba? Atau jangan-jangan seperti aku, menyelesaikan pekerjaan domestik dengan perasaan merdeka? Kalau dibawa beban, pekerjaan domestik pasti akan melelahkan. Tapi jika dilakukan dengan bahagia, hmm pasti rasanya jauh berbeda.

Kemarin, Cinta menyemarakkan perayaan 17an di kampung dengan mengikuti beberapa perlombaan. Tak hanya sendiri, ia ditemani dengan sepupu-sepupunya. Setelah 2 tahun tidak ada acara 17an di kampung, baru tahun ini kembali diadakan. Lokasinyapun berubah. Jika biasanya di salah satu lapangan di kampungku, kali ini perlombaanya diadakan di lapangan SDku dulu.

Cinta sungguh bertolak belakang denganku yang introvert. Meski aku bisa akrab dengan orang lain, tapi aku butuh waktu dan persiapan untuk melakukannya. Cinta mungkin lebih mirip papahnya. Mudah bersosialisasi, suka dengan keramaian, suka berkegiatan dan berani untuk tampil di depan banyak orang. Selain meniru papahnya, bisa jadi juga karena saat Cinta tumbuh, aku masih aktif di beberapa kegiatan komunitas. Meski aku berada di belakang panggung dan kamera, Cinta selalu berada di depan. Seolah menggantikan peranku.

Sayangnya, keseruan Cinta mengikuti perlombaan kemarin harus diwarnai dengan tangisan. Bukan, dia bukan kecewa karena kalah dalam perlombaan. Tapi karena ada panitia yang ternyata mengolok-oloknya. Ia sedih. Semoga saja, tidak membuat semangat Cinta surut dalam mengikuti perlombaan ke depannya.

Jika di kampungku perlombaan dibagi menjadi beberapa juara, tidak dengan sekolah Cinta. Sejak hari Senin, Cinta dan teman-temannya di sekolah sudah memeriahkan 17an dengan berbagai macam perlombaan.

“Kata bunda semua juara nek. Gak ada yang kalah. Semuanya pemenang,” jawab Cinta saat ditanya apakah mendapat juara 1 oleh neneknya.

Lebih seru di sekolah ya? Karena untuk anak seusia Cinta tentu lebih penting keseruan tanpa perlu berkompetisi menjadi pemenang.

Ngomong-ngomong, tampaknya kompetisi itulah yang membuat Riska kecil tidak mau mengikuti perlombaan 17an. Aku ingat benar, aku hanya sekali mengikuti perlombaan di kampung ini. Dulu, selain dibagi menjadi beberapa juara, para peserta yang kalah tidak mendapatkan hadiah hiburan apapun. Jadi sudah sedih kalah, eh diolok-olok pula. Mental abaiku dulu belum terbentuk seperti sekarang sih. Ha-ha. Maka sekali itulah aku mengikuti perlombaan 17an. Sisanya aku hanya mengikuti perlombaan mata pelajaran di sekolah.

Nah, supaya lebih seru lagi rencananya besok aku dan mbak Ika akan kembali mengadakan perlombaan 17an.Tapi pesertanya hanya Cinta, Bila, Hafiz, Cicah dan si anak bawang Rangga. Semuanya sudah aku siapkan hadiah yang berbeda-beda. Tujuannya hanya memeriahkan saja. Diberi perlombaan, biar terasa makin seru. Dua tahun selama pandemi, hanya perlombaan kecil-kecilan yang bisa kulakukan untuk anak-anak dan keponakan. Semoga mereka bisa merasakan keseruannya.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar