“Nanti bantuin bikin presentasi ya. Kakak aja yang bikin, tapi ade di sebelah sambil ditanya-tanya,” kata suami belum lama ini.
Wuih, tumben banget nih. Biasanya juga kalau bikin presentasi gak pernah minta bantuan, batinku. Usut punya usut, ternyata suami kepincut dengan presentasi dari canva. Saat kami keluar kota bulan lalu, suami harus membuat presentasi. Kami hanya membawa macbook milik kantor yang minim aplikasi. Tapi karena canva bisa diakses secara online, maka aku membantu membuatkan presentasi suami. Saat itu, aku yang mengerjakannya.
Aku sudah sering “mengiklankan” canva. Bagaimana mudahnya aku mengerjakan tugas-tugasku melalui canva. Membuat materi poster, materi edukasi komunitas, dan masih banyak lagi. Pokoknya aku canva lover deh. Apalagi dengan banyak kemudahan template instan yang bebas kita gunakan.
“Sebenarnya agak ribet ya, jadi makan lebih banyak waktu,” celetuk suami ditengah-tengah pengerjaan presentasinya.
“Ya karena belum biasa. Kalau sudah biasa mah, sat set sat set aja,” jawabku sambil nyengir.
Diberanda canva, aku langsung menuju ke template presentasi. Aku menyarankan suami untuk memilih presentasi yang bergerak. Karena jujur saja, selama ini presentasi yang selalu dibuat suami cenderung kaku. Berbanding terbalik denganku yang suka dengan tampilan penuh warna.
Ini agak aneh sebenarnya. Karena dalam kehidupan nyata, aku lebih menyukai warna hitam dan terkadang putih. Sebaliknya, suami suka dengan beragam warna. Jadi kehidupan nyata dan visualisasi kami dalam mengerjakan sesuatu malah berbeda.
Setelah cukup lama memilih template, akhirnya suami memilih satu yang menurutnya paling pas. Sesekali suami bertanya bagaimana cara memasukan gambar, data, video dan lain-lain. Dalam waktu singkat, suami sudah bisa mengolah presentasinya sendiri. Aku malah asyik menonton serial favoritku di sebelahnya.
Nah, ternyata ada satu masalah yang menurut suami menjadi kendala. Apakah itu? Materi presentasi yang tidak bisa diunduh dalam versi ppt. Aku menunjukkan, bahwa cukup dengan membagikan link materi, semua orang bisa melihat presentasinya. Malah tidak memakan ruang memori, karena hanya perlu kuota internet yang juga tidak seberapa kan?
Kemajuan teknologi saat ini, memang perlu kita pelajari. Apalagi anak-anak kita juga terbiasa dengan kemudahan berinternet.
Cinta misalnya, ia sering sekali menggunakan gadgetku untuk belajar menggambar. Aplikasi yang sedang ia pelajari adalah medibang dan Ipaint. Meski ia lebih banyak menggunakan kertas sebagai media hobinya.
Meski jujur saja, aku lebih suka melihatnya dengan aplikasi, tapi aku juga lega karena mengerjakan sesuatu lewat pensil dan kertas, kepuasannya berbeda. Apalagi untuk yang sedang tahap belajar seperti Cinta.
Aku yang dewasa saja, masih memilih menggunakan buku jurnal sebagai media penyaluran hobiku. Tapi jujur saja, aku tidak menggunakan aplikasi untuk jurnal, karena kekuatan gadget yang tidak mendukung. Ha-ha.