Putu Labu

Sebagai orang yang picky eater, Cinta cukup kesulitan menentukan makanan kesukaannya. Ayam goreng? Sosis? Telur. Jawabannya bisa jadi suka sih, tapi…. Yups, ada tapinya. Tapi gak gimana-gimana banget.

Hingga satu hari ketika kami berjalan ke alun-alun Kota Batu, Cinta secara tidak sengaja melihat seorang penjual putu labu. Cinta pun bertanya “Mah kue apa itu kok aromanya enak banget? Cinta jadi pengin,”

“Oh, itu putu labu. Enak lho! Mau?” jawabku sekalian bertanya. Ia langsung mengangguk.

Menurut Wikipedia, kue ini berasal dari Jawa. Kue putu adalah jenis kudapan tradisional Indonesia berupa kue dengan isian gula jawa, dibalut dengan parutan kelapa, dan tepung beras butiran kasar. Cara memasak kue ini dikukus dengan diletakkan di dalam tabung bambu yang sedikit dipadatkan. Putu labu rasanya enak isinya manis dari gula merah cocok sekai dengan tepung beras yang gurih. Makan putu labu, haruslah dengan parutan kelapanya. Jika tidak, rasa gurih menyegarkan belum tentu bisa didapatkan.

Putu Ayu adalah bagian dari kue “putu” yang berasal dari kuliner Tiongkok dan berkembang di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.

Awalnya aku tidak yakin, Cinta akan menyukai putu labu. Karena itu aku membelinya hanya sekadarnya saja. Tidak terlalu banyak tapi cukuplah ketika ternyata dugaanku tepat. Ternyata tanpa disangka Cinta menikmati proses mpembuatannya. Ia memperhatikan dengan seksama saat si penjual membuat putu  labu. Mulai dari tabung bambu yang dimasukkan bahan tepung beras berwarna hijau bahan isi gula merah yang berwarna coklat lalu ditutup dengan tepung beras berwarna hijau lagi. Setelah dirasa cukup padat, tabung bambu ditaruh di atas aja kotak panas. Seperti diuap. Sungguh sederhana alat untuk memasaknya.

Nah dari menikmati proses pembuatannya itu Cinta sangat terkesan. Begitu Sesampainya kami di kamar penginapan, ia langsung menikmatinya. Satu gigitan dirasakan. Terlihat sekali matanya berbinar saat menikmatinya. Yang tadinya aku pikirn akan dihabiskan papahnya atau nenek, malah tidak ada yang kebagian sama sekali. Bahkan, Rangga hanya mencicipi dua saja.

Sekembalinya kami ke Balikpapan, ternyata Cinta masih ingin mencicipinya.

“Mah, apa sih nama kue yang waktu kita makan di alun-alun. Klepon ya?” tanya Cinta. Aku menjelaskan kalau putu ayu dan klepon berbeda cara memasaknya. Bahan bakunya kurang lebih sama. Rasa gurih dari parutan kelapanya mungkin membuatnya makin mirip. Tapi tetap saja, masing-masing memberikan rasa yang berbeda.

Meski ada, ternyata penjual putu labu sedikit sulit ditemukan. Bisa jadi karena penjualnya selalu berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Bukan menunggu pembeli disuatu tempat dengan waktu yang sedikit lebih lama. Padahal sebelumnya aku sering mendengar suara penjual putu labu lewt depan rumah. Bahkan suatu hari, saat lewat aku terlambat memanggil penjualnya. Berharap besok si penjual kembali lagi. Tapi ternyata sampai hampir 3 minggu, penjual putu labu tak kunjung kutemukan. Sesekali saat keluar rumah, aku melewati lokasi aku membeli putu labu. Hasilnya nihil.

Alhamdulillah, belum lama ini Allah memberikan kesempatan itu. Kami bertemu penjual putu labu, yang jauh sekali dari rumah. Tentu saja, tidak mau Cinta sia-siakan. Ha-ha. Sembari menikmati si putu, Cinta juga menceritakan kembali serunya ia saat berjalan-jalan alun-alun.

Begitupun keesokan harinya, sepulang nenek dari Mushola nenek langsung membeli, karena ia tahu benar cucunya sedang menanti-nanti si putu labu.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar