Cerita Cinta Mendaftar SD

“Pendaftaran murid baru sudah dibuka lho. Mau daftar gak?” tanya mbak Ika suatu hari melalui pesan whatsapp.

“Hah! Baru dua bulan sekolah TK mbak. Masa sudah buka pendaftaran SD?” aku bertanya tidak percaya.

“Gak tau nih. Di whatsapp grup sekolah sudah dibagikan infonya. Kalau memang mau, gak apa-apa daftar dulu. Toh kalau gak jadi, gak ada kerugian apa-apa karena gak ada yang dibayar,” jawab mbakku. Maka, aku pun mengiyakan sarannya. Saat aku menyampaikan informasi tersebut ke suami, jawabannya pun serupa denganku.

Nama Cintapun aku daftarkan ke sekolah keponakan-keponakanku belajar. Dari pengalaman banyak teman yang sudah senior, aku mendapatkan kesimpulan bahwa sekolah haruslah sesuai dengan visi dan misi keluarga. Tak hanya itu, orang tua juga harus mempertimbangkan jarak sekolah dan biaya. Bukan hanya biaya pendaftaran, tapi juga biaya selama belajar di sekolah tersebut. Apakah sesuai kemampuan ataukah memaksakan. Satu hal yang selalu mereka tekankan. Jangan menyekolahkan anak karena gengsi semata.

Aku dan suami memang tidak berbelanja informasi sekolah terlalu banyak. Alasannya utama adalah jarak. Jarak yang masuk jangkauan rumahku ada beberapa sekolah negeri dan satu sekolah swasta yang menurutku terbaik di antara sekolah swasta lainnya.

Untuk sekolah negeri, karena saat ini menggunakan sistem zonasi, maka hanya satu sekolah negeri dekat rumah yang bisa dijadikan pilihan. Jaraknya hanya 200 meter dari rumahku. Dan sekolah ini adalah sekolahku saat SD. Tapi, aku tidak menjadikannya sebagai pilihan utama. Pertama karena aku tidak melihat kemajuan yang signifikan dari SDM yang disediakan. Aku melihat langsung bagaimana salah satu sepupuku yang proses belajarnya tersendat-sendat karena para pengajarnya yang kurang siap saat pandemi kemarin berlangsung. Bahkan sepupuku lebih senang belajar bersama keponakanku yang seumuran dengannya, saat belajar. Kenapa? Karena meski daring, keponakanku tetap didampingi belajar oleh gurunya di sekolah. Untuk mengaji, sama seperti di sekolah, meski dilakukan secara daring mereka tetap menjalankannya setiap hari.

Di sekolah tersebut ada dua piliha, reguler dan Islam Terpadu (IT). Kurikulumnya tidak jauh berbeda. Meski untuk yang Islam Terpadu lebih banyak pelajaran ilmu keislamannya. Ya seperti sekolah-sekolah islam pada umumnya. Tapi bukan berarti sekolah reguler tidak dikenalkan. Para siswa tetap diajak sholat duha dan sholat dzuhur berjamaah, belajar mengaji dengan metode ummi dengan guru yang sama dengan kelas Islam Terpadu. Karena pelajaran keislamannya lebih banyak, maka kelas IT pulang jauh lebih lama dan mendapatkan catering bersama dari sekolah. Sesungguhnya ini adalah salah satu cita-citaku, menyekolahkan anak-anak di sekolah islam.

Namun, alhamdulillah aku masih bisa memilih yang reguler dengan visi dan misi yang sejalan dengan kelas ITnya. Cinta tentu saja suka jika bersekolah di sekolah ini. Selain kakak-kakak sepupu yang bersekolah di sini, ia juga menyukai lingkungan dan ekstrakurikuler yang diberikan.

Setelah menunggu kurang lebih dua bulan, pendaftaran gelombang pertama dibuka. Cinta dan anak-anak lain diminta untuk mengikuti sebuah tes. Tes ini sebenarnya hanya untuk observasi seberapa siapkah anak-anak masuk sekolah SD. Karena jika memang menurut para guru belum siap, sebaiknya orang tua memang tidak memaksakan.

Jika di sekolah negeri, usia adalah patokan yang utama, di sekolah swasta tidak harus. Hanya saja, karena pandemi maka memang prioritas utama ada di usia anak.

Cinta saat bersekolah nanti akan berusia 6,5 tahun. Usia yang sebenarnya membuatku ragu-ragu. Apakah sudah tepat memasukkan sekolah SD. Kalau suami sih merasa yakin. Setelah observasi, ternyata Cinta berhasil lolos seleksi, meski dengan beberapa catatan. Yaitu perlu menyiapkan diri dalam membaca. Ha-ha. Yang ini jelas saja, karena memang di sekolah TK Cinta tidak diajarkan membaca. Berbeda dengan beberapa sekolah TK memang diam-diam mengajarkan membaca.

“Namun tidak perlu khawatir, karena saat bersekolah nanti anak-anak yang kelas 1 tetap akan dilatih untuk bisa membaca seperti seharusnya,” kata Kepala Sekolah SD.

Maka, sambil menunggu waktu sekolah SD, Cinta bebas menikmati waktu yang menyenangkan di sekolah TK. Aku tidak perlu lagi kebingungan soal pendaftaran sekolah.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar