Setiap orang punya ruang sunyi di dalam dirinya.
Tempat yang jarang disentuh, tapi sering terasa.
Di sanalah perasaan-perasaan yang belum selesai berdiam—
kecewa, ragu, dan pertanyaan yang tak selalu berani diucapkan.

Andai saja kamu menjadi aku,
akankah kamu terluka sedalam ini?
Akankah kamu merasakan perih yang sama,
yang diam-diam menetap dan tak mudah pergi?
Aku tidak benar-benar tahu jawabannya.
Aku pun masih bertanya-tanya,
apakah penyesalan itu sungguh ada?
Apakah janji untuk tidak mengulanginya
akan benar-benar dijaga—
bukan hanya hari ini,
tetapi juga di waktu-waktu berikutnya?
Di dalam hati, ada keinginan besar untuk melupakan semua kecewa.
Untuk kembali menemukan diriku yang dulu.
Yang sederhana.
Yang tidak terlalu banyak bertanya.
Yang mudah merasa bahagia.
Mungkin saat ini aku terlihat baik-baik saja.
Aku menjalani hari seperti biasa.
Tersenyum, tertawa, menyelesaikan peran-peran yang ada.
Namun di sudut hati yang paling sunyi,
masih ada rasa kecewa yang tinggal.
Tidak berisik.
Tidak menuntut.
Hanya ada.
Kadang aku ingin pergi sebentar.
Bukan untuk lari,
bukan pula untuk menghilang selamanya.
Aku hanya ingin menyepi.
Menyendiri.
Memberi ruang bagi diriku sendiri
untuk bernapas lebih pelan.
Aku percaya, tidak semua luka perlu disembuhkan dengan tergesa-gesa.
Ada yang cukup ditemani.
Didengarkan.
Diterima apa adanya.
Pergi sebentar ini bukan tanda menyerah,
melainkan cara untuk menjaga diri.
Agar ketika aku kembali,
hatiku tidak lagi seberat sebelumnya.
Dan jika suatu hari aku benar-benar pulang—
kepada diriku sendiri—
aku ingin datang dengan hati yang lebih jujur.
Lebih lembut.
Lebih utuh.
Bahagia, mungkin belum sempurna.
Tapi cukup terasa.
Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.