Blog !

  • [Game Level 10, Hari 9] : Makan Bersama-sama

    Di pagi yang cerah, ada seekor burung yang sedang terbang di hamparan sawah. Ia adalah Zizi. Ia sedang menikmati udara pagi yang segar. Lagi asyik-asyik terbang, tiba-tiba perutnya berbunyi. Oo ooo, tampaknya ia sedang lapar. Iapun hinggap di suatu tempat. “Wah, ada makanan,” batinnya. Iapun mematuk-matuk makanan di tempat ia hinggap. Tak lama kemudian, Zizi… Read more

  • [Game Level 10, Hari 8] : Elpha Bilang Maaf

    Pernahkah melihat anak susah mengatakan maaf? Mungkin. Apalagi jika kita orang dewasa berat mengatakannya, anak-anakpun akan kesulitan. Selain berat mengatakan dan bukan tulus dari hati, akan mempersulitnya lagi. Dongeng yang saya kisahkan di hari ke 8, masih dari karya Watiek Ideo yaitu, Elpha Bilang Maaf. Karena mendongeng tanpa bantuan buku, maka ceritanya sedikit mendapatkan tambahan… Read more

  • [Game Level 10, Hari 7] : Kiki Bilang Permisi

    Mendongeng hari ke 7, saya ambil dari cerita karya Watiek Ideo yang berjudul “Kiki bilang Permisi”. Kiki adalah seekor anak kucing yang baru saja pindah rumah. Sekolahnya pun baru. Ia belum memiliki teman. Namun, ia tetap semangat berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, ternyata kela sudah ramai. “Permisi, boleh aku duduk di sini.” tanyanya. “Maaf… Read more

  • [Game Level 10, Hari 6] : Aku Suka Beres-Beres

    Beberapa hari ini, rumah terlihat lebih berantakan dari biasanya. Rumah memang biasa jadi tempat persinggahan para keponakan dan sepupu. Namun, kali ini tampaknya saya perlu menyiratkan kembali pentingnya rumah yang bersih dan rapi (versi keluarga kami). Read more

  • [Game Level 10, Hari 5] : Nemo Si Ikan Badut

    Pagj tadi, Cinta melihat box memancing papahnya terisi penuh. “Mamaaaaa, lihat ikannya banyak,” teriak Cinta. Saya dan adiknya pun menghampiri. Kami ikut melihat-lihat. Setelah dirasa cukup puas, kamipun menuju perpustakaan mini kami. Read more

  • [Game Level 10, Hari 4] : Aya dan Giginya

    Sore itu, langit tampak mendung. Aya si buaya sedang asyik berendam sambil memejamkan matanya, sambil membuka mulutnya. Gigi-giginya yang tajam ia pamerkan. Tiba-tiba, datanglah seekor burung pipit. Burung itu, hinggap di atas hidung Aya. Tampaknya, si pipit tidak menyadari kalau ia berada di moncong seekor buaya. Read more