Menyiasati Pendidikan Seks untuk Anak

Sumber : https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/menyiasati-pendidikan-seks-untuk-anak-cjB3

Di beberapa negara, isu pendidikan seks kerap memunculkan kontroversi di masyarakat. Indonesia misalnya, masih ada yang cenderung konservatif dan menabukan perbincangan seputar seksualitas seperti Indonesia, mengenalkan pendidikan seks belum dianggap sesuatu yang lumrah. Sebagian orang keliru menilai pendidikan seks sama saja mengajarkan perbuatan asusila kepada anak-anak. Padahal, kasus-kasus paparan pornografi dan kejahatan seksual terhadap anak terus meningkat. Sampai-sampai Komisi Perlindungan Anak (KPAI) menyatakan Indonesia dalam situasi darurat kekerasan seksual terhadap anak.

Pada artikel tersebut disebutkan bahwa pelecehan seksual pada anak naik 100 persen pada tahun 2013-2014.

Keterbukaan dalam keluarga untuk membicarakan isu seksualitas bukanlah hal yang sepele. Agar nantinya anak tidak mencari informasi dari sumber lain yang bisa saja malah tidak kredibel. Selain itu, pendidikan seks dalam keluarga juga bisa membuat anak lebih dekat dengan orangtua.

Sumber :

https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/menyiasati-pendidikan-seks-untuk-anak-cjB3

https://www.google.com/amp/s/setiorini08.wordpress.com/2018/05/22/penerapan-fitrah-seksualitas-sesuai-usia-anak/amp/

Pemahaman Perbedaan Gender

Materi mengenai Fitrah Seksual pada tantangan level 11, masih berlangsung. Malam ini, kelompok 1 mengajak kami teman-teman sekelas berdiskusi dengan tema “Pemahaman Perbedaan Gender”. Kelompok 1 beranggotakan mbak Annisa Ramadhani, mbak Arika Citra, mbak Dian Agusari dan mbak Nanik Oktavia.

WhatsApp Image 2020-02-24 at 21.06.39
Sumber : Materi Kelompok 1  Kelas Kalimantan – Kelas Bunda Sayang Batch 5 

Lanjutkan membaca “Pemahaman Perbedaan Gender”

Mengenalkan Perbedaan Gender Lewat Buku

Memberikan pemahaman pendidikan fitrah seksualitas, bisa kita lakukan lewat kegiatan sehari-hari. Dengan begitu, anak mengerti identitas seksualnya, mengenali peran seksualitasnya, dan mengajarkan anak menjaga dirinya dari kejahatan seksual.

Salahsatu yang saya lakukan adalah dengan membaca bersama-sama. Misalnya melalui buku ensiklopedia junior tubuh manusia.

Pada buku ini, dijelaskan perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, saya membiasakan Cinta menyebutkan anggota tubuh sesuai dengan bahasa yang tepat. Seperti alat kelamin. Agar nantinya, pembahasan seks edukasi tidak lagi menjadi hal yang tabu.

Fitrah Seksualitas Sesuai Tahapan Usia

Sebelum menikah dan memiliki anak, saya sibuk menerka-nerka bagaimana nantinya. Sering muncul ketakutan-ketakuan yang sebenarnya tidak penting. Kenapa tidak penting? Karena belum dihadapi. 🙈

Malam ini, saya membaca artikel dari sebuah blog alumni kelas bunda sayang. Tema yang dibahas mengenail fitrah seksualitas anak usia 7-10 tahun.

Pemahaman Gender untuk Keutuhan Keluarga

* Judul artikel tersebut tampaknya typo *

Siapa sangka kalau memahami gender berkaitan erat dengan keutuhan keluarga. Dari artikel tersebut, dijelaskan bahwa dengan memahami gender, ketidakadilan bisa dicegah.

“Ketidakadilan gender itu bisa berupa kekerasan fisik maupun seksual, strereotipe negatif, marginalisasi, bisa beban ganda. Beban ganda dalam hal ini misalnya ibu sudah bekerja, tetapi masih ada pekerjaan di ranah domestik,” katanya saat dihubungi Tribunjogja.com

Ya mewujudkan keutuhan keluarga diperlukan kesetaraan dan keadilan gender, sehingga ranah domestik tidak hanya menjadi tanggungjawab ibu atau perempuan, tetapi juga ayah atau laki-laki.

Dengan memberikan pemahaman pada gender memang bermanfaat untuk saat ini dan di masa mendatang.

Sumber: https://jogja.tribunnews.com/amp/2019/03/18/pentingnya-pemahaman-gender-untuk-keuntuhan-keluarga

Pentingnya Fitrah Seksualitas

ekan ini,kami mahasiswi kelas bunda sayang batch 5 memasuki tantangan level 11. Berbeda dengan tantangan sebelumnya, yang melibatkan anggota keluarga. Kali ini, tantangan kami lalui bersama teman-teman sekelas.

Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing diberi tema yang berbeda. Karena di hari pertama ini, belum ada kelompok yang presentasi, maka kami diberi kebebasan untuk mencari referensi dari berbagai sumber.

Lanjutkan membaca “Pentingnya Fitrah Seksualitas”

[Game Level 10, Hari 10] : Dodo Raksasa yang Baik Hati

Di sebuah hutan nun jauh, hiduplah seorang raksasa. Ia hidup sebatang kara. Dulua, ia tidak sendiri, namun lambat laun keluarga dan teman-temannya meninggal. Namanya, Dodo.

Dulu, raksasa dan manusia hidup berdampingan dengan damai. Karena hanya ia raksasa yang tersisa, Dodo khawatir membuat takut manusia. Iapun mengasingkan diri ke hutan. Sebisa mungkin ia menghindari manusia.

Hingga suatu hari, dibangunlah sebuah rumah sakit didekat rumah Dodo. Rumah sakit itu, untuk anak-anak. “Kasian sekali mereka. Aku ingin menghibur, tapi kalau mereka ketakutan bagaimana ya,” batin Dodo. Akhirnya Dodo mengurungkan niatnya mengunjungi anak-anak tersebut. Setiap pagi, Dodo hanya mengintip dari balik gunung.

Setiap pagi, di rumah sakit tersebut selalu berolahraga bersama. Kemudian dokter dan perawat akan membacakan surat yang dikirimkan dari sesama penghuni rumah sakit.

Dodopun memiliki ide untuk mengirimkan surat darinya.

Teman-teman, kenalkan namaku Dodo. Aku ingin pak Dokter menyanyikan lagi yang riang gembira khusus untuk semua teman-teman.

Tulis Dodo dalam surat. Pak dokter kebingungan. Siapakah Dodo? Tapi, pak dokter tetap menyanyikannya. Anak-anakpun bernyanyi sambil menari. Mereka sangat bahagia, karena mendapatkan request lagu khusus untuk mereka.

Tanpa sadar, Dodo ikut menari. Semua penghuni rumah sakit, akhirnya menyadari ada raksasa yang ikut menari bersama. Merekapun langsung menuju ke rumah Dodo. Tapi, Dodo belum menyadarinya. Saat sadar kalau dokter dan anak-anak menyaksikannya menari, Dodo langsung pucat. Ia khawatir semuanya marah atau ketakutan.

“Jadi kami yang namanya Dodo,” tanya pak dokter.

“Iya”

“Wah, terima kasih Dodo. Kami senang sekali ada yang memberikan kami lagu. Ayo, menari bersama kami,” kata anak-anak.

Ternyata Dodo selama ini salah. Anak-anak tidak takut atau membencinya. Dodopun kembali berteman dengan manusia.

[Game Level 10, Hari 9] : Makan Bersama-sama

Di pagi yang cerah, ada seekor burung yang sedang terbang di hamparan sawah. Ia adalah Zizi. Ia sedang menikmati udara pagi yang segar.

Lagi asyik-asyik terbang, tiba-tiba perutnya berbunyi. Oo ooo, tampaknya ia sedang lapar. Iapun hinggap di suatu tempat.

“Wah, ada makanan,” batinnya. Iapun mematuk-matuk makanan di tempat ia hinggap.

Tak lama kemudian, Zizi melihat Zola. Zizipun memanggil Zola untuk makan bersama-sama.

Tuk tuk tuk tuk….

Beberapa saat kemudian, Zaza dan Zuzu juga ikut bergabung. Makan bersama-sama sungguh menyenangkan. Apalagi Zizi mau berbagi.

[Game Level 10, Hari 8] : Elpha Bilang Maaf

Pernahkah melihat anak susah mengatakan maaf? Mungkin. Apalagi jika kita orang dewasa berat mengatakannya, anak-anakpun akan kesulitan. Selain berat mengatakan dan bukan tulus dari hati, akan mempersulitnya lagi.

Dongeng yang saya kisahkan di hari ke 8, masih dari karya Watiek Ideo yaitu, Elpha Bilang Maaf. Karena mendongeng tanpa bantuan buku, maka ceritanya sedikit mendapatkan tambahan di sana-sini. Hahaha

Lanjutkan membaca “[Game Level 10, Hari 8] : Elpha Bilang Maaf”

[Game Level 10, Hari 7] : Kiki Bilang Permisi

Mendongeng hari ke 7, saya ambil dari cerita karya Watiek Ideo yang berjudul “Kiki bilang Permisi”.

Kiki adalah seekor anak kucing yang baru saja pindah rumah. Sekolahnya pun baru. Ia belum memiliki teman. Namun, ia tetap semangat berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, ternyata kela sudah ramai.

“Permisi, boleh aku duduk di sini.” tanyanya.

“Maaf kursi ini sudah ada yang menempati,” kata temannya.

Lanjutkan membaca “[Game Level 10, Hari 7] : Kiki Bilang Permisi”