Tangga Seribu

20 tahun lalu

“Ayo, ngger embah anter pulang,” ajak embah membuyarkan konsentrasiku membaca komik favoritku, Detective COnan.

“Hah,” aku melongo. “Naik apa? Embah kan gak bisa bawa motor?” batinku.

“Jalan kaki. Sekalian olahraga,” jawab embah seakan tahu kebingungan cucunya.

Akupun segera beranjak ke dalam rumah, mengambil tas sekolahku. Lumayan berat. Jarak rumah dan sekolahku lumayan jauh. Kurang lebih 4 km, jika melewati jalur normal. Jika memotong jalan, jaraknya bisa berkurang 1 km. Hanya saja, kami harus rela wajah diterpa debu-debu jalanan. Jalannya lumayan lebar, tapi masih tanah dan dilewati truk-truk besar. Jadi kalau musim hujan tiba, rasanya seperti offroad. Bapak, tidak pernah mengajakku lewat jalan memotong. Yang sering melakukan adalah pamanku. “Biar gk bosan,” kata paman.

Sedang rumah embahku, tidak terlalu jauh dari sekolah. Hanya 1 km saja. Jadi tentu saja, usai sekolah pulang ke rumah embah adalah solusi yang tepat. Jadi aku tidak perlu menunggu lama sendirian di sekolah. Selain itu, setiap hari embahku akan dikunjungi. Sosok yang paling kuidolakan selama aku tumbuh.

Berbeda dengan mbakku, ia memutuskan tinggal di rumah embah sejak SMP. Sekolah kami sama. Jadi rutinitas kampiun tidak jauh berbeda. Hanya saja, setiap akhir pekan mbakku punya kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Sabtu – Minggu sore pramuka, karena mbakku malas untuk membawa banyak barang pulang ke rumah, ia langsung membawa seragam sekolah hari senin. Senin sore baru ia pulang ke rumah. Sekali, dua kali, dia masih pulang. Eh, ternyata lama-lama dia lelah sendiri dan meminta tinggal di rumah embah. Apalagi, saat SMA, sekolahnya juga berdekatan dengan SMPku. Pulang ke rumah hanya sesekali. Karena ibu dan bapakku, lebih setiap hari selalu ke rumah mbah.

“Tahu tangga seribu?” tanya embah mencoba mencairkan suasana.

“Baru dengar. Di mana itu?,” tanyaku.

“SMP 9 Filial. Sekolah yang sudah gk digunakan lagi. Nanti kita lewat situ,” kata embah.

Kamipun jalan melewati kebun kangkung yang terletak di bagian bawah kampung. Menyusuri kampung lain. Jalannya cukup sering aku lewati untuk pulang ke rumah. Hanya saja, kali ini kami harus belok ke kanan, kemudian belok ke kiri. Tak lama, aku melihat susunan tangga yang sangat tinggi.

“Ini beneran seribu mbah?” tanyaku.

“Gak pernah ngitung sih. Tapi kayaknya gak sampai seribu. Tangga seribu itu hanya sebutan orang-orang sini, karena saking tingginya,” jawab embah. Akupun menaiki satu persatu. Awalnya aku sambil menghitung jumlah anak tangganya. Tapi sampai di tengah-tengah, hitungaku buyar. Aku sibuk mengatur nafasku. Nafas embah kuliat masih cukup santai. “kalau rajin olahraga gitu kali ya, nafasnya santai aja,” batinku. Embahku meski sudah tua, maih bugas. Setiap habis subuh beliau tidak pernah melewatkan waktu olahraga. Pilihan olahraganya jalan kaki atau lari-lari kecil. Sejak subuh sampai waktu aku mau berangkat sekolah, barulah embah pulang.

Sesampainya di puncak aku terperangah. Pemandangannya begitu indah. Sekolah ini, berada di tengah-tengah puncak gunung yang masih dikelilingi hutan. Bangunannya meski dari kayu, masih berdiri kokoh. Kaca-kaca jendela, lumayan berdebu. Jika saja rumput ilalangnya tidak tinggi, aku pasti mengira sekolah ini masih digunakan.

“Kok gak kayak sekolah gk dipakai mbah?” tanyaku.

“Masih dipakai kok. Dipakai hantu,” kata mbahku.

Aku melirik. Embah-embah jaman dulu, suka sekali bercanda hantu-hantuan. Dari halaman sekolah, aku bisa melihat perkampungan di bagian bawah dan kendaraan yang lalu lalang. Udaranya sejuk sekali. Aku menikmati udara dan gemerisik dedaunan dengan menutup mata. Salah satu memori yang harus aku simpan hingga tua.

“Ayo lanjut, keburu magrib,” kata embah setelah beberapa saat memberikanku kesempatan menikmati suasana di sekolah ini.

Di bagian belakang sekolah, kami kembali menaiki bukit. Kali ini hutannya lebih lebat. Namun, ada jalan setapak yang tampaknya sering dilewati. Rasanya tak jauh berbeda dengan tangga seribu tadi. Hanya saja, udaranya lebih dingin. Aku yang dari kecil suka nonton film horor, tidak merasa ketakutan. Apa mungkin karena sejak kecil aku tinggal di rumah yang dikelilingi hutan? Jadi takut hantu tidak ada dalam kamusku.

Tidak berapa lama kemudian, aku sampai di belakang komplek perumahanku. “Wooooo, dekat rumah ternyata,” kataku heboh.

“Iya, tapi gk boleh ya ke sana sendirian. Mana tau nanti ada ular,” kata embah memperingatkan. Arena bermain sepedaku dan teman-teman memang di hutan ini. Tapi, tak pernah jauh. Karena pesan ibu, rumah harus tetap terlihat.

Begitu sampai rumah, aku langsung menceritakan ke ibu bapak, serunya perjalananku dan embah.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar