Jalan-jalan ke suatu daerah, tak lengkap rasanya kalau tidak menikmati kuliner lokal. Mungkin saja, kuliner daerah tersebut bisa kita temukan di daerah kita. Tapi, soal rasa belum tentu samakan? Makan makanan khas dearah menjadi sebuah kewajiban untuk suamiku. Jangan harap, kita bisa menikmati makanan yang biasa-biasa saja. Mau sih, asal kepepet. Ha-ha. Waktu belum punya anak, aku sih gak masalah. Tapi setelah punya anak, sering khawatir anak-anak tidak mau makan makana kha daerah Padahal, harusnya aku membiasakan mereka.
Saat ke Kalimantan Selatan, kami memiliki list kuliner lokal yang ingin dinikmati. Nasi kuning, soto banjar, soto banjar kuin, ketupat kandangan, dodol kandangan serta lontong orari. Di hari pertama, karena perjalanan masih lumayan jauh kami memilih lalapan sebagai menu makan sore. Iya, sore. Karena diperjalanan kami sudah membawa cukup banyak camilan, baru sore hari kami istirahat lebih lama sambil makan berat. Kami baru sampai di Martapura pukul 22.30 dan langsung menuju hotel. Pokoknya mau segera rebahan.
Di hari kedua, kami sudah menyiapkan diri untuk wisata religi, yaitu ke Makam K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang akrab disapa Guru Sekumpul. Selama pandemi, makam ini ditutup. Mengintip pun tak bisa. Maka, kami hanya mampir dan membeli beberapa oleh-oleh. Selanjutnya kami menuju Kalampaian Tengah adalah sebuah desa di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. Di Kalampayan, ada makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau lebih dikenal dengan Datu Kalampayan. Pemandangan yang sangat berbeda dibandingkan dengan sekumpul. Kami dibuat terkejut dengan tradisi yang ada. Padahal sebelumnya, kakak dan mertuanya sudah menceritakan pengalaman berkunjung mereka.
Setelah itu, barulah kami mencari kuliner lokal. Pilihannya adalah Soto Banjar. Menurut cerita kakak, harga makanannya cukup mahal. Sehingga kami sudah bersiap, supaya tidak kaget. Tapi ternyata, tidak. Untuk 3 porsi soto banjar, nasi campur, 6 kerupuk dan telur asin hanya dihargai 76 ribu. “Mungkin karena kita makannya di pelosok,” kata suami.
Malamnya, kami memutuskan makan lalapan di alun-alun Martapura. Tak hanya harga makanannya yang membuat kami kaget. Permainan anak-anak seperti odong-odong hanya 5 ribu per anak sepuasnya. Permainan memancing ikan juga dihargai sama. Dan permainan mewarnai, hanya 15 ribu. Wow buat kami yang terbiasa dengan harga dua kali lipatnya.
Keesokan harinya, kami mencari Soto Banjar Kuin. Pilihannya langsung makan di daerah kuinnya. Rasanya mirip dengan yang kami makan di Balikpapan. Rasanya jauh lebih enak dari pada soto banjar yang pertama kali kami cicipi.
Makanan terakhir yang kami nikmati adalah nasi kuning. Menu yang satu ini sungguh jauh dari ekspektasi kami. Karena di Balikpapan, biasanya banyak lauk pendamping. Berbeda disana, hanya lauk dan mie saja. Soal rasa, karena terbiasa dengan nasi kuning Balikpapan atau Samarinda, kami lebih memilih kota kami. He-he.
Yang kami lewatkan adalah ketupat kandangan dan lontong orari. Perut sudah tidak sanggup menerima makanan lagi. Mungkin, kalau kami memutuskan menambah satu hari lagi, kedua menu tersebut bisa kami cicipi.
Oh iya, tak ada satupun makanan tersebut yang mahal seperti cerita kakak. Mungkin karena di google aku mencari makanan “terdekat”. Sehingga, kami diarahkan yang terdekat. Bukan terenak atau teramai dikunjungi.
Kalau kamu pilih terdekat atau terenak?