“Bunda, di mana? Sudah mau jemput Revalina?” Tanya suara ustazah Rina di seberang telpon.
“Saya sudah di parkiran ustazah. Ini mau ke arah gerbang,” jawabku sambil berjalan cepat.
“Revalina mimisan bunda. Sebentar saya antar ke depan,” kata Ustazah Rina lagi.
DI depan gerbang sekolah, kulihat beberapa orang tua sekelas Cinta sudah menunggu. Salah satu sahabat SMAku, Merry, anaknya juga sekelas Cinta juga sedang menunggu. “Belum keluar ka,” kata Merry seakan membaca pikiranku.
“Katanya Cinta mimisan,” ceritaku tanpa ditanya.
“Sering?” tanyanya lagi.
“Gak sih! Malah seringan Rangga,” jawabku.
“Kenapa pula anak-anak kayak mamanya. Sering mimisan di sekolah. Tapi jadi gk panik ya?,” tanya Merry lagi.
“Haha. Iya eh,” jawabku lagi.
Saat sekolah dasar aku memang sering sekali mimisan. Apalagi kalau keasyikan main di bawah terik matahari. Udah deh, gk lama pasti mimisan. Saat SMA, seingatku frekuensinya sudah sangat jauh berkurang.
Tapi sebenarnya, aku juga pernah lumayan panik menghadapi anak mimisan. Saat Cinta masih berusia 2 tahunan.
Mbak Ika, segera menenangkanku. “Dia korek-korek hidung tuh. Tunggu aja, kalau gk berhenti juga dan darah segar yang mengalir baru bawa ke UGD,” kata mbakku. Bukan tanpa alasan, anak pertama mbak Ika juga sering mengalami hal serupa. Ia sampai konsultasi ke dokter anak. Jawaban dokter anak, tentu saja menenangkan.
Biar makin yakin, maka aku langsung bertanya ke kakak pertamaku yang seorang tenaga kesehatan. Aku langsung menceritakan kejadiannya. “Kalau darahnya gk berhenti. Dan frekuensinya sering, periksa aja. Selaput di hidung memang tipis. Apalagi anak-anak,” jelasnya. Jawaban kakakku, tentu saja melegakan. Tapi gara-gara hal itu, aku jadi rajin mencatat frekuensi mimisan anak-anak. Ternyata saat tidak dicatat, kok rasanya sering ya. Tapi setelah dicatat, alhamdulillah ada jeda. Kekhawatiran bisa diminimalisir.
Anak-anak usia 3-10 tahun rentan sekali mimisan. Ini karena pembuluh darah mereka yang masih tipis dan rapuh. Makanya aktivitas yang berlebihan, juga bisa menjadi pencetus. Cuaca ekstrem atau kebiasaan mengorek hidung sering jadi penyebab utama.
Namun, yang perlu diwaspadai adalah saat mimisan berlangsung lebih dari 30 menit, kulit menjadi pucat, mimisan disertai pendarahan di bagian tubuh lain, setelah mengalami cedera, kesulitan bernafas, detak jantung tidak beraturan, volume darah yang keluar sangat banyak, dan disertai demam dan ruam.