Bukan Menunda, Tapi Menyiapkan Diri

Kadang yang kelihatan menunda, sebenarnya cuma lagi nyiapin diri. Tentang perempuan, pilihan, dan waktu yang nggak harus sama — karena setiap orang punya jalannya sendiri untuk bahagia. 🌷

“Bu, lihat deh. Ini anak Balikpapan yang pernah Riska ceritain. Keren banget, sekarang dia tinggal di Jepang,” kataku sambil menunjukkan akun Instagram seorang model.

“Hebat ya. Sudah nikah?” tanya ibuku.

“Hmm, gak tahu. Tapi kalau dilihat dari postingan Instagram-nya sih belum,” jawabku.

“Kenapa ya, perempuan-perempuan sekarang lebih banyak yang menunda menikah?” tanya ibuku lagi.

Julid? Tidak! Ibuku sama sekali tidak sedang julid. Lagipula, aku sendiri termasuk yang menikah terlambat — meskipun waktu itu alasannya karena harus mengutamakan kedua orang tuaku.

Pertanyaan itu sudah lama bikin beliau penasaran. Apalagi beberapa keponakannya kini sudah berusia di atas 25 tahun, tapi belum juga menunjukkan tanda-tanda akan menikah. Tentu saja ibuku tak berani bertanya langsung — takut malah bikin para keponakannya kesal. Ha-ha.

“Selain karena Allah memang sudah mengatur waktunya, banyak faktor lain pasti ya, Bu,” jelasku.

“Zaman Ibu dulu mungkin menikah di usia tertentu itu wajib. Tapi sekarang, anak-anak sudah punya lebih banyak ruang untuk belajar dan mengejar ilmu. Dulu perempuan nggak sebebas sekarang dalam menuntut ilmu. Jadi selama masih bisa belajar dan ada kesempatannya, ya wajar kalau mereka memilih itu dulu.”

Aku menatap Ibu sebentar, memastikan beliau menyimak.

Bekerja setelah menikah memang bisa, tapi pasti butuh pertimbangan dan diskusi dengan pasangan. Nah, satu hal lagi — dulu laki-laki yang patriarki itu hal yang biasa. Sekarang sudah banyak yang sadar kalau laki-laki dan perempuan bisa saling melengkapi dalam rumah tangga. Gak mungkin kan kita cuma berharap pasangan berubah. Makanya kalau perempuan sekarang sudah bisa menentukan standar dan rencana pernikahan sendiri, itu justru bagus banget.”

“Bukan karena sudah bisa cari uang, kan?” tanya Ibu lagi.

Aku tertawa kecil.

“Ya bukanlah, Bu. Cukup doakan aja — semoga nanti menikah dengan pasangan yang tepat. Bahagia dunia akhirat. Bukan cuma yang penting nikah.”

Aku cuma tersenyum kecil. Kadang yang terlihat “menunda” itu sebenarnya sedang tumbuh. Karena di antara belajar, bekerja, dan berproses, perempuan juga sedang menyiapkan ruang terbaik dalam hatinya untuk seseorang yang tepat — di waktu yang pas. 🌷

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar