Sebagai perempuan yang sering mengaku dirinya introvert, aku cukup sering berhadapan dengan aktivitas yang membuat napas harus ditarik lebih dalam dari biasanya.
Beberapa waktu lalu, aku mengiklankan sebuah kegiatan komunitas melalui WhatsApp Business milikku. Awalnya kukira semua akan berjalan biasa saja. Sampai aku baru sadar—terlambat—bahwa iklan itu ternyata terhubung dengan akun Facebook pribadiku.
Dan begitulah.
Nomor pribadiku mulai ramai.

melainkan percakapan yang tak ingin dimulai.
Dari banyak calon peserta yang antusias, selalu ada satu-dua orang yang entah kenapa ikut menghubungi hanya karena bisa. Telepon masuk. Berkali-kali.
“De, ada telepon tuh. Kok dibiarin?” kata suami dari seberang ruangan.
“Gak kenal,” jawabku singkat, sambil tetap menatap layar.
“Ya kenapa nggak diangkat? Kan nomornya kepake buat iklan,” tanyanya lagi.
“Kan ada fitur chat, sayang. Ya chat aja,” jawabku, sambil tersenyum kecil.
Suami hanya menggeleng-geleng kepala. Dia tahu betul, sejak dulu aku memang seperti ini. Hanya keluarga dan narasumber wawancara yang bisa membuatku benar-benar mengangkat panggilan telepon.
Itu juga sebabnya coffee shop yang menyediakan layanan pemesanan lewat aplikasi selalu langsung masuk daftar favoritku. Di dunia yang serba digital seperti sekarang, memesan tanpa perlu banyak bicara rasanya bukan lagi kemewahan—tapi kebutuhan.
Sayangnya, tidak semua tempat memahami itu.
Ada satu coffee shop dekat tempat les anak-anak. Mereka punya aplikasi pemesanan online, tapi entah kenapa setiap kali aku memesan lewat sana, waktu tunggunya justru lebih lama. Nomor antrean sering tidak dipanggil. Staf terlihat sibuk, tapi tidak benar-benar memperhatikan.
Beberapa hari lalu, aku memesan dua minuman. Dari jauh, kulihat hanya satu yang disiapkan. Karena kupikir mungkin yang satu menyusul, aku tidak langsung ke kasir. Ternyata tidak.
Americano pesananku dibiarkan begitu saja di pinggir meja—dingin, sendiri, dan nyaris terlupakan.
Kesal? Tentu saja.
Padahal, sudah dua kali aku berjanji pada diri sendiri untuk tidak membeli kopi di sana lagi. Tapi kadang pilihan itu tidak selalu tersedia. Di sekitar tempat les, hanya kafe itu yang paling dekat.
Lalu aku berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri.
Ini sebenarnya cerita tentang kopi atau tentang aku yang diam-diam selalu berusaha menghindari terlalu banyak interaksi dengan manusia?
Mungkin keduanya.
Dan di ruang sunyi kecil di dalam diri, aku menyadari satu hal:
kadang bukan kopinya yang membuat lelah, melainkan keharusan untuk terus menjelaskan diri di dunia yang terlalu ramai.