“Sayang, kakak bawa kopi t**u,” kata suami sambil membuka pintu kamar.
Ia baru pulang dari Surabaya dan kali ini buah tangannya bukan oleh-oleh khas kota, melainkan sebotol kopi susu. Ha-ha.
Bukan karena istrinya penggemar kopi susu gula aren. Justru sebaliknya. Kopi itu titipan teman-teman kantor, dan entah bagaimana, aku ikut kebagian.
“Udah di dalam kulkas,” tambahnya.
“Oh ya? T**u apa?” tanyaku.
Di kotaku, merek kopi itu belum punya gerai. Aku hanya sering melihatnya lalu-lalang di media sosial—ditenteng orang-orang yang pulang dinas, dititipkan dengan penuh harap pada keluarga yang sedang bepergian.

“Duh, apa ya tadi namanya. Pokoknya kopi susu gula aren,” jawab suami.
“Meski pakai gula aren, menurut kakak nggak manis kok. Kopinya lebih berasa. Tapi bukan tipe kopi kesukaan kakak,” lanjutnya, seolah sudah hafal seleraku.
Aku mengambil gelas dan mengisinya dengan es batu. Banyak. Segambreng.
Soal kopi, aku dan suami memang berbeda aliran.
Ia suka kopi susu gula aren, dingin, tapi cukup dua batu es saja.
Aku sebaliknya—kopi susu dengan es berlimpah, sedikit creamy, tapi jangan terlalu. Dan yang paling penting: tanpa tambahan pemanis. Tidak gula cair, tidak sirup, tidak juga gula aren.
Awalnya sederhana. Aku anak dari seorang penderita diabetes. Mengurangi gula adalah keharusan. Lama-lama, lidahku justru menolak kopi manis.
Meski, ya… urusan kue manis aku masih suka. toyor kepala sendiri.
Saat kopi susu t**u itu kutuangkan ke gelas, aroma kopinya langsung tercium. Strong. Tegas.
Aku menyeruput sedikit, lalu diam. Memberi jeda. Memberi ruang.
Dan aku tahu jawabannya.
Maaf ya. Bukan tipe aku. Hahaha.
Bukan berarti tidak enak. Sama sekali bukan.
Ini hanya soal selera.
Rasanya mengingatkanku pada kopi mantan black aren—tapi versi ini lebih bold, lebih menonjolkan kopi. Buat sebagian orang, ini justru keunggulan.
Hari itu, adik iparku juga berkunjung. Kami bertiga sama-sama pencinta kopi. Yang satu sudah pernah mencoba t**u, yang bungsu belum.
Begitu mencicipi, reaksinya sama denganku.
“Kayak mantan black aren ya, Kak.”
Kami tertawa.
Dan di situlah aku kembali diingatkan: kopi memang urusan lidah. Banyak yang menyukainya, bukan berarti semua harus memaksakan diri mencinta.
Aku sudah beberapa kali mencoba kopi susu gula aren versi rumahan, bahkan sering membandingkannya dengan t**u. Tidak ada yang benar-benar cocok. Bukan karena rasanya buruk. Tapi karena memang bukan seleraku.
Dan seleraku, tentu saja, tidak wajib disukai semua orang.
Mungkin hidup juga begitu.
Tidak semua yang populer harus kita gemari.
Tidak semua yang ramai harus kita ikuti.
Kadang, cukup tahu: ini bukan punyaku—dan itu tidak apa-apa.
Aku menutup gelas kopiku, membiarkan es mencair perlahan. Di ruang kecil ini, aku belajar lagi satu hal sederhana: mengenali selera diri sendiri adalah bentuk kecil dari kejujuran. Dan kejujuran, selalu layak dirayakan—meski hanya lewat segelas kopi yang tak jadi favorit. ☕🤍