Ada emosi yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tinggal diam, menunggu diberi ruang.
Bukan untuk disingkirkan, bukan untuk dilawan — hanya untuk disadari, pelan-pelan.
Tulisan ini adalah bagian dari upaya kecil itu:
belajar mendengar emosi,
belajar berdamai dengan inner child yang belum selesai,
tanpa terburu-buru ingin sembuh.
—
Menangislah. Tidak apa-apa.
Tidak perlu malu. Tidak perlu sungkan.
Kalimat itu sering ia ucapkan setiap kali anak-anaknya menangis.
Bukan untuk menghentikan air mata, melainkan untuk memberi izin.
Izin merasa sedih. Izin lelah. Izin rapuh.
“Sedih? Karena apa?” tanyanya pelan.
Ia ingin anak-anak paham bahwa menangis bukan tanda kelemahan. Bahwa sedih adalah emosi yang wajar. Yang perlu disadari, diterima, lalu dipeluk. Terdengar sederhana. Bahkan seharusnya mudah dipahami.
Nyatanya, tidak selalu begitu.
Terutama ketika dua kondisi saling bertabrakan di dalam diri:
antara kesadaran bahwa sedih itu normal,
dan kepala yang terus berisik—dipenuhi suara-suara lama, luka lama, inner child yang belum benar-benar selesai.
Dari luar, ia tampak seperti ibu yang penuh cinta. Hangat. Hadir.
Namun di dalam kepalanya, kadang suasananya lebih ramai dari pasar.
Pikiran saling berteriak. Kenangan saling mendahului.
Kata-kata positif terdengar jauh, seperti gema dari ruang yang sulit dijangkau.
Kesadaran itu tipis. Rapuh.
Kadang hampir tak mungkin diraih.
Tapi ia memilih untuk tidak menyerah.
Sesekali ia mencoba menelusuri kembali:
trauma apa yang masih tinggal?
Apakah karena tangki cinta di masa lalu yang tak pernah benar-benar penuh?
Ia belajar menerima satu hal yang paling sulit:
masa lalu tidak bisa diulang.
Tidak bisa diperbaiki dengan cara yang sama.
Yang bisa ia lakukan hanya memeluk dirinya yang dulu.
Menyampaikan hal-hal yang dulu tak pernah ia dengar:
bahwa ia tidak sendirian.
bahwa ia tidak perlu takut untuk bercerita.
bahwa bersedih itu tidak mengapa.
Rasa kesepian, rupanya, bukan milik satu orang saja.
Dan mimpi-mimpi yang dulu tak pernah terucap—
mungkin suatu hari akan menemukan maknanya sendiri.
Mungkin ia memang belum sepenuhnya terbiasa
menjadi pusat semesta bagi anak-anak.
Ia yang dulu lebih sering menepi,
menyendiri,
dan akrab dengan sunyi.
Kini, ia belajar berdiri di tengah—
tetap membawa sepinya,
sambil perlahan-lahan mengajarkan:
bahwa semua perasaan layak diberi ruang.
Tidak semua emosi harus selesai hari ini.
Tidak semua luka perlu langsung diberi nama.
Kadang, cukup dengan mengizinkan diri merasa—
menangis tanpa alasan yang rapi,
bersedih tanpa harus menjelaskan—
itu sudah sebuah langkah pulang.
Dan jika suatu hari emosi itu datang lagi,
semoga kita tidak lagi menolaknya.
Semoga kita tahu:
ia hanya ingin didengar. 🌿
Bagian dari Seri: Emosi yang Belum Selesai