Menyeimbangkan Irama Pagi: Tentang Anak, Sekolah, dan Ekspektasi Ibu

Refleksi seorang ibu tentang pagi yang tergesa, ritme anak yang berbeda, dan belajar menurunkan ekspektasi agar hari dimulai dengan lebih sadar dan hangat.

“Ayooo, 10 menit lagi!”

ucapku dengan nada agak tinggi.

Setiap pagi, rasanya seperti sedang berada di camp militer. Semua harus bergerak cepat. Tidak boleh melambat. Tidak boleh lengah. Takut terlambat ke sekolah.

Padahal, aku sendiri tidak pernah ikut camp militer. Bahkan tidak benar-benar paham bagaimana rasanya. Semua bayanganku cuma berasal dari film-film saja.

“Ayo dong. Mama nggak mau balapan di jalan,” tambahku lagi.

Lucunya, aku tidak pernah berkendara lebih dari 40 km per jam. Jalan dari rumah ke sekolah pun padat. Dengan nyali sebesar kacang kenari, rasanya mustahil bagiku untuk ngebut-ngebutan. Tapi tetap saja, kata balapan itu selalu keluar hampir setiap pagi.

Jam berdetak, dan aku belajar tidak ikut berlari.

Suatu hari, aku bertanya pada ibu.

“Bu, Riska dulu waktu sekolah juga gini ya? Geraknya lambat?”

Ibu terdiam sebentar, lalu menjawab pelan,

“Hmmm, nggak sih. Soalnya rumah kita dekat banget sama suling Pertamina. Jam enam kamu pasti kebangun.”

Mungkin memang situasinya berbeda.

Saat kecil, hanya ada aku dan bapak di rumah. Kedua kakakku tinggal bersama mbah dan nenek. Secara otomatis, perhatian ibu lebih terfokus padaku. Urusan antar-jemput sekolah pun sepenuhnya menjadi tugas bapak. Tentu saja, kondisinya tak bisa disamakan dengan anak-anakku sekarang.

Aku mencoba mengingat-ingat masa sekolahku sendiri.

Saat SD, aku tak punya ingatan soal pagi yang tergesa seperti ini. Tapi saat SMA, ada satu hal yang masih kuingat dengan jelas.

Sahabatku sering menggerutu,

“Kamu bangun jam berapa sih? Kok baru keluar!”

Saat itu, aku selalu pergi ke sekolah menumpang motornya. Kami satu sekolah, satu kelas, dan rumah kami hanya dipisahkan lapangan basket. Aku merasa sudah bangun sepagi mungkin. Jam enam, ketika suling Pertamina berbunyi, aku sudah siap memakai sepatu.

Sementara sahabatku?

Di jam yang sama, ia sudah memanaskan motor, sudah sarapan, dan sudah benar-benar siap berangkat.

Di situ aku mulai paham.

Ternyata sejak dulu, ritmeku memang berbeda.

Hingga suatu pagi, aku akhirnya menyadari satu hal penting:

aku tidak bisa memaksa anak-anak bergerak secepat diriku.

Aku sudah hidup selama 37 tahun. Aku sudah hafal ritme sekolah, jam, dan konsekuensinya. Sementara mereka masih belajar mengenali tubuh dan waktunya sendiri. Kami jelas tidak berada di titik yang sama.

Yang bisa kulakukan bukan memaksa mereka berlari, melainkan memberi waktu lebih luas. Membiarkan pagi berjalan sedikit lebih pelan. Membangunkan mereka lebih awal agar bisa bergerak dengan lebih mindful. Dan yang paling penting: menurunkan ekspektasiku.

Mereka bukan aku.

Aku bukan mereka.

Yang bisa kami lakukan hanyalah menyeimbangkan irama. Supaya pagi tidak selalu diisi kejar-kejaran. Supaya suara yang terdengar bukan hanya perintah, tapi juga pengertian.

Eits, tentu saja semua ini hanya bisa dilakukan saat aku sedang dalam mode penuh kesadaran.

Kalau sedang break out, ya… mode “ngebut” itu biasanya kembali aktif.

Jadi, kalau ditanya semuanya kembali ke siapa?

Iya. Ke aku lagi.

Hahaha.

avatar Tidak diketahui

Penulis: Riska Fikriana Moerad

Ibu rumah tangga dan bloger di balik Ruang Cerita. Menulis tentang keluarga, literasi, dan hal-hal sederhana yang sering luput diperhatikan. Percaya bahwa cerita yang dibaca dan ditulis pelan-pelan bisa menjadi ruang untuk bernapas dan pulang.

Tinggalkan komentar