Saat Anak-Anak Berdamai

Refleksi seorang ibu tentang konflik kecil pertemanan anak, label “cengeng”, dan belajar mempercayai cara anak-anak berdamai dengan perasaannya.

Di dunia anak-anak, kata bestie bisa lahir pagi ini, lalu sore harinya terlupa karena sudah asyik bermain lagi. Yang sering kali tertinggal justru bukan marahnya, melainkan cerita yang berlapis-lapis di kepala orang dewasa.

Hari itu, aku menyadari kembali satu hal: anak-anak punya caranya sendiri untuk berdamai— dan tugas kita, orang tua, adalah tidak terburu-buru ikut ribut.

“Mama Cinta, mau telepon bisa nggak?”

“Mbak, aku lagi batuk. Jadi nggak bisa telepon. Chat aja nggak apa-apa ya?” jawabku.

“Enaknya sih lewat telepon, Mbak. Tapi nggak apa-apa,” balas Mama Nia.

Marahan kemudian berteman. Salah satu ritme dalam hubungan pertemanan di dunia anak-anak. Kita oeang dewasa, harus bijaksana menyikapiya.
Lanjutkan membaca “Saat Anak-Anak Berdamai”